Membuang Mitos Jambu Merah Delima

Selama ini, jambu air merah delima (Syzygium Aqueum) diyakini hanya dapat ditanam di Demak, terutama di Desa Betokan, Cabean, dan Tempuran, Kecamatan Kota. Mitos itu berkembang selama puluhan tahun, bahkan sering dikaitkan dengan Sunan Kalijaga yang turut memopulerkan plasma nutfah kabupaten ini.

Benarkah mitos tersebut? Benar bahwa Demak merupakan sentra utama jambu merah delima di Indonesia. Tidak keliru pula jika sebagian besar warga di ke-tiga desa itu memiliki tanaman tersebut.

Menurut data Subdinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Demak, populasi tanaman jambu air merah delima di kabupaten ini tercatat 95.627 batang, 38.570 diantaranya telah berbuah. Jumlah produksi mencapai 20.500 kuintal per-tahun.

Buah ini berukuran super, berwarna merah tua seperti buah delima, rasanya manis, dan mengandung banyak air. Harga di pasar-pasar tradisional sekitar Rp 10.000/kg, sedangkan di swalayan mencapai Rp 15 ribu/kg.

Sudarno, salah seorang warga Kelurahan Penggaron Lor, Kecamatan Genuk, Semarang, mengatakan keliru jika menganggap buah ini tak bisa ditanam di luar Demak. Terbukti ia pun sukses menanamnya di Semarang. “Yang penting cukup air,” tandas Sudarno yang dikutip dalam sebuah situs tentang jambu merah delima.

Bahkan varietas jambu air ini telah lama dibudidayakan di Eropa, dikenal sebagai water apple, termasuk dalam keluarga Myrtaceae. Asalnya pun dari wilayah selatan India dan Malaysia Timur, lalu menyebar ke Philipina, Indonesia, Hawai (AS), hingga Trinidad, dan Tobago.

Varietas Unggulan

Dalam berbagai literatur disebutkan, jambu air merah delima tumbuh di dataran rendah hingga sedang (100-600 meter dpl). Jadi bisa ditanam di daerah-daerah sepanjang pesisir utara Jawa.

Jambu air yang bentuknya mirip lonceng ini ditetapkan sebagai tanaman varietas unggulan, sebagaimana Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 512/Kpts/SR, tertanggal 12 Desember 2005.

Rasanya manis dan segar, karena dalam setiap kilogram terdapat kadar gula sebanyak 7,2 brik, 117 mg vitamin C, dan 84% air. Menurut Sudarno, budidaya jambu merah delima relatif sederhana. “Asalkan rajin disiram pada musim kemarau, hasilnya pasti bagus,” imbuh petani yang memiliki 80 pohon indukan ini.

Dia mengairi kebunnya dari Kali Babon yang berjarak sekitar 1 km. Pada musim kemarau, minimal sehari sekali. “Lebih bagus sampai berlumpur, karena buahnya makin banyak,” katanya. [ary]

5 thoughts on “Membuang Mitos Jambu Merah Delima”

  1. Saya jadi tertarik dengan jambu air merah delima (Syzygium Aqueum) ini.

    Kalau misalnya saya ingin memiliki jambu air merah delima (Syzygium Aqueum) ini untuk saya tanam, caranya bagaimana?
    Saya tinggal di Kediri Jawa-Timur, kira-kira berapa saya harus mengirimkan pengganti harga benih + ongkos kirim?

    Terima kasih atas pencerahannya.

  2. bagaimana kalau ditanam di purwodadi, tolong dikasih tips dan trik menanam jambu merah delima yang benar sehingga hasilnya memuaskan

  3. Sebagai warga Demak khususnya orang Betokan, saya belum pernah dengar tentang adanya mitos tersebut, jambu Merah Delima dapat ditanam dimanapun seperti halnya Blimbing Demak, namun bisa dibilang hasil atau kualitasnya memang berbeda dari daerah lain

    untuk penyiraman jambu merah delima sebaiknya seperti tanaman-tanaman buah lain (jangan sampai kekurangan air) karena karekteristik jambu merah delima jika kebanyakan air buahnya akan rontok dan warna buah tersebut nampak putih pucat. Hal itu terbukti didaerah Betokan pada musim penghujan karena kebun jambu merah delima rata-rata tergenang air…

    untuk informasi buah dan jambu : andhyzz@yahoo.com

    makasih mass

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s