Daun Rontok Saat Musim Hujan

Wajar Asal Diperhatikan
“Saya punya adenium, tapi saat kena hujan daunnya rontok. Bagaimana solusinya.” Keluhan ini disampaikan oleh Didi – Penghobi adenium di Jakarta, saat musim hujan mulai lebat di awal tahun ini. Bagi sebagian orang, rontoknya daun di koleksi adenium tentu bisa membuat panik. Padahal itu termasuk wajar, asalkan terus dipantau perkembangannya.
Memang saat masuk musim hujan, akan terjadi perubahan iklim dan suhu yang mau tidak mau akan mempengaruhi kondisi tanaman hias. Apalagi untuk jenis tanaman yang harus mendapatkan sinar matahari penuh, berarti harus siap juga terkena air hujan. Sebab, lokasinya pasti ada di luar ruangan dan tanpa naungan.
Resiko terkena hujan, memang harus dihadapi oleh tanaman yang memebutuhkan sinar matahari langsung, seperti adenium. Sebab, sebagai tanaman sukulen karakteristik yang muncul memang harus ada di suhu yang tinggi. Jadi, mau tidak mau air hujan juga harus dikonsumsi saat ini.
Terlebih, di iklim tropis akan muncul perbedaan suhu yang mencolok antara musim hujan dan musim panas. Akhirnya, tanaman secara alami akan melakukan adaptasi, terutama saat memasuki musim hujan. Cara adaptasi yang dilakukan adalah dengan merontokkan daun.
Cara rontok daun memang jadi satu hal alami bagi tanaman untuk menjaga mobilitas nutrisi di dalam tubuhnya. Sebab, dengan kelembaban yang berlebih saat musim hujan, maka daun secara alami akan rontok untuk menyesuaikan dengan kondisi baru. Namun tentunya, bisa jadi bencana itu terjadi di koleksi tanaman hias kita yang mempunyai harga mahal, termasuk adenium.
Saat mendapati adenium rontok, terutama bagi penghobi lama maupun pedagang, sudah tak khawatir. Sebab, memang akan terjadi saat memasuki musim hujan. Apalagi untuk beberapa koleksi tanaman yang masih muda, dimana pengalaman perubahan iklim belum terlalu kuat. Lalu, bagaimana cara penanganannya?
“Bila rontok sampai daun habis, harus segera dilakukan pertolongan. Sebab, bisa memicu terjadinya busuk akar,” ujar Sunarto, Petani dan Pebisnis Adenium di Gresik, Jatim. “Meski bisa dinilai sebagai hal normal, tapi harus dibantu juga dengan perlakuan khusus. Sebab, dengan kelembaban tinggi dan polusi yang terus meningkat, ketahanan tanaman bisa menurun,” lanjutnya.
Kondisi ini akan semakin parah, terutama di kota besar yang tentunya punya tingkat polusi lebih tinggi. Di situ, air hujan yang turun juga akan mengandung polusi yang tak sedikit. Jadi selain iklim, polusi juga ikut menyumbang rontoknya daun adenium.
Hindari Hujan Saat Malam Hari
Memang tak bisa dipungkiri, kalau air hujan menyumbang paling besar pada rontoknya daun. Apalagi saat hujan turun di malam hari, dipastikan akan membawa polusi lebih banyak dari asap yang terkumpul seharian. Jadi, waspadai saat hujan di malam hari.
“Kalau bisa, memang saat hujan adenium dimasukkan atau diberi naungan. Namun tentu itu bila memungkinkan. Sebab, akan sangat merepotkan bila kita memiliki puluhan atau ratusan pot yang harus diberi naungan. Jadi, alternatif pemberian naungan hanya untuk pemilik koleksi yang tak terlalu banyak,” ungkap Sunarto.
Dahulu kala, air hujan dianggap anugerah, tapi saat ini malah jadi bencana akibat dari tingkat polusi yang tinggi. Jadi, saat ini tanaman apapun pasti akan berekasi negatif bila terkena air hujan. Apalagi, saat intensitas hujan hanya beberapa menit. Dengan hujan yang turun tak lebih dari 15 menit, pasti kadar polusi di setiap titik air, akan lebih besar dan bila menumpuk dalam media tanam, maka akan berakibat buruk, sehingga alternatif pertama yang dilakukan adalah dengan menyiram atau membilas seluruh tanaman setelah terkena air hujan. “Bilas sampai tetesan air berwarna bening,” tandas Sunarto.
Waspadai Bintik Hitam Daun
Gejala awal yang timbul saat adenium tak tahan pada air hujan adalah timbulnya bercak hitam pada permukaan adenium. Bercak ini akan jadi tanda kalau koleksi Anda harus segera diamankan atau rontok. Sebab, bila dibiarkan bisa menyebabkan busuk pucuk.
“Bila pucuk sudah busuk, maka harus dipotong sampai bagian itu hilang,” imbuh Sunarto.
Bintik hitam yang timbul segera akan menyebar, membuat daun berwarna kuning dan seterusnya rontok. Parahnya lagi, kerontokan juga bisa merambat pada bunga yang sedang mekar. Selanjutnya, kuncup bunga juga akan diserang, membuat adenium jadi gundul. Memang sebagai tanaman sukulen, masih ada cadangan makanan yang disimpan dalam batang selama daun gundul. Namun lebih baik bila rontok daun bisa dicegah, sehingga tanaman bisa tumbuh lebih segar. Sebab, saat rontok menandakan kondisi tanaman dalam keadaan stres.
Biasakan Siram Seluruhnya
Ada cara mudah yang bisa digunakan untuk menghindari kerontokkan daun saat musim hujan, yaitu dengan membiasakan menyiram adenium ke semua bagian tanaman. Kenapa begitu? Sunarto menjelaskan, kalau penyiraman di seluruh badan akan direkam oleh tanaman. Otomatis, saat terkena air hujan tanaman tak kaget, karena sudah terbiasa terkena air di semua bagian.
Langkah ini terbilang sederhana dan masuk akal, karena dengan kebiasaan yang sama, maka adenium tak merasakan adanya perubahan iklim. Di situ, rontoknya daun juga bisa diprogram dengan cara seperti di atas.
“Kalau biasa disiram sampai daun, siram saja pada media tanam, maka daun akan rontok dan sebaliknya,” tandas Sunarto.
Program merontokkan daun sendiri memang sering digunakan oleh penghobi adenium, terutama untuk membentuk karakter dengan memotong cabang atau batang. Sebab, saat melihat bagian yang akan dipotong tumbuh subur dan berbunga, tentu sayang dibuang.
Drainease Air Harus Sempurna
Terpenting adalah porousitas media tanam untuk mengalirkan media tanam. Sebab, media tanam yang menyimpan air, akan memicu terjadinya busuk akar dan tentunya berakhir dengan kematian. Jadi, bila tak bisa memberikan naungan, maka pencegahan terakhir ada pada media tanam. Campuran yang bisa digunakan adalah pasir malang, sekam bakar, pupuk kandang, dan biji kapuk.
“Sekam 1 bagian, biji kapuk 1 bagian, dan pupuk ¼ bagian. Sementara untuk pasir, ditambahkan hanya pada permukan media tanam, agar media tak tumpah saat terkena air,” kata Sunarto.
Komposisi ini sangat cocok untuk daerah yang punya suhu panas, seperti di Gresik. Sementara di suhu yang lebih sejuk, media sekam bisa dihilangkan. Sebab, sekam punya karakter menyerap air. Sedangkan pupuk cukup dengan memberikan NPK dengan kadar Phospor (P) dan Kalium (K) lebih besar. [wo2k]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s