RCN vs Petchnawang

Perhatikan Ranting dan Daunnya

Jarang berbunga, tapi mahal harganya. Tak memiliki bonggol unik, tapi banyak yang melirik. Itulah kelebihan dan keunikan yang sudah bukan jadi rahasia lagi pada adenium seribu ranting, arabicum.

Meski termasuk tanaman senang panas dan berisfat sukulen, adenium merupakan salah satu jenis tanaman berdaun dan berbunga. Namun bukan karena itu yang sedang akan kita bicarakan sekarang. Sebab, tanaman yang bisa hidup sampai berminggu-minggu tanpa tanah ini, konon juga memiliki jenis klasik, dengan keistimewaan pada ranting yang menawan.
Sosoknya asing dan terkesan superior, dengan penampilan ranting yang menawan bak pohon bonsai kontemporer yang sudah terkena tangan senimannya. Sering berukuran mini, tapi jenis yang berukuran besar pun tak jarang memiliki keunikan yang tak mau kalah. Itulah ciri utama tanaman adenium dari jenis arabicum.
Di pasaran, ada dua jenis arabicum yang sering jadi obrolan hangat pecinta adenium klasik atau unik ini, yaitu jenis arabicum RCN (Ra Che Ne Pandok) dan arabicum petchnawang. Karakter ranting yang kuat dan sosoknya yang khas, membuat kedua jenis ini sangat populer di setiap kali pameran atau kontes tanaman jenis ini.
Sekilas jika kita baru mengenalnya, hampir tak ada perbedaan antara kedua jenis arabicum ini. Bonggol yang formal, dengan ditumbuhi banyak ranting adalah ciri umum kedua jenis arabiucum ini.
Pebisnis dan Kolektor Adenium di Solo Jawa Tengah (Jateng), Joyo, mengatakan terdapat dua perbedaan yang mendasar antara RCN dan petchnawang. Hal ini biasanya dapat dilihat dari dua segi, yaitu ranting dan daun. Untuk ranting RCN, umumnya pola tumbuhnya khas, yaitu sering mengarah ke atas dan hampir tak ada percabangan.
“Biasanya ranting yang muncul dari bonggol, langsung mengarah ke atas dan biasanya bersifat tunggal sampai bagian yang ditumbuhi daun,” ujar Joyo.

Sedang untuk ranting petchnawang, umumnya memiliki cirri khas dengan tumbuh menyamping. Selain itu, ranting yang tumbuh lebih bercabang dan banyak, sehingga ranting seperti pohon tua yang rindang. Di luar itu, hampir tak ada perbedaan selain bentuk daun kedua jenis ini yang berbeda. Jika pada jenis RCN daun berbentuk lebih lonjong, sedang pada jenis petchnawang daun lebih lancip dan memanjang.
Perawatan Simpel
Meski terkesan unik dan ruwet, tanaman yang satu ini tak banyak menuntut dalam hal perawatan. Cukup penyiraman dua hari sekali dan menjaganya dari dehidrasi, itu sudah cukup. Untuk menentukan dehidrasi, biasanya dapat dilihat dari bentuk daun. Jika bentuk dan warnanya tidak aneh, itu berarti daun sehat. Namun jika daun berubah dan jadi lemas, bisa jadi daun kekurangan air atau dehidrasi.
Selain itu untuk menunjang tanaman tidak terlalu porous, namun tidak terlalu menyimpan air adalah sifat media yang diperlukan tanaman. Sekam bakar, akar pakis, srintil (kotoran kambing), dan pasir malang adalah beberapa media yang sering digunakan untuk mendapatkan media tanam yang sesuai.
Untuk mendapatkan jenis yang satu ini, mungkin Anda akan mengeluarkan uang lebih jika dibandingkan dengan jenis adenium lokal biasa.

Untuk jenis RCN, biasanya dengan tinggi sekitar 30 cm, bandrol yang sering saya keluarkan sekitar Rp 500 ribu. Sedang untuk jenis petchnawang, umumnya lebih mahal, yaitu sekitar Rp 1,5 juta per tanaman,” ungkap Joyo.

Meski begitu jika dibandingkan dengan jenis lokal, jenis ini tetap memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan itu diantaranya, harga lebih mahal dan bonggol yang terlihat kurang ber-estetika, itu jika dibandingkan dengan bonggol lokal. [hyo]

Arabicum Hibrid
Selain beberapa jenis yang sudah ada – dalam pengembangannya – arabicum telah sampai pada penurunan beberapa generasi. Standarisasi generasi tersebut, umumnya dilihat dari ciri dan kebiasaan yang sudah menyimpang. Itu meski sedikit sama dengan istilah mutasi yang sudah melalui proses pemuliaan.
Sekilas, bentuk yang dimiliki arabicum hibrida sama dengan arabicum pada umumnya. Hanya di beberapa bagiannya, memiliki perbedaan yang mencolok. Dan hal ini yang akhirnya membedakan arabicum, sesuai dengan klasifikasi generasinya.
Dalam hal bonggol dan ranting misalnya, warna semi silver yang kental terlihat, meski hanya pada cahaya seadanya, membuat jenis ini sangat mudah dikenali sebagai arabicum RCN generasi baru. Dari segi daun, arabicum RCN juga mengalami sedikit perubahan sifat yang membuatnya berbeda dengan jenis pendahulunya.
“Jika pada jenis sebelumnya – daun yang ada berbulu – pada jenis baru – daun terasa halus jika dipegang. Dan Arabicum RCN hybrid, memiliki daun dengan warna yang lebih cerah,” jelas Joyo.
Selain itu, perbedaan menonjol juga sangat terasa pada proses pertumbuhan generasi baru yang optimal. Umumnya, arabicum hybrid generasi baru memiliki tingkat perkembangan yang sangat cepat. Bahkan jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya – dengan usia dua kali lebih tua – generasi tua memiliki ukuran yang sama dengan arabicum hybrid.
Jika diukur secara urutan, arabicum hybrid menempati generasi kedua setelah arabicum konvensional sebelumnya. Hal ini diurutkan dari arabicum spesies yang dikembangkan melalui proses persilangan dan pemuliaan.
“Bisa disebut ini adalah keluaran baru setelah proses penyempurnaan,” tandas Joyo.
Sebagaimana jenis unggul atau silangan yang lain, salah satu varietas arabicum RCN ini didatangkan langsung dari negeri gajah putih, Thailand. Tak sedikit orang Indonesia yang menjual tanaman ini, sehingga jika dibanding dengan arabicum yang lain, mencari jenis ini relatif sulit. Dan jika pun ada, harganya tak jarang bisa dipatok selangit.
“Untuk koleksi saya ini, dengan tinggi 30 cm dan usia lebih dari dua tahun, saya jual dengan Rp 2 juta per tanaman. Dan harga ini wajar, mengingat jumlah varian ini yang belum banyak dijumpai di pasaran Tanah Air,” kata Joyo. [hyo]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s