Ketika Puring Naik Kelas

 

Penggemar Puring Buat Komunitas
Saat ini, puring mulai masuk dalam komunitas tanaman mahal. Itu terbukti di beberapa bursa, puring sudah jadi salah satu tanaman yang banyak diminati pengunjung. Wajar melihat fenomena itu, penggemarnya segera bentuk komunitas puring di tahun 2008 ini. Wadah itu, nantinya akan menaungi tanaman puring. Tujuannya, untuk mempercepat proses sosialisasi dan sebagai satu regulator, terutama untuk mempertahankan eksistensi tanaman.Selain itu, juga sebagai satu tempat untuk berbagi pengalaman tentang segala hal yang berhubungan dengan puring dan tanaman hias. Pertemuan awal untuk membentuknya sudah dilakukan dan saat ini komunitas puring dalam pembentukan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Dipastikan, awal tahun 2008 deklarasi komunitas puring sudah bisa dilakukan. Target ke depan komunitas ini, untuk mengangkat puring sebagai tanaman hias yang mempunyai potensi ekonomi besar.  
Agus Choliq, penggemar puring di Sleman Jogjakarta sekaligus pelopor komunitas, mengaku kalau pembentukan satu wadah yang membawahi tanaman hias selain sebagai satu tempat untuk berkumpul dan berbagi pengalaman, juga satu pembuktian eksistensi.“Banyak masalah yang perlu dibahas secara serius, terutama dari nama. Sebab, di beberapa tempat jenis yang sama, tapi punya nama yang berbeda,” imbuh Agus.Masalah nama dijadikan prioritas utama yang harus diselesaikan, karena berhubungan dengan nilai harga jual yang ujungnya ada pada kepercayaan masyarakat. Dengan nama yang sama, maka harga jual dan status yang dimiliki sudah jelas mampu mengurangi penipuan dan beberapa spekulan yang berniat mencari untung dari belum adanya standar nama.Pemberian nama sendiri, kata Agus, sangat sulit, karena puring yang beredar sangat banyak, baik dari produk lokal, impor maupun silangan. Di situ, merupakan satu pekerjaan besar yang harus dijalankan oleh pengurus yang akan segera dilantik ini. Saat ini, dari setiap pertemuan pembahasan komunitas penggemar yang datang berkisar antara 100 orang dari beberapa kota. Dominasi penggemar puring memang diakui Agus terbesar masih ada di Jogjakarta dan Jateng, sehingga embrio pembentukan komunitas juga diawali di wilayah yang sama.Beberapa kota memang sudah mempunyai koleksi puring banyak, seperti Magelang, Solo, Semarang, Wonosobo, Surabaya, dan Kediri. Masalah lain yang memicu segera dibentuknya komunitas puring adalah standarisasi penilaian dalam kontes yang masih belum seragam. Di situ, pengurus baru dibebankan untuk merumuskan bagaimana standar penilaian dari puring yang saat ini masih amburadul.“Sempat ada beberapa kontes puring, tapi standar penilaian tak sama,” tandas Agus.

Standarisasi
Proses standarisasi sendiri dipastikan akan mengambil porsentase paling besar. Sebab, banyak hal yang akan dibahas. Contohnya adalah dari komunitas pecinta adenium (PPADI) yang masih terus menyempurnakan standarisasi kontes adenium. Di situ, bukan tak mungkin puring juga akan menemui kendala yang sama pada pembahasan lomba.Dari beberapa lomba yang pernah digelar, penilaian pemenang puring lebih pada karakter daun, baik itu besar maupun unik. Sementara untuk kekuatan warna, masih belum populer. Dengan adanya standarisasi penilaian dari setiap kontes puring, memberikan satu kepastian bagi pemenang. Sebab, ke depan akan ada sertifikasi yang otomatis memberikan satu pengakuan bagi pemenang kontes puring.  
Desakan untuk membentuk komunitas puring sendiri sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 2007. Apalagi saat itu merupakan masa transisi antara aglaonema dan anthurium. Harapannya, bisa mencuri perhatian pasar kalau ada tanamana baru yang punya kekuatan dari warna dan bentuk daun. Meski belum terbentuk, tapi dari rencana deklarasi pada awal 2008, komunitas yang ada juga diharapkan bisa langsung memperkenalkan puring sebagai salah satu kekayaan tanaman hias. [wo2k]

10 thoughts on “Ketika Puring Naik Kelas”

  1. perkenalkan saya Nicky Ladika ( Ladika Nursery ), saya menanggapi tentang kenaikan ratting tanaman puring/croton saat ini. dibeberapa tempat atau wilayah memang terjadi peningkatan penjualan puring / croton. tetapi ada satu hal menurut saya yang harus menjadi perhatian kita semua, baik itu para hobiies maupun kita sebagai pelopor tanaman puring. yanag saya maksud disini adalah penamaan pada puring, karena saya banyak menemukan kasus – kasus dilapangan tentang ketidaksamaan penamaan pada puring / croton. memang ada pepatah yang menyebutkan “Apalah Arti Sebuah Nama”, nah ini yanag sering menjadi bulan – bulanan para pedagang/hobiies puring/croton, ini yang bisa menjadi momok bagi kita semua baik yang berkecim[ung langsung atau pun bagi penikmat tanaman puring tersebut. oleh karena itu, menurut hemat saya alangkah baiknya bila kita mematenkan penamaan pada puring seperti halnya tanaman lain. mungkin bagi sebagian kalangan penamaan itu hal yang dianggap sepele, tetapi menurut saya itu adalah hal yang paling utama. terutama bagi penjual tanaman puring/croton, banyak kewalahan tentang pesanan puring karena masalah penamaan yang berbeda konsumen tidak menjadi memesan tanaman. contoh kasus yang pernah saya alami, saya pernah mendapatkan pesanan puring/croton telur ceplok, padahal di tempat saya puring tersebut bernama apel kuning/malang.

    terima kasih atas perhatian dan waktunya.
    wasalam ,

    Nicky Ladika

    terimakasih atas masukkannya

  2. Saya sebagai pemula penggemar tanaman hias, diantaranya PURING, saya ingin memperoleh enslopedia soal puring atau informasi berkaitan dengan Tanaman Puring.
    Semuanya itu sangat berharga guna menambah hasanah tanaman hias.
    Terima kasih

    WASWI
    BANDUNG

  3. ini agus choliq yang nulis buku PURING MAHKOTA INDONESIA, FLORA ALTERNATIF PENDULANG UANG geh? setelah baca2 buku itu koq saya jadi tertarik ya budidaya puring n menekuni bisnis kecil-kecilan. bisa nggak saya belajar kepada sampean? saya setuju puring mulai naik kelas..wah, memang saatnya flora asli indonesia unjuk gigi.jangan kalah dengan impor..yang pribumi itu kan lebih eksotis biasanya…orang bule aja suka karya bumi nusantara malah kita suka cari-cari selera luar negeri hihihi..ok. bangkitlah puring.

  4. mas, saya dari kalimnatan selatan dan saya punya banyak tanaman puring yang khas pedalaman kalimantan,dan nemuin puring z varian baru, ada yang minat ngga mas

    hoiiiii…….yang lain….
    ini ada penawaran bagus lhooooo

  5. seperti komentar diatas, saya juga berpendapat sama masalah puring yaitu penamaan yang berbeda di beberapa daerah. satu jenis puring, karena hanya warna daun berbeda bisa menjadikan beda nama. untuk itu perlu keseragaman dalam penamaan puring yang banyak jenisnya di negeri kita tencinta ini. saya sangat mendukung apabila terbentuk komunitas pecinta puring yang kemudian akan menentukan nama puring yang seragam

    1. sepertinya perlu pencerdasan para penggemar tanaman hias, dimulai dari petani dan pedagang untuk selalu menggunakan nama ilmiah atau paling tidak mengetahuinya. dengan demikian tidak ada lagi kekeliruan penamaan.

  6. perkenalkan saya dr kabupaten lumajang
    menurut saya puring memang bisa menjadi tanam hias yang bakal booming setelah anturium .
    salah satu keunggula nya bs dilihat dr warna daun yangmemang sangat vantastis menurut saya selain itu perawatannya mudah tidak seperti aglonema yang butuh perawatan exstra.
    di kota saya para pedagang bunga sudah menjadikan puring sebagai tanaman maskot nurseri mereka.
    dan yang sekarang ini lagi di mainkan emang puring dilihat dari permintaan konsumen dan para pedagang yang akhir2 ini sering ke jogja untuk kulakan bunga puring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s