<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ragam Informasi Tanaman Hias &#187; Aksesori</title>
	<atom:link href="http://tabloidgallery.wordpress.com/category/aksesori/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tabloidgallery.wordpress.com</link>
	<description>Hijau itu Indah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Dec 2009 13:00:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tabloidgallery.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2280471859d4957b85910897f5f08f3e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ragam Informasi Tanaman Hias &#187; Aksesori</title>
		<link>http://tabloidgallery.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tabloidgallery.wordpress.com/osd.xml" title="Ragam Informasi Tanaman Hias" />
		<item>
		<title>Alternatif Pupuk Organik Instan</title>
		<link>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/07/04/alternatif-pupuk-organik-instan/</link>
		<comments>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/07/04/alternatif-pupuk-organik-instan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 09:49:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabloidgallery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aksesori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/07/04/alternatif-pupuk-organik-instan/</guid>
		<description><![CDATA[Kualitas Optimal, Ramah Lingkungan
Banyak alternatif menuju lingkungan sehat. Meski keinginan hidup jauh dari pencemaran, peluangnya kecil. Belum lagi, redusi bahan kimia yang kerap akrab di sekitar kita. Pertanian tradisional pun jadi sasaran empuk terjadinya pencemaran lingkungan, dimana kebutuhan untuk hasil pertanian lebih didominasi produk kimia. Kini, saatnya kembali ke alam.
Modernitas rupanya menggerus alam secara perlahan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabloidgallery.wordpress.com&blog=1429710&post=222&subd=tabloidgallery&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Kualitas Optimal, Ramah Lingkungan</strong></p>
<p>Banyak alternatif menuju lingkungan sehat. Meski keinginan hidup jauh dari pencemaran, peluangnya kecil. Belum lagi, redusi bahan kimia yang kerap akrab di sekitar kita. Pertanian tradisional pun jadi sasaran empuk terjadinya pencemaran lingkungan, dimana kebutuhan untuk hasil pertanian lebih didominasi produk kimia. Kini, saatnya kembali ke alam.<br />
Modernitas rupanya menggerus alam secara perlahan. Sama halnya dengan dunia pertanian yang telah menerapkan teknik modern sebagai program kerjanya. Misalnya, penggunaan pupuk ataupun pestisida kimia, dimana hasilnya pun memang cukup membanggakan. Terlebih, dengan waktu yang relatif cepat.<br />
Namun ada yang harus ditanggung dari penggunaan kebutuhan tanaman berbahan kimia. Dampak terbesar bisa terjadinya pencemaran lingkungan di semua aspek. Dalam hal ini, manusia akan menuai dampak yang besar. Sebab, kita merupakan pengkonsumsi terbesar produk hasil pertanian – dimana tanpa disadari – hasil pertanian yang kita makan sudah tercemar. </p>
<blockquote><p>“Sebenarnya mudah saja untuk mengatasi fenomena semacam ini. Selama kita masih menghargai alam dan lingkungan sekitar. Itu saja kok kuncinya,” kata Penangkar Hortikultura di Surabaya, Dani Bambang Suryo. </p></blockquote>
<p><span id="more-222"></span></p>
<p><strong>Manfaatkan Limbah Rumah Tangga</strong><br />
Kepedulian terhadap alam bisa dimulai dari lingkungan sekitar, yaitu dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada dan tidak terpakai. Bahkan sampah rumah tangga pun berpeluang untuk dijadikan bahan dasar pupuk organik. <em><strong>Rontokan daun di halaman rumah, rendaman air cucian beras, dan air cucian darah (ikan, sapi, kambing, dan ayam), merupakan bahan-bahan yang kerap digunakan. </strong></em><br />
Caranya, mudah dilakukan. Hanya dengan menyiramkan ke media tanam secara rutin, satu kali dalam seminggu. Bagi Anda yang memiliki kebun dengan ukuran lahan yang tak terlalu luas, alternatif ini bisa diterapkan. Teknik ini sebenarnya sudah lama diterapkan orang-orang dulu. Sebab jaman sudah makin modern, perlahan cara ini ditinggalkan dan orang lebih memilih cara modern. Selain instan, hasilnya pun bisa dinikmati dalam waktu relatif singkat. Namun tak ada salahnya, menerapkan satu hal bermanfaat tanpa merusak lingkungan sekitar?<br />
Jangan anggap remeh sampah yang ada di sekitar Anda. Siapa mengira, di balik sisa-sisa sampah ini tersimpan begitu banyak manfaat yang bisa diaplikasikan ke lingkungan. Selama ini, mungkin banyak yang beranggapan kalau sampah hanya sisa produksi yang tak memiliki fungsi apa-apa.<br />
Mungkin Anda salah satunya? Boleh percaya atau tidak, ada rahasia terbesar di balik sisa-sisa sampah rumah Anda yang bisa dimanfaatkan untuk proses keberlangsungan pertumbuhan tanaman di lahan rumah. Hal ini bisa dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di Institut Pertanian Jogjakarta. </p>
<blockquote><p>Di sini disebutkan, kalau lebih dari 50% tanaman (khususnya tanaman buah dan sayur) yang disiram menggunakan cucian darah hewan (ikan, sapi, ayam, dan kambing), cenderung tumbuh lebih optimal. Dalam salah satu penelitian menyebutkan, darah kambing yang disiramkan pada tanaman tomat dengan frekuensi satu kali dalam seminggu, bisa meningkatkan hasil sebesar 82 %. </p></blockquote>
<p>“Tanaman anggrek yang disiram dengan air cucian darah ikan secara rutin, satu kali dalam seminggu pun bisa cepat berbunga,” imbuh Penangkar Anggrek di Malang, Raphael.<br />
Hal ini juga terjadi pada air rendaman cucian beras dan sampah rontokan daun. Sebaiknya, buang air cucian beras ke media tumbuh tanaman. Sebab, zat yang terkandung di dalamnya berpotensi menyuburkan tanaman yang ada di sekitar. Itu sama halnya dengan sampah rontokan daun, sebaiknya untuk tidak membuang atau membakarnya.<br />
Cukup dengan merendamnya dengan air bersih ke dalam wadah, selama kurang lebih satu hari. Barulah, keesokan harinya siramkan ke halaman atau kebun yang ditumbuhi tanaman. Alternatif lainnya, bisa mengaplikasikannya dengan cara memendam kotoran sampah (rontokan daun) dalam tanah sebagai proses fermentasi, selama kurang lebih satu minggu. Kemudian bisa segera diterapkan pada tanaman.<br />
Alasan tidak langsung digunakan, karena kondisi tanaman tak tahan dengan proses fermentasi pupuk, sehingga waktu satu minggu merupakan fase untuk menetralisir unsur yang ada dalam media tanam. Optimalnya pertumbuhan tanaman yang menggunakan sisa-sisa bahan produksi rumah tangga ini, lantaran disebabkan oleh beberapa hal, yaitu adanya kandungan unsur Nitrogen (N), Phospor (P), dan Kalium (K) tinggi yang bisa memenuhi kebutuhan tanaman. Selain pertumbuhan yang prima, alternatif membuat pupuk organik dari bahan sisa produksi rumah tangga jadi alternatif aman lingkungan. [santi]</p>
<p><strong>Optimalkan Kualitas Hasil Pertanian</strong><br />
Pada dasarnya, kompos (pupuk organik) bisa meningkatkan kesuburan kimia dan fisik tanah yang selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Pada tanaman hortikultura (buah-buahan, tanaman hias, dan sayuran) atau tanaman yang sifatnya perishable (tak tahan lama) ini, hampir tidak mungkin ditanam tanpa kompos.<br />
Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos terbukti bisa meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, tanaman akan tumbuh lebih baik dengan kompos. Selain itu, kompos membuat rasa buah-buahan dan sayuran lebih enak, lebih harum, dan lebih memiliki cita rasa khas.<br />
Hal inilah yang mendorong perkembangan tanaman organik – selain lebih sehat dan aman – karena tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Selain itu, air lindi yang dianggap mencemarkan sumur di lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa dijadikan pupuk cair atau diolah terlebih dulu sebelum dialirkan ke saluran umum.<br />
Meski hasil yang didapat nanti tak bisa dinikmati dalam waktu singkat, tapi penerapan pupuk berbahan organik ini memiliki jangka panjang yang memuaskan. Selain lingkungan tetap dalam keadaan lestari, masyarakat akan sehat dan pendapatan petani bisa meningkat. [santi]</p>
<p><strong>Kandungan unsur N, P, dan K dalam Darah Binatang</strong><br />
Unsur (mg/100g)	Sapi		Kambing		Ayam<br />
Nitrogen (N)	0,0084		0,0787		0,0058<br />
Phospor (P)	0,1000		0,7000		0,2000<br />
Kalium (K)	0,0098		0,1400		0,0145</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tabloidgallery.wordpress.com/222/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tabloidgallery.wordpress.com/222/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabloidgallery.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabloidgallery.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabloidgallery.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabloidgallery.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabloidgallery.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabloidgallery.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabloidgallery.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabloidgallery.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabloidgallery.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabloidgallery.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabloidgallery.wordpress.com&blog=1429710&post=222&subd=tabloidgallery&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/07/04/alternatif-pupuk-organik-instan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/04966d50be4131aadd01fa574cb4c0c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tabloidgallery</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pestisida Alam</title>
		<link>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/31/pestisida-alam/</link>
		<comments>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/31/pestisida-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 10:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabloidgallery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aksesori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/31/pestisida-alam/</guid>
		<description><![CDATA[Usir Pengganggu dengan Bahan Alam
Tanaman itu ibarat manusia. Ia bisa hidup sehat alias subur, bisa juga hidup sakit akibat terserang penyakit. Banyak penyakit pada tanaman. Salah satunya adalah ulat. Si ulat merupakan bagian dari biang keladi pengrusak tanaman. Bagaimana menghindarinya?
Kehadiran si ulat dan teman-temannya memang membawa kerisauan sendiri bagi pemilik tanaman jenis hortikultura. Mahkluk kecil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabloidgallery.wordpress.com&blog=1429710&post=156&subd=tabloidgallery&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Usir Pengganggu dengan Bahan Alam</b><br />
Tanaman itu ibarat manusia. Ia bisa hidup sehat alias subur, bisa juga hidup sakit akibat terserang penyakit. Banyak penyakit pada tanaman. Salah satunya adalah ulat. Si ulat merupakan bagian dari biang keladi pengrusak tanaman. Bagaimana menghindarinya?<br />
Kehadiran si ulat dan teman-temannya memang membawa kerisauan sendiri bagi pemilik tanaman jenis hortikultura. Mahkluk kecil pengacau ini bisa jadi merusak tampilan dan kesehatan tanaman, sehingga tak sedikit yang menggunakan alternatif semprotan racun pestisida untuk melindungi tanaman dari hama, penyakit, dan binatang.<br />
Saat ini, penggunaan pestisida berbahan dasar zat kimia sudah umum diterapkan. Memakai bahan kimia itu memang sangat ampuh untuk membasmi semua berbagai jenis hama. Namun bisa membahayakan, apalagi dengan takaran yang berlebihan. Kesuburan tanah jadi berkurang, serta pestisida kimia berbentuk cair itu bisa meresap di permukaan daun atau buah.<br />
Bahkan serangga-serangga pemakan ulat dan telur, ikut pula binasa. Untuk mencegah pengaruh itu, sebaiknya menggunakan bahan alami yang tidak berbahaya. Bentuk ini adalah pemberantasan hama yang ramah lingkungan.<br />
“Pestisida alami itu adalah bahan-bahan yang berasal dari alam. Ia memanfaatkan jenis tumbuhan yang memiliki kelebihan mengusir hama, penyakit, dan binatang,” kata pembudidaya tanaman buah di Surabaya – Dani.<br />
<b>Aman dan Ramah Lingkungan</b><br />
Pestisida alam ini dikenal juga dengan pestisida nabati. Merupakan bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang bisa digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Pestisida nabati ini bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh, dan bentuk lainnya.<br />
Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Karena terbuat dari bahan alami atau nabati, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, karena residu (sisa-sisa zat) mudah hilang.<br />
Dani mengatakan, di Indonesia ada banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati. Bahan dasar pestisida alami ini bisa ditemui di beberapa jenis tanaman, dimana zat yang terkandung di masing-masing tanaman memiliki fungsi berbeda ketika berperan sebagai pestisida. Dalam fisiologi tanaman, ada beberapa jenis tanaman yang berpotensi jadi bahan pestisida. Apa saja tanaman itu?<br />
1.    Kelompok tumbuhan insektisida nabati. Merupakan kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama insekta. Bengkoang, serai, sirsak, dan srikaya diyakini bisa menanggulangi serangan serangga.<br />
2.    Kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat. Di dalam tumbuhan ini ada suatu bahan kimia yang menyerupai sex pheromon pada serangga betina dan bertugas menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Tumbuhan yang bisa diambil manfaatnya, daun wangi (kemangi), dan selasih.<br />
3.    Kelompok tumbuhan rodentisida nabati, kelompok tumbuhan yang menghasilkan<br />
pestisida pengendali hama rodentia. Tumbuh-tumbuhan ini terbagi jadi dua jenis, yaitu sebagai penekan kelahiran dan penekan populasi, yaitu meracuninya. Tumbuhan yang termasuk kelompok penekan kelahiran umumnya mengandung steroid. Sedangkan yang tergolong penekan populasi biasanya mengandung alkaloid. Jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai rodentisida nabati adalah<br />
gadung racun.<br />
4.    Kelompok tumbuhan moluskisida adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama moluska. Beberapa tanaman menimbulkan pengaruh moluskisida. Diantaranya daun sembung dan akar tuba.<br />
5.    Satu lagi, kelompok tumbuhan pestisida serba guna, dimana kelebihan kelompok ini tak hanya berfungsi untuk satu jenis. Misalnya insektisida saja, tapi juga berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, moluskisida, dan nematisida. Tumbuhan yang bisa dimanfaatkan dari kelompok ini, yaitu jambu mete, lada, tembakau, dan cengkeh. [santi]<br />
Aplikasi Pestisida Alami<br />
Dari sekian banyak jenis tanaman yang berfungsi sebagai pestisida nabati ini, tembakau yang paling sering digunakan. Selain bahannya mudah dijumpai, penggunaannya pun tak terlalu ribet. Bahkan bisa diterapkan sendiri di rumah. Tertarik untuk membuat pestisida aman bagi tanaman Anda? Dani Bambang Suryo, punya cara asik dalam memanfaatkan tembakau.<br />
Pertama yang harus dilakukan, rendam sebanyak setengah kilogram tembakau dalam 2 liter air dan diamkan selama satu hari. Barulah keesokan harinya bisa digunakan. Waktu menyemprot sebaiknya dilakukan pada sore hari. Bila masih tersisa bisa disimpan kernbali. Tapi lamanya tak boleh lebih dari seminggu. Dengan ditaruh di tempat yang tidak terkena sinar matahari.<br />
Mengapa tembakau bisa jadi bahan pestisida alam? Itu karena dalam tembakau terdapat nikotin, dimana zat ini merupakan 0,3-5% dari berat kering tembakau yang berasal dari hasil biosintesis di akar dan diakumulasikan di daun. Nikotin merupakan racun syaraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida atau pengendali serangga.<br />
Ada pula cara pencegahan alami untuk mencegah datangnya hewan pengganggu itu. Dengan menanam beberapa jenis tanaman yang berbau menyengat, seperti daun sereh atau kemangi. Aromanya yang khas nisa jadi penghambat bagi serangga atau hama untuk hinggap di tanaman. Pepohonan ini dapat ditanam di sekitar kebun. Selain itu, daunnya pun dapat dimanfaatkan untuk sayur dan bumbu dapur. <b>[santi] </b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tabloidgallery.wordpress.com/156/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tabloidgallery.wordpress.com/156/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabloidgallery.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabloidgallery.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabloidgallery.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabloidgallery.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabloidgallery.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabloidgallery.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabloidgallery.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabloidgallery.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabloidgallery.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabloidgallery.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabloidgallery.wordpress.com&blog=1429710&post=156&subd=tabloidgallery&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/31/pestisida-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/04966d50be4131aadd01fa574cb4c0c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tabloidgallery</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Sulit Belajar Kultur Jaringan</title>
		<link>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/26/tidak-sulit-belajar-kultur-jaringan/</link>
		<comments>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/26/tidak-sulit-belajar-kultur-jaringan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 05:10:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tabloidgallery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aksesori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/26/tidak-sulit-belajar-kultur-jaringan/</guid>
		<description><![CDATA[
 Anggapan orang selama ini bahwa teknik kultur jaringan sangat sulit dilakukan oleh orang awam dan biayanya sangat mahal tidak betul. Teknologi ini pada awalnya memang hanya dilakukan di kalangan perguruan tinggi dengan menggunakan peralatan yang canggih dan mahal. Tujuan kultur jaringan banyak sekali, diantaranya adalah untuk mendapatkan tanaman bebas penyakit/virus, mendapatkan tanaman yang tahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabloidgallery.wordpress.com&blog=1429710&post=151&subd=tabloidgallery&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><a href="http://tabloidgallery.files.wordpress.com/2008/03/kultur-rafflesiana.jpg" title="kultur-rafflesiana.jpg"><img src="http://tabloidgallery.files.wordpress.com/2008/03/kultur-rafflesiana.thumbnail.jpg" alt="kultur-rafflesiana.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"> Anggapan orang selama ini bahwa teknik kultur jaringan sangat sulit dilakukan oleh orang awam dan biayanya sangat mahal tidak betul. Teknologi ini pada awalnya memang hanya dilakukan di kalangan perguruan tinggi dengan menggunakan peralatan yang canggih dan mahal. Tujuan kultur jaringan banyak sekali, diantaranya adalah untuk mendapatkan tanaman bebas penyakit/virus, mendapatkan tanaman yang tahan terhadap stres tertentu (stres kekeringan, stres salinitas, dll). Selain itu juga untuk menyelamatkan tanaman langka agar tidak punah dan juga untuk memperbanyak tanaman dalam jumlah banyak. Tujuan terakhir inilah yang rupanya saat ini menarik perhatian banyak orang.</p>
<p class="MsoNormal">Di negara-negara tetangga kita, kultur jaringan sudah bukan hal yang asing lagi. Teknologi ini sudah dikenalkan pada para petani sejak lama, sehingga mereka sangat leluasa untuk menghasilkan produk2 tanaman yang berkualitas bagus.</p>
<p class="MsoNormal">Sekarang ini banyak bibit-bibit tanaman hias hasil kultur jaringan yang masuk ke Indonesia, sebut saja : Aglaonema, anthurium, calladium, anggrek, dll.</p>
<p class="MsoNormal"><b>Tidak Sulit</b></p>
<p class="MsoNormal">Betul sekali apabila dikatakan kultur jaringan tidak sulit. Pada intinya kita hanya melakukan isolasi tanaman, bisa bagian protoplasma, sel, jaringan ataupun organ tanaman yang selanjutnya ditanam dalam kondisi steril di dalam botol menggunakan media buatan. Tanaman dalam botol itulah yang kita pelihara hingga saatnya dikeluarkan dan ditanam di luar.</p>
<p class="MsoNormal">Kultur jaringan hanya butuh ketelatenan dari yang mengerjakannya, dengan jam terbang yang semakin tinggi maka akan semakin dirasakan bahwa teknik kultur jaringan sama sekali tidak sulit.</p>
<p class="MsoNormal"><b>Tidak Mahal</b></p>
<p class="MsoNormal">Peralatan kultur jaringan seringkali menjadi momok bagi orang awam yang ingin terjun di bidang ini. Menurut mereka, semua alat-alat yang digunakan dalam proses kultur jaringan membutuhkan biaya yang sangat<span>  </span>mahal. Anggapan tersebut tidak 100% betul, karena beberapa alat bisa dimodifikasi sehingga dapat diberdayagunakan seperti alat-alat yang canggih dan mahal tsb. Saat ini sudah banyak tersedia di pasaran alat-alat kultur jaringan dengan harga terjangkau, misalnya : dengan uang 1 juta sudah bisa mendapatkan entkas (alat untuk menanam dalam kondisi steril)</p>
<p class="MsoNormal">Bahan-bahan kimia untuk membuat media kultur juga sering dituding menjadi mahalnya teknologi ini. Sebetulnya untuk media tumbuh bisa disiasati dengan misalnya : membeli media kultur jaringan jadi di pasaran atau membeli nempil (eceran) di laboratorium-laboratorium kuljar atau bahkan bisa mencari media alternatif dari bahan-bahan alami.</p>
<p class="MsoNormal">Nah, sekarang menjadi tidak mahal lagi bukan?</p>
<p class="MsoNormal"><b>Tahapan Kultur Jaringan</b></p>
<p class="MsoNormal">Tahapan dalam kultur jaringan diawali dengan pemilihan pohon induk yang bagus, sehat dan berkarakter khusus. Pohon induk tsb nantinya akan dijadikan sebagai sumber eksplan. Selanjutnya eksplan disterilkan menggunakan zat tertentu, demikian juga semua peralatan yang akan digunakan perlu disterilkan dalam autoklaf. Tahap berikutnya adalah mengiris eksplan dalam ruang steril. Tahap inilah yang<span>  </span>perlu teknik-teknik khusus, beberapa tanaman yang mengeluarkan getah akan lebih bagus bila diiris dalam larutan pencegah browning. Selanjutnya tanaman ditanam dalam botol dan dipelihara hingga siap untuk diaklimatisasi (dipindahkan dari botol ke pot).</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Pemilihan eksplan perlu mendapat perhatian karena itulah yang nanti akan menentukan kualitas bibit yang akan dihasilkan. Paling bagus apabila eksplan berasal dari jaringan yang masih muda karena sel-selnya masih aktif membelah (meristematis). Semua bagian tumbuhan dapat dijadikan eksplan, mulai dari bunga, biji, akar, batang hingga daun.</p>
<p class="MsoNormal"><b>Harapan Untuk Petani &amp; Pengusaha Tanaman</b></p>
<p class="MsoNormal">Untuk lebih menggairahkan pertanian di Indonesia dan agar tidak luar negeri minded artinya agar kita tidak berfikir bahwa tanaman-tanaman dari luar negeri pasti bagus maka kita harus berani berubah. Sudah saatnya para petani dan pengusaha tanaman mengetahui bermacam-macam teknologi yang bisa digunakan untuk meningkatkan hasil tanamannya, baik kuantitas dan kualitasnya.</p>
<p class="MsoNormal">Laboratorium kultur jaringan fakultas pertanian UPN Jogjakarta yang berada di ring road utara condongcatur telp 0274-486693 siap untuk mentranfer ilmu tentang teknologi kultur jaringan pada masyarakat umum dengan metode praktis dan mudah diikuti. Tidak perlu background pertanian untuk mendalaminya, bahkan para pensiunanpun akan mudah mengikuti praktek mandirinya.</p>
<p class="MsoNormal"><b>Oleh </b></p>
<p class="MsoNormal"><b>Ir. Arie Wijayani Purwanto MP, Dosen Fakultas Pertanian UPN Jogja</b></p>
<p class="MsoNormal"><b>penulis</b> <b>Buku sansevieria dan Puring u</b><b>ntuk Tabloid Gallery</b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tabloidgallery.wordpress.com/151/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tabloidgallery.wordpress.com/151/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabloidgallery.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabloidgallery.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabloidgallery.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabloidgallery.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabloidgallery.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabloidgallery.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabloidgallery.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabloidgallery.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabloidgallery.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabloidgallery.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabloidgallery.wordpress.com&blog=1429710&post=151&subd=tabloidgallery&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/26/tidak-sulit-belajar-kultur-jaringan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/04966d50be4131aadd01fa574cb4c0c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tabloidgallery</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tabloidgallery.files.wordpress.com/2008/03/kultur-rafflesiana.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kultur-rafflesiana.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>