Program Pemkot Surabaya Genjot Sektor Tanaman Hias

Gunakan Konsep Urban Farming

Pertanian tradisional identik dengan tanaman pangan yang membutuhkan lahan besar untuk proses produksinya. Namun di perkotaan, metode ini sangat tidak mungkin. Sebab, lahan tanah akan jadi sangat mahal.

Ada solusinya, yaitu dengan mengubah pola pertanian tradisional jadi urban farming. Ia mengoptimalkan lahan sempit dengan produk tanaman yang punya nilai jual tinggi. Dilihat dari kondisi lahan di kota besar, sangat memungkinkan untuk melakukan pembangunan sektor pertanian yang mengandalkan produk pangan. Sebab, produk pangan memang punya daya serap pasar paling besar, tapi juga perlu lahan yang besar. Di situ, lokasi perkotaan memang bukan tempat yang ideal.Dari serapan tenaga kerja, sektor pertanian tetap memberikan sumbangan besar. Apalagi iklim yang mendukung untuk pertumbuhan segala jenis tanaman. Di situ, harus ada pola berbeda saat melihat sektor pertanian. Artinya, saat ini di perkotaan petani dituntut untuk mencari produk yang mempunyai nilai jual lebih mahal.

Alternatifnya tentu ada pada sektor holtikutura, terutama produk florikutura (tanaman hias) dan biofarmaka (tanaman toga). Bidang itu bisa dikembangkan maksimal di lahan sempit, bahkan di pekarangan. Konsep ini yang dinamakan sebagai urban farming yang sedang dikerjakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tahun 2008. Wakil Walikota Surabaya, Drs H Arif Afandi, mengatakan saat ini di wilayahnya memang tidak mungkin untuk mengembangkan pertanian tradisional. Sebab, nilai ekonomis tanah akan jauh lebih tinggi dibandingkan produksinya, sehingga saat ini memang diakui lahan pertanian terus berkurang seiring perkembangan kota.

Apalagi saat ini jumlah penduduk Surabaya  2,8 juta jiwa (2006), dengan tingkat pertumbuhan sekitar 1,749 % tiap tahun (2007). Sedangkan luas wilayah sebesar 33.306,30 Km², sehingga pupulasinya mencapai 90 jiwa/Ha. Jadi, untuk pertanian tradisional sangat sulit untuk mencari lahan.Untuk memberikan alternatif bagi petani yang sudah kehabisan lahan adalah melakukan perubahan pola pikir, dengan mencari produk holtikultura, bukan lagi tanaman pangan. Di situ tanaman yang bisa ditanam, yaitu buah, sayur, tanaman hias, dan biofarmaka (tanaman toga).“Saat ini potensi tanaman hias cukup baik, apalagi harga jualnya bisa tinggi,” tandas Arif.Program pembangunan tanaman hias juga sudah disinergikan dengan instansi lain. Artinya, di beberapa kawasan sudah muncul wilayah yang mengambil tema tanaman hias. Salah satunya adalah kampung anggrek di Kertajaya dan kampung adenium di Kelurahan Pakis.

Persiapkan Pasar
Pemkot Surabaya sudah memberikan solusi dengan membangun sub terminal tanaman hias di Surabaya Selatan. Pasar tanaman hias ini diproyeksikan sebagai satu tempat untuk bertemu antara pedagang dan petani tanaman hias dengan pembeli, baik secara grosir maupun eceran. Langkah ini memang dilakukan, karena kendala terbesar dari petani adalah masalah pasar.“Masalah utama masih di kendala pemasaran,” imbuh Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Surabaya, Ir Samsul Arifin MM. “Dari situ, memang tepat untuk memberikan satu wadah bagi petani tanaman hias untuk mencari pasar,” lanjutnya.

Saat ini diakui, petani masih menggunakan cara tradisional, terutama untuk mencari pasar. Akhirnya, petani tidak mau repot untuk menawarkan produknya dan lebih memilih menjual pada tengkulak. Padahal bila penjualan dikembangkan sendiri, maka keuntungan jadi lebih besar. Pengambangan pasar ke tingkat yang lebih profesional memang jadi satu poin penting dari urban farming. Artinya, teknologi sudah jadi satu kebutuhan. Salah satunya adalah dengan pemanfaatkan komputer dan jaringan internet untuk membuka jaringan dan tentunya pasar yang lebih luas.

“Kami sudah mempersiapkan pelatihan pemasaran khusus bagi petani tanaman hias,” tandas Samsul. Selain itu, sektor lain yang juga potensial untuk dikembangkan di kota besar adalah tanaman buah dan tanaman toga. Untuk tanaman buah sendiri masih membutuhkan lahan yang luas, tapi bisa mengambil pekarangan. Bahkan saat ini, di Surabaya Barat, terutama di Kecamatan Lakarsantri, buah mangga sudah jadi komoditi tetap.

Sedangkan untuk tanaman toga cukup besar di Kecamatan Wiyung melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sekar Kencono. Kelompok tani ini selain mengembangkan tanaman hias, juga punya kebun tanaman toga yang luas dan lengkap. Selain itu, kelompok tani juga sudah dibentuk di Surabaya Timur, yaitu di Kecamatan Mulyorejo dengan konsentrasi tanaman yang tak jauh beda, yaitu toga dan tanaman hias.   
Untuk jangka panjangnya, setiap kecamatan akan diberikan satu tempat khusus sebagai tempat transaksi tanaman hias. Modelnya seperti contoh produk di kecamatan untuk memudahkan pembeli. Sedangkan untuk transaksi lebih lanjut, bisa datang langung ke tempat pembibitan.

Bagi Komoditi di Tiap Kecamatan
Khusus untuk Surabaya, Dinas Pertanian sudah melakukan pemetaan wilayah berdasarkan produk tanaman unggulan. Langkah ini diambil untuk menghindari adanya overlaping antar kecamatan, karena produk yang ditawarkan sama. Dari 5 wilayah di Surabaya, masing-masing punya ciri khas sendiri.Surabaya Selatan diproyeksikan mengambil produk tanaman aglaonema, dracaena, cordilyne, blimbing, dan jambu. Di Surabaya Timur akan dikembangkan palem, puring, anggrek blimbing, dan jambu. Sedangkan untuk Surabaya Barat ada adenium, euphorbia, kaktus, bromelia dan blimbing. Surabaya Pusat diupayakan untuk pengembangan sansevieria, zamia, dan agave. Di Surabaya Utara dikembangkan tanaman anthurium, philodendron, dan deffenbachia. [bayu]

Target Jual 1 Juta Tanaman

Dengan pola urban farming, Dinas Pertanian mentargetkan ada pertumbuhan baik. Artinya, tahun 2007 sektor pertanian bisa menyumbang setidaknya 2%. Di situ, tahun 2008 ini diharapkan bisa naik ke angka 3%. Samsul mengaku, kalau sumbangan terbesar tetap dari sektor perdagangan, tapi bukan berarti pertanian tak bergerak.“Target mungkin dikejar 1 juta tanaman. Bila dihitung pertangkai Rp 5 ribu, maka sumbangan yang diberikan mencapai Rp 5 miliar. Memang dilihat dari pertumbuhannya, tanaman holtikultura porsentasenya besar di setiap tahunnya, termasuk tanaman hias,” ujar Samsul.

Dari data Dinas Pertanian, terlihat kalau tanaman hias di Surabaya mulai tumbuh sejak tahun 2003, dengan rata-rata pertumbuhan 11%. Sementara pengunaan lahan tanaman hias juga bertambah, dimana rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 15 hektar. [bayu]

Pembagian Produk Holtikultura

Surabaya Utara            anthurium, philodendron, deffenbachia.

Surabaya Selatan          aglaonema, dracaena, cordilyne, blimbing, jambu

Surabaya Timur            palem, puring, anggrek, blimbing, jambu

Surabaya Barat             adenium, euphorbia, kaktus, bromelia, blimbing

Surabaya Pusat             sansevieria, zamia, agave

Pertumbuhan produksi dan produktivitas tanaman hias

                        (tangkai/M2)     (Ha)

2003                800                  0.5

2004                1.200               0.3                  

2005                1.200               0.6

2006                650                  1.0

Rata-rata

Pertumbuhan    11,65%            15 Ha

Sumber: Data Dinas Pertanian Surabaya tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s