Eceng Gondok

Bagus Untuk Pupuk Sekaligus Media Tanam
Eceng gondok yang selama ini kita kenal dengan tanaman parasit ternyata tak selalu membawa sial. Sebab dengan sedikit kreatifitas, tanaman yang sering tumbuh liar di perairan ini bisa diubah jadi hal positif, bahkan baik untuk jenis tanaman hias lain. Tak percaya?
Eceng gondok, kelipuk, kembang bopong atau weweyan adalah tumbuhan air yang hidup secara mengapung, tumbuh berumpun, dan tingginya 4-8 cm. Tanaman ini biasanya tak berbatang dan berdaun tunggal, bertangkai, tersusun berjejal di atas akar (rouset akar), dan berakar serabut. Tak hanya mereka yang hidup di pedesaan, tanaman ini juga sering dijumpai di kawasan perkotaan padat penduduk, hidup liar di sungai atau empang.
Percaya atau tidak, hanya karena tanaman ini – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus menambah dana pembiayaan di setiap tahunnya. Sebagai kota yang dialiri oleh beberapa sungai besar, eceng gondok sering dianggap sebagai biang penyebab banjir di Surabaya, karena kebiasaannya tumbuh liar di sungai, sehingga menutupi aliran air.
Namun baru-baru ini, mungkin biaya tersebut bisa dihemat. Sebab, dari kreatifitas warganya – eceng gondok bisa jadi barang yang layak jual. Memanfaatkan serat tanaman yang lumayan kuat, tanaman parasit yang sering menggangu lalu lintas sungai ini diubah jadi pernak-pernik, seperti dompet dan tas.
Bak dua sisi mata uang yang berlainan – karena sifatnya, eceng gondok sering dicap positif dan negatif. Perkembangan dan perbanyakannya yang cepat (dalam 2-4 hari), membuat tanaman ini sering disebut pengganggu aliran, tapi hal ini sekaligus alasan mengapa orang susah untuk membudidayakannya, karena stok yang ada sangat berlimpah.
Namun terlepas dari permasalahan dan solusi yang terjadi di Surabaya, jauh di pulau seberang – Kalimantan, eceng gondok ternyata juga dikenal sebagai tanaman yang bisa dimanfaatkan. Kali ini bukan tas, dompet, dan tikar sebagai produk jadi tanaman yang biasa dikenal dengan nama Ilung ini, melainkan digunakan sebagai media tanaman yang potensial dan memiliki keistimewaan tertentu.
Sesuai namanya, media ini biasa disebut orang sebagai pupuk Ilung, meski fungsi utamanya tak ubahnya sebagai media tanam. Mungkin memiliki permasalahan sama, akhirnya salah satu kelompok tani di daerah ini memiliki ide untuk memanfaatkan eceng gondok. Setelah beberapa proses dilalui, maka ditemukanlah media tanam yang konon cocok untuk aglaonema, anthurium, dan tanaman lain yang tak terlalu suka air.
Adalah M Zainudin – Petani dan Pebisnis Tanaman Hias di Banjarbaru Kalimantan Selatan (Kalsel). Ia mengaku, telah menggunakan media ini untuk mencetak varian berkualitas. Bahkan, karena komposisi bahan inilah yang membuat beberapa koleksi aglaonema lokal dan impornya memenangkan salah satu gelar teratas dalam kontes tanaman di Banjarbaru belum lama ini. Uniknya, kontes ini dinilai langsung oleh bapak Aglaonema Indonesia – Greg Hambali. [adi]
Penyerap Air, Perumpun Tanaman
Zainudin mengatakan, sebagian besar masalah yang sering dihadapi oleh pemilik koleksi tanaman hias adalah batang dan akar yang busuk. Kesalahan penggunaan media tanam yang didukung oleh musim hujan, membuat hal ini sering dan wajar terjadi. Solusinya?
“Penggunaan media yang memiliki sifat penyerap air yang baik, seperti cocopiet, sering disebut sebagai solusi tepat. Namun jika susah atau tidak cocok dengan media ini, ada baiknya mencoba alternatif media lain yang memiliki sifat sama, yaitu eceng gondok,” ujar Zainudin.
Dalam pemanfaatannya, eceng gondok sering diiris-iris jadi banyak bagian. Untuk menghilangkan bahan yang tidak diinginkan, seperti bakteri dan jamur, sebaiknya bahan difermentasi dengan cara merebusnya. Sebelum digunakan, biasanya bagian ini dijemur sampai warna hijau berubah jadi coklat gelap dan menghitam (sampai kering). Setelah itu, bahan baru bisa digunakan.
Namun jika Anda tak memiliki kesempatan untuk membuatnya, jangan khawatir. Sebab, seperti halnya media tanam yang lain, media ini sangat sering kita jumpai di pasaran, terutama di propinsi Kalsel dan sekitarnya.
“Biasa bahan ini dijual dengan satuan plastik yang memiliki berat 2 kg. Di pasaran Kalsel, media ini dijual dengan harga Rp 5000,” imbuh Udin, panggilan akrab Zainudin.
Sejauh mana aplikasi penggunaan bahan ini, biasanya sering dipadu dengan bahan yang lain, seperti pakis dan pupuk kandang. Komposisi yang sering digunakan adalah 3 untuk sekam, 1 untuk pupuk kandang, dan 1 untuk eceng gondok.

“Dalam pemanfaatan eceng gondok, biasanya diganti mengikuti proses repotting setelah satu tahun berjalan. Hal ini cukup membatu kita dalam menjaga kondisi media tanam yang kaya nutrisi sekaligus bebas banjir,” ungkap Udin.
Ayah satu orang putri ini pun menambahkan, banyak manfaat yang dia dapat dari penggunaan media tanam ini. Selain terhindar dari busuk batang dan akar, aglaonema lokal yang jadi unggulannya, jadi sangat rumpun dan cantik.
“Bebeberapa tahun yang lalu saya membeli aglaonema dengan harga Rp 100 ribu, dengan beberapa daun saja. Setelah berjalan kurang satu tahun lebih, daun yang muncul sangat banyak dan bermotif serempak dengan warna yang keluar. Dan, koleksi ini pun akhirnya ditawar dengan harga Rp 1 juta,” aku Udin.
Rumpunnya tanaman, lanjut Udin, bisa jadi disebabkan oleh media tanam ini, sifat manajemen pengaturan, dan penyimpanan air yang baik, membuat nutrisi yang dibutuhkan pun selalu terpenuhi dengan baik. Tak hanya diaplikasikan pada jenis lokal, media ini pun juga sempat digunakan untuk koleksi aglaonema impor milik Udin. Hasilnya, jenis ruby yang dimilikinya pun tak kalah cantik dan rumpun. Dan jangan heran, kedua koeksinya itu sering menyabet beberapa gelar dalam kesempatan kontes yang diadakan.
Tertarik dan ingin mencobanya? Tak ada salahnya Anda mencari media tanam ini di beberapa toko bunga yang ada di sekitar Anda. Jika Anda kurang beruntung, bisa mencoba membuatnya sendiri. Siapa tahu, selain bermanfaat bagi tanaman Anda sendiri, metode ini bisa mempertebal kantong Anda. [adi]

About these ads

2 thoughts on “Eceng Gondok”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s