Melihat Konsep Bonsai Setengah Jadi

Aksesori dan Gerakan Cabang Paling Menentukan
Saat diklat Bonsai yang digagas oleh Perkumpulan Pecinta Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Sidoarjo, Jatim. Diperlihatkan satu bonsai setengah jadi dari jenis golo gumantung yang tumbuh di atas batu. Bentuk batang ekstrim, dimana gerakan mempunyai lekuk tajam. Terlihat eksotis, tapi masih perlu banyak perlakuan untuk mendapatkan hasil sempurna, terutama di area percabangan dan batu sebagai aksesorinya.
Wawang Sawala yang jadi pembicara di acara diklat memberikan beberapa saran untuk peserta dengan melihat bakalan yang dicontohkan. Bakalan yang diambil merupakan koleksi milik Ketua PPBI Sidoarjo, Husni Bahasuan. Saat ditampilkan, bakalan ini sengaja diliarkan untuk menumbuhkan batang dan cabang.
Bentuk bonsai yang dicontohkan tumbuh di atas batu karang dengan kondisi yang kekurangan nutrisi atau biasa disebut sengsara. Dari itu, gerakan batang otomatis akan mempunyai lekukan tajam. Namun lekukan ini terhalang oleh dinding batu karang yang ada di bagian belakang tanaman.
Secara alami, kondisi ini menguntungkan, karena lekukan yang mengarah ke belakang akan dikembalikan ke depan. Gerakan ini memang alami dan tak diberikan perlakuan, sehingga pola gerakannya beragam dan tak mengarah pada satu titik saja (slenting). Untuk karakter batang, menurut pemiliknya, memang banyak dilakukan penempelan, agar lebih terlihat mempunyai karakter besar di bagian bawah.
Langkah ini diambil untuk memperkuat visual, karena di beberapa bagian batang terlihat rongga seperti gua dari bagian yang mati. Jadi, selain memperbesar penempelan juga mempertahankan kehidupan tanaman. Cabang yang muncul baru terlihat kuat setelah melewati tinggi dinding batu karang dan itu sangat mendukung konsep yang diusung, dimana akan mencirikan satu tanaman yang tumbuh di atas batu karang, tapi tetap hidup dengan baik.
Setelah dilakukan pemotongan dahan dan daun awal, maka bentuk dan sudut pandang bonsai mulai terlihat. Keunggulan di batang dan percabangan juga lebih menonjol dan berkarakter. Namun kekuranagn yang dimiliki juga terlihat jelas, terutama di bagian percabangan atas dan muka.
Lekukan Harus Harmonis
Meski sebagai produk seni yang mempunyai kreasi luas, pembentukan bonsai tetap harus mengikuti pakem dan aturan tertentu. Salah satunya adalah harmonisasi antara bagian atas dan bawah. Di situ, terlihat kalau batang bawah yang berliku kurang diimbangi dengan lekukan pada cabang.
“Cabang atas harus mengikuti kontur bagian bawah. Bila tidak, akan terlihat janggal,” tandas Wawang yang juga jadi Tokoh Bonsai Nasional ini.
Langkah itu diambil untuk menyempurnakan gerak dasar tanaman yang jadi satu item penting saat kontes. Sebagai orang awam, dipastikan akan lebih mudah untuk menikmatinya. Konsep memang berbeda di setiap kepala para pebonsai dan kali ini memang Wawang sengaja mengeluarkan pendapatnya dari pengalaman membuat bonsai dari tahun 70-an. Di situ, konsep yang mudah dipahami akan lebih menarik, karena tak semua pebonsai dan pecinta bonsai mempunyai jiwa seni sama saat menikmati bonsai.
Beda Batu dan Tanaman Harus Jelas
Dilihat dari depan, ada satu hal yang mengganggu adalah perbedaan antara batang dan batu karang kurang kontras. Kondisi ini terjadi, karena kontur tua di batang akan bewarna kecokelatan. Warna ini sama persis dengan batu karang yang ada di bawah dan belakang tanaman.
“Penting untuk menunjukkan mana tanaman dan mana aksesorisnya,” imbuh Wawang.
Solusi yang ditawarkan olehnya adalah dengan mengurangi volume batu, terutama yang ada di belakangnya. Sebab dengan batu yang sedikit, otomatis tanaman akan lebih terlihat. Sang pemiliknya sendiri memberikan batas dengan membuat celah atau rongga antara tanaman dan batu, sehingga di bagian samping dan sisi belakang tanaman tak menempel pada batu. Namun cara ini masih kurang efektif, sehingga perlu adanya pengurangan batu atau pembesaran batang.
Untuk solusi pembesaran batang sepertinya lebih sulit, karena butuh waktu yang tak sedikit, sehingga pengurangan batu bisa jadi solusi tepat. Kondisi ini juga bisa diaplikasikan di semua jenis bonsai yang tumbuh di batu yang punya warna sama dengan tanaman. Bagaimana pun, tanaman yang utama harus ditonjolkan.
Muka Terlihat Jangan Datar
Selain mempunyai warna yang sama antara batu dan tanaman, bagian muka bonsai terlihat datar/flat. Kondisi ini bisa diakali dengan menumbuhkan cabang baru di bagian muka. Selain bisa mengurangi kesan flat, cabang baru ini juga bisa membentuk dimensi bagus. Cabang yang dimaksud kebetulan sudah dimiliki oleh batang, tapi baru sebatas tunas kecil, sehingga masih perlu waktu lama untuk menumbuhkan dan membuatnya besar. Sebab, besar cabang harus seimbang dengan batang.
Kesimbangan ini memang diperlukan untuk memberikan kesan luas dan jauh saat kita menikmati bonsai. Di situ dengan bagian muka yang datar, maka dimensi yang dimiliki masih terasa kurang, meski di bagian belakang tumbuh cabang yang ikut membantu. Cabang di depan juga bermaksud untuk memudahkan proses finishing.
Pencarian dimensi tak harus dengan menumbuhkan cabang baru di depan atau di belakang, tergantung dari kasus yang ada. Di sini, tentu tak mungkin untuk memperlihatkan ada cabang di belakang, karena tertutup oleh batu, sehingga solusinya memberikan kreasi di bagian muka dengan menumbuhkan cabang baru.
Naik ke bagian atas, terutama untuk menentukan tajuk dan bagian kepala bonsai sudah mempunyai arah yang bagus, dimana gerakan cenderung mengarah menjahui tebing. Ini sangat mencirikan adanya hembusan angina, membuat pohon lebih mengarah ke bagian tertentu. Bonsai dengan konsep satu arah atau slenting sepertinya kurang tepat diberikan, karena gerakan batang dan cabang kurang mendukung. [wo2k]
Aturan untuk Mengasah Jiwa Seni
Memang kadang banyak pemilik bonsai yang mengatakan kalau bonsai merupakan produk suka-suka. Sebab, setiap orang punya pandangan dan prinsip yang berbeda untuk membuat satu bonsai. Pada hasil jadi, tentu akan berbeda juga, karena perlakuan yang tak sama.
Anggapan ini memang tak salah, tapi tidak bisa dibenarkan juga. Menurut Wawang, teknik bonsai tetap mempunyai koridor yang ada batasannya. Itu ibarat seni rupa, tetap ada batasan. Proses suka-suka di sini harus tetap ada di dalamnya. Salah satu contoh yang paling mudah adalah saat proses penjurian.
Bila tak ada batasan dalam bonsai, bagaimana bisa terjadi satu kontes, karena dalam kontes tetap ada standar penilaian. Standar penilaian ini yang dibuat dari aturan yang sudah dibakukan, sehingga tetap ada aturan untuk membuat bonsai. Memang pebonsai bisa disebut sebagai seniman dan seniman akan sangat terganggu bila ada yang menghalangi ide dan kreatifitasnya. Di situ, bila memang  sebagai seniman asli, maka akan mematuhi aturan yang ada.
Pembentukan aturan juga sangat diperlukan bagi penghobi baru yang mulai menggarap bonsai. Sebab, dalam aturan diberikan juga batasan mana yang boleh dan tidak boleh dalam penjurian, sehingga bagi pemula akan lebih mudah untuk mengembangkan jiwa seni bila sudah ada garis besar yang digunakan sebagai pedoman.
“Bagaimana selanjutnya, akan menyesuaikan dari keinginan pemiliknya,” tandas Wawang. [wo2k]

One thought on “Melihat Konsep Bonsai Setengah Jadi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s