Rafflesiana dan Bicalcarrata

Nepenthes yang Mudah Dipelihara
Kantongnya bisa membunuh serangga, bahkan tikus. Orang biasa menyebutnya nepenthes atau kantong semar. Saat ini di Tanah Air, ia mudah dijumpai di pulau Kalimantan, Papua, Bogor, dan Malang. Namun dari sekian banyak jenis nepenthes, hanya beberapa jenis yang mudah dan familiar di-budidaya di Indonesia. Mau tahu?
Bentuknya unik, karena daunnya menggantung dan memiliki kantong. Untuk itulah, tanaman ini biasa disebut sebagai tanaman kantong semar. Ia juga terkenal sebagai tanaman karnivora (karena memakan serangga), tapi keindahan tanaman ini membuat sifat sangarnya kian hilang berubah jadi senang.
Nephentes atau kantong semar merupakan satu diantara banyak tanaman yang hanya bisa tumbuh dan berkembang di daerah habitatnya. Di Indonesia sendiri, habitat asli nepenthes adalah di pulau Kalimantan dan Papua. Maka tak jarang, tanaman ini biasa disebut dengan sebutan epidemik atau tempat hidupnya hanya di satu daerah.
Kolektor dan Pembudidaya Nepenthes di Bogor, Abdul Kadir, mengatakan kalau faktor cuaca, alam, suhu, kelembaban, dan keasaman tanah jadi faktor mengapa tanaman ini susah berkembang di daerah lain. Namun bukan tanpa celah, bila kita men-setting lingkungan sesuai dengan keadaan habitatnya, maka tanaman ini pun bisa hidup dengan normal dan baik.
“Kantong semar kini juga kian memasyarakat, karena tanaman ini mulai bisa beradaptasi pada lingkungan apapun. Biasanya tanaman ini hanya bisa tumbuh di daerah asal (Kalimantan dan hutan hujan lain, red). Tapi, karena kebiasaan pecinta tanaman ini membawa ke daerah lain seperti Bogor, membuat tanaman ini beradaptasi dengan baik, bahkan dalam hal pertumbuhan di lingkungan yang berbeda,” ujar Abdul.
Maka jangan heran, kini kantong semar banyak dijumpai di beberapa daerah. Bahkan di daerah dataran rendah, seperti Jakarta dan Semarang. Banyaknya varian yang mudah beradaptasi, sepertinya tak cukup bagi kantong semar untuk siap meroket. Aneka warna dan bentuk yang unik, disebut-sebut faktor di balik popularitas kantong semar.
Banyaknya varian nepenthes, membuatnya kian diminati. Terlebih untuk saat ini, tanaman hias bak kebutuhan yang selalu dicari orang. Tak hanya bentuk kantong, tanaman yang biasa ditemukan di beberapa sudut hutan hujan ini sekarang sudah bermain warna. Beberapa jenis warna mulai dari yang gelap hingga cerah, seakan jadi formula sendiri bagi tanaman ini untuk menghipnotis setiap orang.
Beberapa jenis kantong semar di Indonesia yang kini namanya mulai disebut-sebut pecinta nepenthes dan tentunya mudah di-budidaya, antara lain jenis mirabilis, bicalcarata, rafflesiana, dan masih banyak lagi.
“Dengan warna mencolok dan bentuk kantong unik, beberapa jenis tersebut dari catatan kami dalam tiga bulan terakhir, kini kian dicari orang untuk dikoleksi,” imbuh Abdul.
Rafflesiana si Kantong Terompet
Jenis satu ini memiki bentuk serba besar. Tak hanya kantong dan daunnya, batang yang merambat sampai ke atas bisa sampai belasan meter, tergantung dari media rambatnya. Bahkan jika dibiarkan merambat, jenis ini tak ubahnya pohon besar dengan ranting yang banyak. Jenis ini memiliki aneka variasi warna. Tak hanya hijau, pada jenis ini juga sering dijumpai warna merah dan putih.
“Jenis ini biasanya namanya dibedakan jadi dua, yaitu refflesiana merah dan rafflesiana putih,” tandas Abdul.
Umumnya, saat usia kecil dan remaja, warna merah atau putih pada kantong belum terlihat dominan. Hanya warna hiau yang biasa menghias seluruh bagian kantong tanaman. Setelah beberapa bulan, biasanya bintik-bintik mulai muncul dan semakin tua usia kantong, maka makin dominan warna aslinya. Memiliki kantong berukuran agak besar (bila dibandingkan dengan ukuran kantong semar rata-rata), membuat tanaman ini memiliki identitas sendiri.
Tak hanya dari segi ukuran, kantong yang menggantung ini pun, kian tua bentuknya semakin unik. Jika dilihat sekilas, kantong dalam jenis ini menyerupai bentuk terompet, sehingga banyak orang biasa menjulukinya dengan sebutan kantong semar terompet. Keistimewaan jenis ini juga ada pada giliran tumbuh kantongnya. Semakin tinggi letak kantong, biasanya makin bagus bentuknya. Umumnya, kantong bawah akan cepat tua dan kering.
Bicalcarrata, Kantongnya Bertaring
Tipe satu ini lebih terlihat seram. Sebab, jenis ini bak drakula dengan taring yang keluar dari tutup kantong. Tak ubahnya hewan buas, sekilas tanaman ini tak ubahnya ular beracun yang siap mematok. Daunnya berwarna hijau dengan kombinasi dan gradasi warna merah dan gelap. Sekilas, jenis ini tak jauh beda dengan jenis kantong semar lain.
Jika di alam bebas, jenis ini biasa merambat dan mengisi setiap sudut yang ia lewati.
Bentuk kantongnya agak bulat simetris dan sebesar telur ayam, sehingga meski dilihat sekilas, tanaman ini mudah dikenali. Warna gelap dan tuanya sering ada di seluruh bagian kantong.
Meski begitu, hal paling mencolok pada jenis ini adalah taring yang muncul dari kantongnya. Besarnya taring, membuat kita bisa langusng melihatnya, meski hanya sekilas. Bak gigi hewan buas, ada dua buah taring yang menempel pada tutup atas kantong. Jika dibanding dengan ukuran kantongnya, bagian ini terlihat cukup panjang (sekitar 1 cm dan tinggi kantong + 5 cm).
Taring yang keluar juga terlihat di luar kantong alias menghias di beberapa bagian depan kantong. Sekilas, satuan taring ini mengingatkan kita pada gergaji yang memiliki banyak duri. Di balik itu, jenis bicalcarata masih memiliki warna eksotik. Biasanya, warna tersebut akan muncul jika kita membersihkan dan merawat kantong jenis ini dengan benar.
Selain itu, juga ada beberapa jenis nephentes lain yang memiliki keunikan pada warna dan bentuk. Sebut saja hotlips, ampularia, dan eutachya. Selain warna-warna cerah sebagai ciri, aneka bentuk yang berbeda satu dengan lain, membuat tanaman ini kian bervariasi. [hyo]
Mengenal Asal Muasal Nepenthes
Genus nepenthes (kantong semar, bahasa Inggris: tropical pitcher plant), termasuk dalam familia monotypic. Ia terdiri dari 80-100 spesies, baik yang alami maupun hibrida. Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis dunia lama. Kini meliputi negara Indonesia (55 spesies, 85%), Tiongkok bagian selatan, Malaysia, Filiphina, Madagaskar, Seychelles, Australia, Kaledonia Baru, India, dan Sri Lanka.
Habitat dengan spesies terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatera. Tapi sekitar 90% jenisnya atau variasi jenis paling banyak di dunia ada di pulau Kalimantan. Pertumbuhan tanaman ini bisa mencapai tinggi 15-20 m dengan cara memanjat tanaman lainnya.
Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam. [ary]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s