Nepenthes

Agar Tak Terancam Punah
Sungguh sial nasib tanaman ini. Sudah tak bisa tumbuh di sembarang tempat, eksplorasi hutan besar-besaran, dan penjarahan tanaman jenis ini oleh masyarakat – karena permintaan yang tinggi – membuatnya terancam punah. Nephentes atau kantong semar. Begitu tanaman ini biasa disebut orang. Jika dilihat dari bentuknya, mungkin kita paham mengapa jenis ini disebut sebagai kantong semar. Dari ujung daun, keluar bagian yang menyerupai kantong beserta tutupnya. Sedangkan nama semar, mungkin bentuk kantongnya yang membulat seakan mengingatkan kita pada sosok pewayangan fenomenal, Semar. Tak hanya lucunya kantong yang keluar di ujung daun, warna-warni yang keluar juga membuat tanaman ini kian populer di kalangan pecinta tanaman hias unik. Selain hijau dan merah, warna gelap tak jarang keluar dari kantong yang ukurannya bervariasi antara sebesar ujung kelingking sampai sebesar botol minuman soda ukuran 1,5 liter. Selain bentuk kantong dan warna, tanaman ini juga memiliki keindahan lain, membuat tanaman ini patut jadi incaran untuk dikoleksi. Sebut saja duri yang muncul secara bermotif di beberapa bagian kantong. Beberapa bagian bahkan ada di langit-langit tutup kantong, sehingga tak ubahnya kita melihat sebuah sosok binatang buas bertaring. Namun dari beberapa keistimewaan tanaman ini – satu hal yang pasti – legenda tanaman ini yang terkenal pemakan daging, mungkin yang membuat nama kantong semar sangat fenomenal. Sayangnya, keunikan dan eksotik kantong semar mesti terbayar dengan rusaknya habitat asli di alam.

“Permintaan yang tinggi akan tanaman ini, membuat masyarakat sekitar berbondong menjarah tanaman ini dari hutan, tanpa berpikir dampak yang diakibatkan. Hasilnya, jumlah kantong semar di hutan menurun drastis dan rusaknya habitat di alam,” kata Petani Nepenthes di Banjarbaru Kalimantan Selatan (Kalsel), Sumarno.

Meski begitu, menurut Sumarno, kini masyarakat kian sadar – dengan mulai menanam tanaman ini dan membudidaya, agar jumlahnya tetap terjaga. Terbukti, di beberapa tempat nepenthes sangat mudah ditemui, seperti di Bogor dan Malang. Bahkan jauh lebih menguntungkan, menanam sendiri kantong semar rupanya memiliki banyak keistimewaan. Dari segi harga dan kualitas tanaman, cara ini dianggap lebih menjanjikan. Kenapa Kantong Semar Mati Setelah Dibawa Pulang? Ada beberapa trik yang sering digunakan jika Anda ingin membawa pulang salah satu jenis tanaman endemik ini. Mulai dari pembelian macam tanaman sampai perawatan adalah beberapa hal yang patut dicermati. Jika tidak, pertanyaan – “Mengapa kantong semar saya mati setelah dibawa ke rumah.” – akan senantiasa mengganggu Anda. Sumarno mengatakan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh penggemar nephentes untuk memindahkan habitat aslinya di hutan ke rumah, yaitu jenis nephentes, proses perawatan, dan media tanam yang cocok untuk tanaman ini. “Jika hal itu dilakukan, dimana pun Anda berada, tanaman ini akan hidup dan keluar kantong seperti di habitat aslinya di hutan tropis,” imbuh Sumarno. Pemilihan tanaman sering tak diperhitungkan bagi siapa saja yang ingin membawa pulang tanaman ini. Terlebih jika ada tanaman dengan harga yang lebih murah. Di pulau Kalimantan misalnya. Di beberapa pasar tradisionalnya, nephentes sering dijual dengan harga super mura, yaitu antara Rp 5 – Rp 10 ribu. Dan lebihnya lagi, biasanya barang yang ditawarkan pun sering beragam dengan warna-warni dan jenis yang klasik dan langka. Tapi jangan salah, harga yang murah rupanya tak bisa menjamin keindahan tanaman begitu sudah keluar pulau. Sebab, selain ada petugas yang siap menyita barang Anda, kondisi alam yang berbeda dan didukung adaptasi yang kurang baik dari hasil mencabut di hutan, membuat tanaman tak akan hidup lebih lama. “Biasanya tak sedikit pedagang di pulau Kalimantan yang mengambil langsung nephentes dari hutan, tanpa didahului proses budidaya. Itu sangat berpengaruh, karena proses adaptasi tanaman yang tak dibudidaya sangat sulit, bahkan sering mengalami kegagalan pertumbuhan alias mati ketika dibawa ke luar pulau Kalimantan,” ungkap Sumarno.

Selain itu, jika Anda mengambil dan membawa pulang nephentes dari hutan Kalimantan, bisa jadi Anda akan terjerat dalam hukum perlindungan tanaman langka. Sebagaimana disebutkan dalam peraturan pemerintah No.7 tahun 1999, dimana kantong semar atau nephentes masuk dalam daftar tanaman langka yang dilindungi.

Setelah mendapat nephenthes yang sudah cukup bisa diadaptasi alias nephentes budidaya, baru Anda boleh berpikir proses perawatan. Pada dasarnya, perawatan yang diperlukan sangat mudah. Kita hanya harus bisa mengetahui karakteristik tanaman ini, sebagaimana tempat awal dia tinggal. “Biasanya, tanaman ini senang dengan kelembaban tinggi. Selain itu, nephentes juga tidak suka dehidrasi, sehingga pentingnya menjaga media tanam tetap basah adalah kunci utama,” ujar Sumarno. Bagaimana untuk mendapatkan hal tersebut? Menurut pengalaman Sumarno, penambahan media lumut (sebagaimana habitat aslinya) adalah cara tepat. Lumut yang terpelihara dengan baik umumnya mampu membuat lingkungan jadi lembab. Dan, hal itu yang paling disukai nephentes. Lumut biasanya digunakan sebagai medita tanam pelengkap yang biasanya ditumpuk di bagian atas setelah tanah. Uniknya, keberadaan lumut sangat berpengaruh pada nepenthes. Itu yang akhirnya sering dijadikan indikasi media tanam baik atau kurang – bahkan buruk – terutama untuk nephentes. “Biasanya untuk membuat tanaman tetap hidup, indikasinya lumut yang digunakan tersebut media tanamnya harus selalu hijau (masih hidup). Caranya, dengan sering menyiramnya,” terang Sumarno. Jika lumut sudah mati atau berwarna coklat, untuk menyelamatkan nephentes sebaiknya lumut segera diganti. Seperti CD orisinil dan bajakan, tak jarang pautan harga antara nephentes yang diambil dari hutan dan hasil budidaya sangat berbeda jauh. Bayangkan, untuk mereka yang mengambil dari hutan harga antara Rp 5 – Rp 10 ribu. Sedangkan setelah dibudidaya, tanaman ini minimal dihargai Rp 50 ribu. [adi]

One thought on “Nepenthes”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s