Ketika Jatim jadi Pusat Anggrek Nasional

Genjot Produksi dan Sosialisasi Pertanian Modern

Tanaman apa yang tetap bertahan saat krisis ekonomi melanda Tanah Air? Jawabnya, anggrek. Kemudian tanaman apa yang tetap terjual tanpa mengikuti tren dan persiangan pasar tanaman hias?Jawabannya adalah anggrek. Dan tanaman apa yang memberikan gengsi pada pemiliknya, karena dikenal susah dipelihara?Jawabannya adalah anggrek.

Anggrek memang tanaman sepanjang masa yang terkenal dengan keindahan bentuk dan warna bunga. Di Tanah Air, hampir setiap daerah mempunyai jenis tanaman ini, baik yang ada di hutan maupun tinggal di rumah-rumah para kolektor. Beruntung sekali untuk wilayah di Jawa Timur (Jatim), karena wilayah ini mempunyai potensi anggrek terbesar di Indonesia.

Meski bisa tumbuh di wilayah panas, tetap saja lokasi yang dingin dengan jarak lebih dari 500 m dari permukaan air laut, jadi habitat terbaik tanaman ini. Di sini, Jatim menempatkan pelaku industri anggrek di kawasan Pacet-Mojokerto, Prigen-Pasuruan sampai Batu-Malang. Ketiga lokasi ini yang memberikan andil paling besar untuk menjadikan Jatim sebagai propinsi anggrek.

Menurut Pembudidaya dan Tokoh Anggrek Nasional asal Prigen Jatim, Wirakusuma S, potensi anggrek di wilayah ini lebih pada kombinasi silangan serta perbanyakan. Sebab, selain komunitas yang sudah terbentuk, pasar juga sudah merespon baik produk yang dihasilkan dari ketiga lokasi di Jatim ini.

“Memang Kalimantan dikenal dengan anggrek asli hutan, namun secara kualitas dan kuantitas, Jatim punya keunggulan,” ujar Wirakusuma.

Memang bila dilihat keberhasilan ini tetap didukung oleh pasar yang tetap stabil, tanpa terpengaruh terhadap fluktuasi kondisi ekonomi dan ternama tanaman hias. Sebab, bagaimana pun tanaman hias tetap bisa bertahan, bila tetap ada penghobi dan pembeli serta pembudidaya, sehingga rantai bisnis masih tetap berjalan.

Keberhasilan ini memang tetap ditunjang dari komitmen tiap-tiap pelaku industri tanaman anggrek. Sebab, di Tanah Air selain daerah kaki gunung Arjuno, Jakarta dan Bandung jadi lokasi yang cukup potensial dalam pengembangan anggrek. Di wilayah ini, banyak berdiri para petani anggrek dan pembudidaya yang mampu melakukan perbanyakan secara masal.

Pertahankan Produk Indonesia
Sebagai tanaman yang bisa tumbuh baik dan banyak terdapat produk spesies asli, maka perbanyakan produk lokal jadi salah satu konsentrasi dari pelaku industri anggrek nasional. Sebab, saat ini memang masih banyak anggrek impor yang memenuhi pasar Indonesia, terutama dari Taiwan dan Thailand. Padahal bila dilihat dari kualitas, tidak ada bedanya, bahkan bisa lebih baik produk lokal.

“Kita masih kalah di proses perbanyakan,” tandas pria yang menggunakan bendera Edward&Frans orchid ini. “Penyebabnya memang cukup kompleks, tapi bila dilihat dari teknologi, sebenarnya sudah dikuasai. Hanya mahalnya peralatan dan sumber daya yang ada, membuat proses perbanyakan masal hanya dilakukan oleh perseorangan. Akibatnya, tentu terjadi ketimpangan antara permintaan dan produksi yang mengakibatkan terjadinya impor produk,” lanjutnya.

Di situ dengan menggandeng Deptan, komunitas anggrek, seperti Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) maupun Asosiasi Pedagang Anggrek Indonesia (APAI), membuat program untuk melakukan perbanyakan spesies unggulan Indonesia. Langkah ini dinilai sangat penting untuk menunjukan citra anggrek nasional di mata internasional. Selain itu, juga untuk membentuk satu ciri khas produk dari nusantara.

Jalur Ekpor Mulai Fleksibel
Dari data Departemen Pertanian (Deptan) sendiri, ekspor anggrek nasional tahun 2006 hanya US$ 1,5 juta. Angka ini sangat kecil dibandingkan nilai perdagangan anggrek internasional yang mencapai US$ 250 juta. Kendalanya, selain dari produksi juga jalur birokrasi yang cukup memberatkan.

Untuk ijin ekspor anggrek disamakan dengan ekspor komoditas lainnya dari perusahaan besar dengan segala kelengkapannya. Sedangkan untuk petani anggrek, sebagian besar dalam kelas Usaha Kecil Menengah (UKM), sehingga banyak yang memutuskan untuk menghindari menjual ke pasar luar negeri, mengingat syaratnya yang sulit.

“Mulai akhir tahun 2007 kemarin, khusus untuk anggrek syarat itu dipermudah dan petani UKM sudah bisa memasarkan produknya keluar negeri,” ujar Wirakusuma. “Langkah ini tentu disambut gembira oleh pelaku industri anggrek, karena pasar luar negeri memang sangat besar, terutama di Singapura, Belanda, Taiwan, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Kanada,” tambahnya.

Terlebih saat musim gugur di negara sub-tropis, maka bunga didatangkan langsung dari luar dan itu jadi pasar yang sangat efektif. Dengan ekspor yang mulai tumbuh, maka setidaknya akan ada peningkatan kualitas dari petani anggrek. Dan efek multi-player akan dinikmati oleh industri pendukungnya. Kelemahan yang ada saat ini adalah kurangnya modifikasi anggrek yang dilakukan oleh petani anggrek untuk menghasilkan satu jenis baru yang bisa jadi simbol atau ciri khas.

“Di luar negeri, petani anggrek kerjaannya melakukan silangan untuk cari hasil baru,” imbuh Wirakusuma.

Selanjutnya, dari hasil ini ditawarkan pada industri budidaya besar untuk diperbanyak dan dipasarkan. Dari sistem tersebut, akhirnya membuat produksi anggrek jadi lebih banyak dengan memunculkan jenis baru.

“Metode seperti ini yang harusnya ditiru, baik oleh petani maupun pemerintah,” tegas Wirakusuma.

Langkah ini juga sebagai proteksi anggrek nasional, karena koleksi penting, seperti paphiopedilum javanicum, phalaenopsis javanica, dan phalaenopsis gigantia saat ini lebih banyak dimiliki kolektor dari luar Indonesia, seperti kolektor dari Taiwan, Thailand, dan Eropa. [wo2k]

Boks
Even untuk Pendidikan
Berbicara mengenai even, ditemui saat even bertajuk Anggrek Show di Surabaya awal bulan April ini, pencipta anggrek dendrobium Indonesia Raya ini mengaku lebih menitik-beratkan pada pendidikan. Sebab, bagaimana pun proses sosialisasi harus tetap berjalan untuk menjaring para penghobi baru dan lebih penting lagi adalah regenerasi.

Di situ, even yang digabungkan dengan acara tahunan PAI Surabaya ini, jadi ketiga kalinya setelah Bandung dan Jakarta. Sebab, selain bursa, kontes serta workshop, juga digelar untuk memberikan ilmu dan inspirasi bagi pelaku industri anggrek. Bahkan, panitia juga mengundang penghobi anggrek dari luar negeri, seperti Thailand, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Philipina.

Selain itu, peserta lokal selain dari Jatim juga dari Sulawesi Tengah, Jogjakarta serta Sumatera. Sayangnya, kemeriahan dari even terbesar awal tahun ini sedikit ternoda dengan ulah oknum tiketing yang secara sengaja mengambil untung dari pengunjung yang datang.

Modusnya, tiket yang sudah dibeli di kasir tidak disobek oleh penjaga pintu, tapi disimpan untuk dikembalikan lagi ke kasir untuk dijual kembali. Namun insiden ini tentu tidak mempengaruhi kemeriahan dan semarak anggrek, karena memang tidak ada even yang sempurna [wo2k]

3 thoughts on “Ketika Jatim jadi Pusat Anggrek Nasional”

  1. Ucapan terima Kasih bUat bapak sasongko di jogya
    kini saya bisa memulai bisnis ini pak..saya sangat senag sekali dengan bergabung di htpp://www.uangdahsyiat.com
    hasilnya sangat memuaskan dan saya buat modal tanaman hias
    salam Nando Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s