Silangan Ala Greg Hambali

Ciptakan Aglaonema Secara Imajinatif
Ketika melakukan sebuah kegiatan melukis, mungkin akan terbayang di benak kita konsep yang akan dituangkan dalam media kanvas. Setidaknya, hal ini meliputi komposisi warna yang akan digunakan, latar belakang yang tepat, dan motif apa yang akan ditampilkan.
Mungkin filosofi itu cocok dalam menggambarkan proses perkawinan tanaman, terutama aglaonema. Tak sekedar mengkawinkan satu indukan ke indukan lain. Dalam menyilang aglaonema, sebaiknya kita memiliki konsep yang jelas. Konsep macam apa itu?
“Sebenarnya dalam menyilang, kita harus memiliki konsep. Itu tak ubahnya melukis, harus tahu bagian mana yang ingin ditonjolkan, baik dari garis sampai motif yang kita siapkan,” kata Gregori Garnadi Hambali, Pakar Botani dan Bapak Aglaonema Indonesia saat ditemui dalam pelatihan tentang penyilangan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) belum lama ini.
Hanya, lanjut Greg, dalam media penyilangan, bahan yang disiapkan adalah indukan yang sudah memiliki sifat yang identik. Aglaonema rotundum misalnya. Selain memiliki motif dan urat cantik, jenis ini memiliki keunggulan di warna merah yang bisa ia turunkan pada sang anak. Tips untuk memilih indukan, tak ubahnya memilih seorang orangtua dengan segenap sifat positif.
“Misalnya, hidung mancung dan mata lentik. Hal yang sama juga terjadi di aglaonema. Bentuk daun, warna, dan urat adalah bagian yang harus terkonsep. Barulah kita bisa jadi ‘bidan’ (sebutan Greg untuk mereka yang menyilangkan dan membantu proses pemuliaan dan budidaya, red) aglaonema,” ujar Greg.
Maka, dalam mencari indukan – seperti rotundum, Greg sangat selektif. Meski tersedia banyak indukan yang ia dapat dari alam, ia hanya berani mengambil beberapa diantaranya. Biasanya meski tersedia 1000 jenis aglaonema, ia hanya perlu 300 jenis. Asal jumlah 300 itu memiliki keistimewaan dan karakter kuat. Begitu juga jika Anda ingin mendapatkan silangan berkualitas, maka harus seperti itu.
Selain itu, dalam hal daya tahan sebaiknya juga diperhatikan. Saat ini, Greg menyinggung banyak aglaonema cantik yang dijual bebas di pasaran dengan keindahan warna yang menyala. Hanya setelah dipelihara beberapa hari, tanaman terlihat layu dan tak berumur panjang.
“Biasanya orang terpacu ingin cepat kaya dengan cara instan, dimana proses penyilangan yang dilakukan terlalu terpacu dalam hal estetika saja, sehingga aglaonema seolah memiliki paras cantik, tapi sering alergi dalam segala hal,” ungkap Greg.
Sekilas Teknik Penyilangan
Waktu dan kondisi buah dalam proses persilangan berpengaruh penting dalam hal produksi aglaonema silangan. Sebab, dalam kondisi tertentu beberapa bagian sering melakukan perubahan. Perubahan warna buah juga sering digunakan untuk patokan kapan panen bisa dilakukan.
Menurut Greg, persilangan aglaonema sebaiknya dilakukan pada pagi hari, kira-kira sebelum jam 07.00. Sebab, di waktu ini seludang bunga sedang terbuka. Hanya dalam 1-3 hari sebelum seludang, pembungaan terbuka penuh. Untuk mengetahui serbuk sari, biasanya zat ini berbentuk tepung halus. Setelah ketemu, bahan ini bisa dioleskan ke kepala putik bunga yang dijadikan indukan betina dengan menggunakan kuas halus yang sebelumnya telah disapukan dulu ke lendir kepala putik untuk mempermudah mengambil serbuk sari.
“Setelah proses persilangan dilakukan, sebaiknya tongkol bunga segera ditutup dengan menggunakan kantong plastic. Tujuannya, untuk menjaga kelembaban. Serbuk sari yang tersisa bisa disimpan dalam botol kecil tanpa tutup. Kemudian dimasukkan dalam tupperware yang dasarnya telah ditaburi silica gel untuk keperluan penyerbukan selanjutnya,” terang Greg.
Meski secara teoritis cara penyimpanan ini bisa memperpanjang masa pakai serbuk sari, sebaiknya serbuk sari yang tersedia secepat mungkin digunakan. Penyerbukan yang berhasil, ditandai dengan pembesaran bakal buah dan dalam waktu 6-8 bulan siap panen. Itu juga bisa dilihat dari perubahan warna buah dari hijau, coklat atau putih ke merah.
Greg menambahkan, untuk sinkronisasi pembuangan indukan betina dan jantan, tanaman indukan bisa dirangsang untuk berbunga dengan penyemprotan GA3 pada konsentrasi 50 sampai 100 ppm. Untuk mengatasi kemandulan tanaman indukan bisa dilakukan penggandaan jumlah kromosom dengan perlakuan colchicines. Cara ini relatif sulit dan mahal. [adi]
Kotoran Kelelawar untuk Pupuk
Sebagai tanaman yang baru saja diciptakan (varian silangan) dengan struktur kromosom yang belum jelas, khusunya aglaonema, membuat jenis ini sangat rentan diserang penyakit. Sejumlah serangga, jamur, dan bakteri seakan sudah mengantri untuk menikmati dan merusak keindahan daun yang sudah tercipta.
Sebagai tokoh yang sangat kenal dengan aglaonema, terutama jam terbangnya yang tinggi dengan silangan, membuat Greg memiliki cara sendiri untuk mengatasi hal ini. Selain memberinya dengan pupuk yang berbeda merk setiap kali pemupukan, ada cara unik dan alami yang konon telah dipelajari Greg dalam ekspedisinya keluar-masuk hutan (untuk mencari varian tanaman baru).
“Sebagaimana jenis lain, aglaonema juga sering ditemukan hidup di alam bebas, seperti hutan. Selain sudah memiliki daya tahan terhadap serangan parasit, beberapa jenis terlihat tumbuh subur di sebuah tempat, karena bahan-bahan tertentu yang tentunya disediakan oleh alam,” jelas Greg.
Adalah kotoran kelelawar. Konon, cara ini didapatnya ketika ia sedang jadi penasehat kebun seorang pejabat di Kalimantan sekitar tahun 70-an. Saat itu, ia dan rekan pejabatnya rajin keluar-masuk hutan untuk mendapatkan indukan berkualitas. Dan beruntungnya, Greg menemukan cara ini yang konon digunakannya sampai sekarang.
“Saat itu, saya menemukan aglaonema yang tumbuh di tepi hutan di atas route terbang kelelawar. Anehnya, tanaman itu sangat cantik dan tak terlihat sedikit pun serangan parasit di tubuhnya,” kata Greg.
Sejak saat itu, ia yakin kalau bahan ini sangat baik untuk menjaga aglaonema dari ancaman parasit, seperti jamur dan bakteri. Setidaknya, keyakinannya ini didasari oleh berhasilnya sang aglaonema bertahan dengan kecantikan dan dengan daun membesar yang ia lihat saat itu.
“Pada dasarnya, bahan ini mengandung bakteri, tapi sifatnya baik. Cara penggunaannya biasanya langsung disemprotkan ke tanaman ketika bahan ini di cairkan,” imbuh Greg.
Sangat mudah dan alami sesuai dengan pelajaran yang telah diberikan di alam. Ada juga trik yang biasa digunakan Greg ketika aglaonema koleksinya bermasalah dengan bakteri, yaitu dengan menggunakan sirih. Bahan ini dipercaya bisa memusnahkan bakteri, karena bahan yang sama konon juga sering berhasil digunakan untuk mengatasi luka pada manusia. [adi]

3 thoughts on “Silangan Ala Greg Hambali”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s