Category Archives: Anthurium

Hookeri Hijau Mini

Keindahan Varian Berstang Pendek

Sosok yang minimalis, semakin kecil – semakin dicari. Istilah itu mungkin cocok untuk menjelaskan fenomena pecinta tanaman hias saat ini. Bagaimana tidak, segala daya upaya sering dilakukan untuk membuat tanaman kerdil, seperti yang telah dilakukan pada bonsai. Dan sepertinya, hal ini juga terjadi pada anthurium, tanaman fenomenal.

Pada dasarnya, tidak semua jenis anthurium yang pertumbuhannya ‘irit’ disukai oleh pengagumnya. Jenis jenmanii misalnya, varian ini umumnya memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif lamban. Itu jika dibandingkan dengan jenis hookeri dan gelombang cinta (gelcin). Untuk itulah, memiliki jenis ini dengan ukuran raksasa dan urat daun yang sempurna adalah gengsi tersendiri bagi sang pemiliknya.
Namun bagaimana dengan gelcin dan hookeri? Kedua jenis ini menempati peringkat pertama dan kedua jika dibandingkan saudara bungsunya jenmanii dalam hal perbanyakan dan pertumbuhan. Seringnya kedua jenis tumbuh dengan cepat dan besar, membuat banyak pencintanya kini lebih melirik jenis dengan sifat menyimpang yang umumnya selain warna, juga dilihat dari kecepatan tumbuh yang lambat atau jika boleh memakai istilah bonsai pada anthurium.
Seperti halnya salah satu koleksi hookeri pebisnis di Surabaya yang satu ini, Ahmad Nur Hadi (karyawan, red). Ukurannya yang tak biasa, membuat jenis hookeri dengan tinggi tak kurang dari 40 cm di usianya yang lebih dari 1,5 tahun ini sempat ditawar hingga Rp 4,5 juta. Itu jelas harga fantastis, mengingat jenis ini paling mahal dihargai Rp 2 juta dengan usia yang sama. Continue reading Hookeri Hijau Mini

Anthurium Superbum

Memilih Aman dengan Bibit Spesies

United States Department of Agriculture Animal&Plant Health Inspection “Phytosanitary Certificate” mengeluarkan satu jenis anthurium yang konon selama ini tak boleh keluar dari negara asalnya, Florida Amerika Serikat (AS). Kini, pesona anthurium spesies ini sudah hadir di Indonesia.

Jenis anthurium ini lebih dikenal dengan nama lokal superbum. Diambil dari nama genusnya, Botanical Superbum. Jenis ini tergolong anthurium langka, karena memang spesiesnya tak bisa sembarang diadopsi oleh banyak negara. Indonesia beruntung memperoleh kesempatan memiliki varian anthurium asli Florida AS ini. Itu juga untuk memperkaya jenis anthurium Tanah Air.
Di tangan Pebisnis Anthurium di Malang Jawa Timur (Jatim), Prayogi, sertifikat kepemilikan anthurium botanical supebum sudah dikantongi. Hanya prayogi berhak membawa jenis bibitan superbum. Meski begitu, hal ini tak jadi soal. Toh di Indonesia sendiri, superbum masih membuat sebagian penggemar anthurium penasaran.
“Untuk indukan, memang sulit untuk membawanya langsung dari Florida. Sebab, selain tak ada ijin, jenis indukan akan lebih sulit untuk beradaptasi,” kata Prayogi.
Jenis Spesies Lebih Rentan
Pertimbangan untuk memilihara anthurium jenis spesies bukanlah perkara mudah, sehingga ia lebih memilih membawa pulang anthurium superbum dalam bentuk bibitan daripada indukan. Pertimbangan tak membawa indukan, karena rentannya struktur tanaman. Ditambah, proses adaptasi yang juga mempertimbangkan resiko yang dihadapi indukan.
Bisa jadi, tanaman akan mengalami perubahan selama proses adaptasi berlangsung. Ditambah pula, jenis anthurium superbum ini merupakan kategori spesies yang rentan pada perubahan, dimana banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan ini. Bisa dari faktor internal ataupun eksternal tanaman. Faktor internal bisa disebabkan oleh susunan genetik tanaman. Sedangkan faktor eksternal, cenderung dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Hampir semua jenis anthurium spesies, kata Prayogi, mengalami masa ini, dimana perubahan tampilan akibat banyak faktor ini berdampak juga pada proses pertumbuhan tanaman yang tak optimal. Berbeda jika proses adaptasi lingkungan dilakukan dari usia bibitan. Sifat perubahan pada tanaman bisa diminimalisir sekecil mungkin. Pemilihan tanaman usia bibit inilah jadi alternatif bagi sebagian orang saat mengimpor jenis spesies dari negara lain.
“Mengimpor anthurium usia bibit, jadi alternatif aman. Selain resiko perubahannya tak terlalu besar, biaya yang dikeluarkan pun tak terlalu besar juga,” imbuh Prayogi.
Untuk superbum bibit dengan 5-6 daun, harganya mencapai sekitar Rp 2,5 juta per tanaman. Harga ini sebanding dengan kualitas barangnya yang sudah menunjukkan karakter. [santi]
Jangan Terkecoh Pilih Bibit
Alternatif membeli tanaman usia bibit, bukan tanpa resiko. Masih ingat dengan kasus penipuan berkedok bibit anthurium? Banyak yang jadi korban tindak kriminal ini. Sebagai langkah aman yang bisa Anda lakukan jika tertarik dengan salah satu jenis bibit anthurium, yaitu pilih tanaman yang sudah menunjukkan karakter.
Misalnya, anthurium superbum, dimana karakternya sudah bisa dilihat ketika masih berusia 7-8 bulan. Adapun karakter yang ditampilkan pada superbum, terlihat dari tekstur daun yang bergelombang, baik di permukaan ataupun belakang daun. Dari segi kombinasi warna, anthurium superbum cenderung mengeluarkan karakter dengan dominasi merah keunguan.
Keunikan lain yang dimiliki dan jadi ciri tanaman ini ada di permukaan daunnya, dimana jika dilihat secara detil akan terlihat lapisan lilin berwarna putih. Konon, lapisan lilin di anthurium superbum ini berfungsi untuk mempertahankan karakter. Maka jangan heran, jika ada larangan untuk tak menyentuh bagian permukaan daun.
“Boleh saja disentuh, tapi jangan terlalu keras. Sebab, permukaan daun dipegang terlalu keras akan beresiko menghilangkan lapisan lilinnya,” ujar Prayogi. [santi]
Adaptasi lingkungan
Karena habitat aslinya ada di Florida, dimana struktur suhu dan cuacanya berbeda dengan Indonesia, bukan tak mungkin terjadi perubahan tampilan. Ditinjau secara fisiologis, perubahan akibat prsoses adapatasi ini pasti terjadi. Hanya jika diterapkan sejak bibit, perubahannya tak akan menyimpang jauh dari indukan.
Itupun, masih menurut Prayogi, tak berlangsung lama. Sebab, jika bibit sudah bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, ia akan tumbuh optimal di habitat barunya. Tentu proses ini akan melalui fase yang tak pendek. Alangkah baiknya bagi Anda yang membeli anthurium jenis impor untuk lebih memperhatikan kebutuhan tanaman, sehingga secara tak langsung akan memahami karakternya juga.
Seperti halnya penerapan media tanam yang juga membutuhkan perhatian. Karena anthurium merupakan jenis tumbuhan yang habitatnya di hutan, usahakan untuk menerapkan media sesuai dengan komposisi tanam aslinya. Untuk itulah, media dengan sifat porous (berongga) seperti pakis, pupuk kompos, dan kandang bisa dijadikan alternatif.
Prayogi mempunyai rahasia khusus dalam menerapkan pupuk urea yang berasal dari pembusukan tanaman. Ia lebih suka menggunakan rontokan daun mahoni untuk membuat pupuk kompos bagi anthuriumnya, dimana dalam mahoni terdapat kandungan unsur Nitrogen (N) yang tinggi dan berfungsi sebagai perangsang proses vegetatif tanaman, seperti pembentukan tunas dan buah.
Caranya, dengan memendam daun mahoni ke dalam tanah dan mendiamkannya hingga 2-3 hari. Itu dilakukan sebagai tahapan fermentasi dalam pembuatan pupuk kompos, barulah pupuk bisa digunakan. Namun ada satu alternatif bagi Anda yang ingin menerapkan pupuk mahoni, tapi tak memiliki lahan luas, yaitu hanya dengan menaburkan rontokan daun mahoni di atas permukaan media tanam.Biarkan hingga beberapa hari hingga membusuk dan mengering. [santi]

Anthurium Sirih

‘Mandul’, tapi Tetap Menghanyutkan

Tak selamanya, warna dan serat daun jadi isu menarik. Itu jika kita berbicara mengenai anthurium unik. Sebab, tanaman yang masih memiliki famili araceae ini juga memiliki jenis yang berdaun glamour dengan gemerlap warna dan kehalusan struktur daun di atas rata-rata yang terdapat pada jenis anthurium sirih.

Ia bernama sirih. Sebab, jenis satu ini sangat mirip dengan tanaman yang sering digunakan sebagai inang oleh orang-orang jaman dulu, yaitu sirih. Tak hanya bentuk, pola tubuhnya merambat (sedang anturium lain pada umumnya memiliki batang tegak), membuat kita seakan teringat oleh tanaman sirih yang biasa tumbuh menjalar.
Jika dibandingkan dengan jenis lain, jenis ini relatif memiliki harga jual dan purna jual stabil dan cenderung tinggi. Uniknya, hal itu terjadi sampai sekarang, dimana penjualan anthurium bisa dibilang agak lesu. Sekedar pantauan singkat, harga sirih saat ini untuk usia satu daun anakan hasil split dihargai Rp 300.ribu.
Sedangkan untuk usia dewasa atau daun berukuran lebih dari 30 cm, harga minimal Rp 8 juta (di atas harga jenmanii yang usia satu daun saat ini bisa didapat dengan harga Rp 100 ribu dan usia remaja dan dewasa sering dihargai minimal Rp 2 juta). Tak sedikit penjualnya beralasan, mahalnya tanaman ini dikarenakan susahnya sirih untuk dibudidayakan, juga perkembangannya cenderung sangat lambat.
Benar saja, dalam setiap keluar daun baru, jenis ini biasanya membutuhkan waktu lebih dari 3 bulan. Itu jelas waktu lama jika dibanding dengan jenis lain yang sering menelurkan daun baru setiap 2 minggu sekali. Jenis ini juga termasuk anthurium mandul dan susah untuk dikembang-biakkan.
“Umumnya, barang (anthurium sirih) yang saat ini beredar di pasaran adalah hasil split. Sebab, pada umumnya sirih susah keluar tongkol,” kata Pebisnis Anthurium di Ragunan Jakarta Selatan (Jaksel), Totok Gondowasito.
Menurutnya, meski permintaan tak sebanyak gelombang cinta, tapi permintaan sirih masih terus mengalir dengan harga yang relative tinggi. Itu membuatnya bersemangat untuk mempelajari teknik split pada anthurium.
“Biasanya anthurium sirih diperbanyak dengan cara ini. Ketika anthurium sirih berusia lebih dari 6 bulan, memiliki sedikitnya dua daun dan sudah keluar mata akar, itu adalah saat yang tepat untuk memisahkannya,” ujar Totok.
Selain susahnya tanaman ini mengeluarkan tongkol sebagai media perbanyakan, sirih termasuk satu diantara jenis anthurium langganan juara di setiap kontes anthurium. Hal ini tak terlepas dari tampilan daun yang sering memikat mata juri penilai. Dan bukannya kecelakaan atau malas keluar, tongkol yang sering keluar pun tak jarang sengaja dipotong untuk mempertahankan keindahan daun. Hal ini yang sering dilakukan oleh M Sutoyo Santoso, Pebisnis Anthurium di Solo Jawa Tengah (Jateng).

“Seperti anthurium yang lain pada umumnya, kemunculan tongkol sering mengganggu perkembangan daun, sehingga jika tak dipotong, daun yang keluar akan mengalami kecacatan. Misalnya, berlubang atau kerutan yang muncul, sehingga mengurangi estetika sirih,” ungkap pria yang sering mengikut-sertakan sirihnya dalam setiap kali ada kontes anthurium ini.

Pada dasarnya, lanjut Sutoyo, jika dilihat perkembangan tongkol sering jadi dilema sendiri bagi pemilik anthurium. Nutrisi yang terbagai jadi alasan mengapa salah satu bagian ini harus dikorbankan. Biasanya hal ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Jika ingin membudidaya, daun yang sudah besar harus rela berlubang.
Namun jika daun yang ingin dipertahankan, mau-tak-mau tongkol harus dipangkas. Paling tidak, hal itu yang jadi rahasia Sutoyo dalam mempertahankan kecantikan koleksi anthurium sirihnya. [adi]
Perawatan Benar, Tongkol pun Rajin Keluar
Meski terkenal dengan anthurium mandul, keluarnya tongkol pada anthurium sirih tak berarti harus merusak daun. Bahkan kedua bagian ini bisa tumbuh optimal dan menghasilkan anakan jempolan. Tak ada formula khusus untuk menjaga kedua bagian ini tumbuh dengan sempurna. Hanya perawatan dan pemahaman akan karakter tanaman, harus ‘benar’ diperhatikan.
Hal ini yang telah dicoba dan kelihatannya akan berhasil memperbanyak anakan sirih melalui perkembang-biakan biji. Adalah Hermansyah, Pebisnis Anthurium di Sleman Jogjakarta, merupakan satu diantara orang yang beruntung itu.
“Tak selamanya tongkol akan merusak daun dan sebaliknya. Dengan perawatan yang benar, kedua bagian ini bisa tumbuh secara berdampingan,” imbuh Hermansyah.
Perawatan yang benar, menurut Herman, adalah kebutuhan nutrisi dan media tanam yang tepat. Pemupukan harus stimulan dan memberikan pupuk beda merk paling tidak setiap 3 minggu sekali. Selain itu, dalam hal penyiraman dilakukan minimal 2 kali dalam sehari. Tujuannya untuk menhindari tanaman dari dehidrasi.
“Biasanya daun atau tongkol yang dehidrasi akan terlihat lemas. Jika hal ini dibiarkan, maka usia daun atau tongkol ini tak akan bisa lama,” imbuh Hermansyah.
Namun perawatan standar ini tak selamanya berlaku dan sama di setiap tempat. Ini tentu saja tak berlaku di semua tempat, karena umumnya beda tempat – beda pula perawatan. Misalnya, proses penyiraman harus sering dilakukan di daerah-daerah dataran rendah dibanding dengan daerah dataran tinggi, karena tingkat dehidrasi tanaman di dataran rendah sangat tinggi.
Bahkan tak hanya perkembangan daun dan tongkol yang sempurna, modifikasi lingkungan juga dapat menciptakan keunikan pada warna anthurium. Dengan kata lain, warna yang konon hanya bisa dimunculkan di daerah dataran tinggi pun bisa diciptakan di daerah dataran rendah.
Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dipenuhi dalam setiap pemeliharaan anthurium. Diantaranya, sirkulasi angin, kesejukan ruangan, dan perawatan yang intensif dilakukan setiap harinya. Meski begitu, daerah yang berpengaruh dengan lingkungan tak selalu berpengaruh pada keluarnya warna pada anthurium.
“Dimanapun juga tanaman bisa dicetak jadi cantik. Asal kita dapat menciptakan suasana tiruan, sehingga tanaman jadi nyaman (sedikit banyak mendekati lingkungan di dataran tinggi),” jelas pria berkacamata ini. [adi]

Lidah Naga Super

Tampilan Minisize karena Faktor Lingkungan

Dulu, pernah muncul anthurium lidah naga dengan keunikan di ujung daun yang membentuk tekstur membelah mirip lidah reptil. Dengan struktur tubuh normal lebih dari 1 meter, membuat tampilannya semakin aduhai. Lalu, bagaimana jika tampilan anthurium lidah naga ini dibuat minisize? Apakah segarang pendahulunya?

Ukuran tampilan jenis anthurium ini memang relatif lebih kecil dibanding normalnya. Panjang per lembar daunnya kurang lebih 30-40 cm. Uniknya, ini merupakan ukuran maksimal tanaman. Secara keseluruhan tekstur tampilan, anthurium ini sama dengan satu jenisnya. Keunikan bentuk kerdilnya ini, sepertinya mampu menyihir minat setiap orang yang melihatnya. Bahkan, berpengaruh pada harganya yang mencapai Rp 1,2 juta per tanaman.
Kelainan jadi Tren
Siapa mengira, cacat atau kelainan pada tanaman seakan jadi tren setter di dunia tanaman hias saat ini. Padahal tujuan orang merawat tanamannya, agar bisa tampil sehat dan memiliki tampilan yang bagus. Tak ubahnya dengan saat ini, setiap orang berbondong-bondong memburu jenis tanaman yang mengalami kelainan fisik, baik yang disebabkan karena faktor genetik ataupun pengaruh lingkungan. Bahkan antusiasme penggemar tanaman hias ini seakan mengacuhkan harga yang dipatok.
“Ini soal rasa. Sama halnya dengan memahami seni rupa yang tak bisa diukur dengan materi. Kalau klik, kenapa tidak?” tandas Penggemar Anthurium di Semarang, Dodik.
Memang, kalau soal rasa tidak ada alasan untuk mengatakan salah atau benar. Sebab, sifatnya yang cenderung relatif. Perlu digaris bawahi di sini, bahwa untuk kelainan yang dialami pada tanaman sifatnya adalah natural atau alami. Artinya, kelainan atau cacat pada tanaman merupakan hasil dari proses alam – bukan buatan, sehingga karakter yang muncul pun akan terlihat alami, membuat harganya melambung tinggi.
Selain itu, tekstur yang dibuat oleh alam ini peluangnya sangatlah kecil. Tak semua tanaman akan mengalami fase ini. Terlebih, jika kelainan tampilan tanaman disebabkan oleh faktor genetik yang besar kemungkinan tak dapat diubah lagi. Namun kelainan untuk anthurium lidah naga kerdil satu ini, tak hanya disebabkan faktor genetik – dimana bisa membentuk tekstur belah di ujung daun. Tapi juga disebabkan oleh faktor lingkungan – sebagai penyebab kondisinya yang tumbuh kerdil.
Bentuk Kerdil
Proporsi tubuh yang kerdil ini akibat pengaruh lingkungan, terutama oleh faktor penyinaran. Sinar matahari yang berlebih, berpotensi untuk membuat tangkai daun anthurium lidah naga ini tetap tampil pendek, meski tak sesuai dengan usianya. Sebab, proses pertumbuhannya yang terhambat, dimana sel-sel yang ada pada tanaman tak bisa mengalir sempurna sesuai keadaan normal.
Idealnya, untuk jenis anthurium membutuhkan faktor lingkungan yang cukup teduh, dimana terdapat naungan untuk memperlancar siklus pertumbuhan dan pembentukan karakteristik daun. Itu sepertinya tidak diterapkan pada anthurium lidah naga minisize ini. Ia dibiarkan tumbuh dalam keadaan terbuka, dengan memanfaatkan sinar matahari langsung. Pantas saja, jika kondisi batang daunnya kecil, meski tanaman sudah berumur 1 tahun.
Kesimpulannya, untuk kelainan yang disebabkan oleh faktor lingkungan bisa dijadikan eksperimen untuk membentuk karakter tanaman. Namun itu bukan berarti perlakuan seperti ini tak membawa resiko. Sebab, kalau diterapkan secara asal dan tak sesuai dengan aturan, akan berdampak pada kerusakan daun.
“Sebaiknya sekali waktu tanaman ada dalam keadaan teduh. Penyiraman setiap hari pun tak masalah. Jika daun terlihat kurang segar, cukup dilakukan sprai pada bagian permukaan,” saran pemilik anthurium lidah naga ini di Madura Jawa Timur (Jatim), Joko Arifin. [santi]
Lakukan Diet Nutrisi
Sepertinya, bukan manusia saja yang melakukan diet nutrisi. Anthurium lidah naga pun juga melalui fase ini. Itu untuk mempertahankan bentuk mungilnya. Perlakuan diet nutrisi disini berguna untuk menghambat pertumbuhannya, yaitu dengan mengurangi jumlah asupan nutrisi dari komposisi normalnya. Otomatis, kebutuhan tanaman akan jadi minim dan berdampak pada pertumbuhan yang tak sempurna, seperti tanaman tumbuh dengan kondisi kerdil.
“Sedangkan untuk proses munculnya percabangan di ujung daunnya memakan waktu yang lama, yaitu kurang lebih 1-1,5 tahun. Itu bergantung pada kondisi perlakuan tanaman,” ujar Joko.
Jika ingin melakukan eksperimen untuk membuat anthurium tampil minisize, menurut Joko, beberapa hal tadi bisa diterapkan. Syaratnya, usia tanaman yang bisa dilakukan eksperimen kurang dari 1 tahun, dimana di usia ini merupakan fase pertumbuhan yang ideal, sehingga pembentukan karakter pada tanaman sangat mungkin untuk dilakukan.
Menerapkan proses penyinaran terhadap matahari langsung dan perlakuan diet nutrisi dapat dijadikan alternatifnya. Soal media tanam yang diterapkan pun sama untuk jenis anthurium kebanyakan. Misalnya, penggunaan pakis, sekam baker, dan pupuk kandang. Namun, Joko menggunakan alternatif tambahan untuk menjaga tampilan tanamannya, yaitu dengan memberikan sedikit larutan MSG (Monosodium Glutamat) pada media tanamnya.
Konon, masih kata Joko, larutan ini bisa mendukung pertumbuhan tanaman agar tampilannya lebih maksimal. Ditinjau secara ilmu pangan, memang di dalam MSG sendiri terdapat kandungan sari pati tebu yang memiliki unsur nitrogen tinggi. Itu dihubungkan dengan tanaman yang juga membutuhkan unsur nitrogen untuk memenuhi kebutuhannya. Meski belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat MSG bagi tumbuhan.
Setelah eksperimen berhasil, ada cara mudah jika Anda ingin tanaman ada dalam kondisi normal seperti sedia kala. Cukup mengembalikan perlakuan tanaman sesuai kondisi normal, yaitu dengan memberikan naungan atau menempatkan anthurium di tempat yang teduh, dimana sinar matahari tak masuk secara langsung serta menerapkan kembali komposisi nutrisi tanaman sesuai ukuran normalnya. Niscaya, dalam kurun waktu kurang lebih 2-3 bulan, kondisi tanaman akan kembali dalam ukuran normal.
“Hanya yang perlu diperhatikan dalam proses pengembalian kondisi ini adalah soal kontinuitas dan rutinitas,” tandas Joko. [santi]

Mix and Match Alternatif Media

Agar Warna Tanaman Lebih Berkarakter

Masih ingat dengan teknik arang yang bisa dijadikan alternatif untuk memunculkan karakter warna pada tanaman? Ya, kandungan unsur karbon pada arang inilah yang bermanfaat untuk membentuk warna. Bagaimana jadinya, jika dilakukan kolaborasi media untuk mendapatkan karakter warna yang semakin kuat?

Sekedar mengingat kembali, pada percobaan terdahulu dengan menggunakan anthurium sebagai obyeknya – dimana alternatif media arang terbukti bisa memunculkan karakter warna pada akar, batang, dan urat daun.
Munculnya karakter warna pada tanaman merupakan suatu kelebihan tersendiri bagi anthurium. Sebab, semakin kuat karakter warna yang muncul akan berpengaruh pada nilai ekonominya juga. Pesona warna pada athurium jadi hal mutlak yang harus ada, sehingga tak sedikit orang yang melakukan berbagai alternatif untuk mendapatkan karakter warna yang maksimal.
Apakah sebagian dari Anda sudah menerapkan teknik arang untuk memunculkan karakter warna pada tanaman? Jika sudah dan Anda ingin mendapat hasil yang lebih, kali ini ada trik khusus untuk membentuk karakter warna agar semakin kuat, yaitu dengan melakukan kolaborasi media.
Dalam teknik ini, penggunaan arang masih tetap dilakukan, yaitu dengan menempatkannya di dalam media tanam (dekat akar) dan bagian permukaan. Itu berguna untuk memudahkan tanaman dalam menyerap unsur karbon arang.
Yang jadi perbedaan dengan teknik arang terdahulu adalah dengan dibarenginya media air sebagai penunjang kelembaban tanaman – dengan memasukkan tanaman dalam pot ke dalam wadah yang berisi air dengan penyangga sebongkah batu bata. Dalam kurun waktu kurang lebih 1-2 bulan, maka akan terlihat karakter warna yang lebih kuat dari sebelumnya.
“Penerapan batu bata dalam air untuk pembentukan karakter warna ini berkaitan dengan fungsinya sebagai sistem kontrol kelembaban bagi tanaman,” kata Penghobi Anthurium di Madiun Jawa Timur (Jatim), Sonny SP.
Dalam hal ini sistem kelembaban yang baik akan mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman. Seperti halnya dalam memunculkan karakter warna anthurium. Teknik ini juga bisa menghindarkan tanaman dari kebusukan akar. Sebelum melakukan eksperimen, ada baiknya jika terlebih dulu mengenal karakter media yang akan diaplikasikan untuk tanaman. Dengan begitu, secara tak langsung bisa memahami kelebihan dan kekurangannya.
Karakter Arang
Seperti kita tahu, masih kata Sonny, arang bisa diperoleh dari hasil sisa pembakaran, baik itu dari kayu, tempurung kelapa atau sekam padi. Namun pada teknik ini lebih dianjurkan untuk menggunakan arang kayu atau tempurung kelapa. Sebab, unsur karbonnya lebih tinggi dibanding sekam.
Kelebihan media ini, antara lain mudah mengikat air, tidak cepat lapuk, tak cepat menggumpal, tak mudah ditumbuhi fungi (jamur) dan bakteri, bisa menyerap senyawa toksik (racun), dan melepaskannya kembali saat penyiraman serta merupakan sumber kalium bagi tanaman. Dengan adanya arang, tanaman dapat tumbuh sempurna, karena media terjamin kebersihannya dan bebas dari jasad renik yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Batu Bata
Berbeda dengan sifat arang yang kaya akan unsur hara. Dalam hal ini batu bata tidak memiliki kelebihan ini, malah miskin hara. Namun seperti halnya bahan an-organik lainnya, media jenis ini juga berfungsi untuk melekatkan akar.
Itu karena batu bata memiliki kemampuan sistem drainase dan aerasi yang baik untuk tanaman, sehingga kelembaban tanaman bisa dikontrol batu bata. Tak sedikit dari tanaman yang menggunakan batu bata sebagai alternatif media tanamnya.
Setelah mengenal karakter media, barulah ada pada pilihan Anda untuk menerapkannya. Tertarik untuk melakukan eksperimen pada anthurium Anda, agar warnanya terlihat lebih berkarakter? Berikut tips dan trik kolaborasi medianya.
Bahan yang disiapkan:
Baskom/wadah untuk menampung air
Batu Bata
Arang
Air bersih sebanyak 1 liter
Caranya:
1. Aplikasikan arang ke bagian dalam media tanam dan pada permukaannya.
2. Masukkan 1 liter air ke dalam baskom/wadah yang telah disediakan
3. Kemudian letakkan sebongkah batu bata (arah tidur) tepat di tengah baskom yang telah diisi air bersih. Usahakan sebagian saja posisi batu bata yang tergenang air. Apabila posisi air melebihi tinggi batu bata, sebaiknya kurangi frekuensi air.
4. Barulah masukkan tanaman dalam pot di atas batu bata. Dalam hal ini, sebaiknya gunakan pot yang memiliki lubang di bagian bawahnya. Itu agar pengangkutan unsur air dalam batu bata terangkat dengan maksimal. [santi]
Pentingnya Spray
“Hal yang harus diperhatikan pasca teknik ini, yaitu dengan melakukan proses penyiraman yang rutin,” ujar Sonny.
Mengapa dalam hal ini, proses penyiraman jadi sangat penting untuk diterapkan? Mengingat, pada medianya sendiri sudah terpenuhi unsur air dan haranya. Sistem penyiraman yang dimaksud di sini tidak asal dilakukan, yaitu dengan menggunakan metode sprai atau pengkabutan dan hanya diaplikasikan pada bagian tanamannya.
Penyiraman sprai dilakukan untuk menyesuaikan kadar air yang dibutuhkan tanaman, sehingga bagian bawah tanaman (akar dan media tanam) terpenuhi kebutuhannya, demikian juga pada tanaman bagian atas. Mengingat, proses pengangkutan air dari akar ke daun membutuhkan waktu yang cukup lama.
Pasalnya, air yang berlebihan akan menyebabkan bagian akar membusuk. Itu karena, media tanam menyimpan air dalam waktu lama dan menyebabkan berkembang-biaknya mikro-organisme, seperti cendawan dan bakteri. Sebaliknya jika kekurangan air, tanaman bisa mengalami dehidrasi (kekurangan cairan).
Kondisi dehidrasi ini ditandai dengan daun kayu dan mengerut. Proses pengkabutan (sprai) dapat diterapkan bila cuaca panas. Selain itu, juga bergantung pada ukuran tanaman serta kondisi lingkungan. Jika tanaman semakin besar, frekuensi pengkabutan pun perlu ditambah. [santi]

Anthurium ‘Cacat’

Masih Bernilai Tinggi
Sudah jadi kebiasaan pecinta tanaman hias Tanah Air untuk mengagumi koleksi anthurium yang justru tak memperlihatkan keindahan, karena cacat. Banyak yang berpendapat, keunikan yang tak bisa dimiliki oleh setiap orang, membuat anthurium yang memiliki fisik cacat justru dianggap bisa meningkatkan gengsi si pemilik.
Aneh memang, di saat orang memandang bahwa kualitas akan turun ketika sosok yang diinginkan terlihat berkurang, hal ini tak terjadi pada anthurium. Semakin unik barang, maka tak mustahil gengsi dan harga pun bisa melambung.
Menurut Pecinta Tanaman Hias di Jakarta – Toni, ia mengaku rela mengeluarkan uang berapapun untuk jenis aneh dan nyleneh. Beberapa koleksi tanaman aneh pun sengaja dikumpulkannya dari Jakarta Utara. Salah satunya adalah anthurium berdaun putih atau yang biasa disebut anthurium pocong.
Hookeri Berdaun Ganda
Jenis ini salah satu anthurium ‘cacat’ milik Kolektor Anthurium di Ciawi Bogor, Arif Pramoedya. Beberapa daun jenis ini terlihat biasa dengan struktur oval memanjang dan tangkai kecil tak terlalu panjang. Hanya dua daun diantaranya memiliki keunikan, yaitu berdaun ganda atau dempet.
Sejak didapat pada saat usia anakan, jenis hookeri ini memiliki sejumlah keganjilan, yaitu dua daunnya tumbuh saling menempel. Arif awalnya mengangap hal ini tak berlangsung lama dan kelap daun ini akan mati. Setelah beberapa bulan berjalan, ternyata daun ini masih hidup dan berkembang dengan baik. Malahan jika dilihat sekilas, sambungan daun satu dengan lain pun terlihat mencolok.
“Hookeri batang merah ini usianya sekitar 9 bulan,” tandas Arif.
Tunas pada Tangkai di Anthurium Bunga
Masih di Ciawi – di daerah Arif juga memiliki koleksi anthurium unik lain, yaitu koleksi jenis anthurium daun. Ia berbunga dan berdaun warna-warni. Jenis ini memiliki keunikan pada proses pertumbuhan salah satu tongkolnya. Jika dilihat sepintas, bunga atau pembungkus tongkol jenis ini mencolok. Gradasi warna merah dan kuning sedikit hijau dan putih, membuat jenis ini banyak dicari orang.
Tongkol muda juga muncul di jenis ini. Laiknya daun di saat usia muda, tongkol pun berwarna-warni. Bagian ini pun juga kebagian warna-warni gradasi. Tapi keanehan jenis ini tak terletak di bagian ini. Sebab setelah dilihat detail, barulah kita tahu mengapa salah satu koleksi Arif ini disebut aneh.
Jika  umumnya tunas daun dan tongkol sering terpisah satu sama lain, pada jenis ini tak berlaku. Sebab, salah satu stang atau batangnya tak hanya diisi daun, melainkan tongkol sebagai media perkembang-biakan juga ikut menempel di bagian ini.
“Sejak beberapa tahun membelinya (sejak tanaman berusia anakan), saya tak pernah mengira bila tumbuh dewasa baru muncul keanehan,” imbuh Arif.
Jenmanii Daun ¾
Berbeda dengan jenis hookeri itu, jenis jenmanii yang satu ini memiliki daun laiknya anthurium biasa. Ia agak oval, memanjang dengan stang yang tumbuh normal. Hanya jika dilihat detail, daun jenis ini memiliki keunikan, yaitu dalam bentuknya. Umumnya, jenmanii akan menyita perhatian orang, karena bentuk daunnya kekar, uratnya terlihat dengan baik dan bentuknya unik. Namun di Jakarta, salah satu koleksi jenmanii jadi perhatian, karena pertumbuhan ‘cacat’-nya.
Musa – sang pemilik, mengaku tak tahu kenapa koleksinya ini bisa tumbuh seperti ini. Jenmanii koleksinya ini berjenis memanjang, dengan lebar daun minim. Jika di pasaran koleksinya ini biasa disebut dengan nama jenmanii tanduk atau jenmanii rumpun (karena jumlah daunnya merumpun dan banyak). Daun berwarna kekuningan, kian mempercantik jenmanii ini. Hingga saat ini, koleksi jenmanii daun ¾-nya sudah ada yang menawar hingga Rp 5 juta per tanaman, berusia 1 tahun. [hyo]

Membuang Akar Busuk

Jangan Sayang untuk Memotong
Musim hujan, musimnya akar busuk. Itu tentu jadi hal yang mengganggu, karena bisa menyebabkan kematian. Langkah tepat adalah mengangkat tanaman dan membongkar media tanam untuk melihat seberapa parah kondisi di dalamnya. Akar busuk wajib dipotong, meski harus menghabiskan separuh lebih bagian akar.
Busuk akar merupakan penyakit yang ditimbulkan karena akar ada dalam kondisi yang terlalu basah dan serangan bakteri. Ia bisa menghilangkan pasokan makan dan pastinya menghambat pertumbuhan. Dalam tahap kronis, akan menyebabkan kematian. Kematian akibat busuk akar menempati posisi pertama, terutama untuk aglaonema dan anthurium.
Gejala yang muncul cukup mudah, yaitu pertumbuhan daun mengecil, warna daun menguning, pertumbuhan melambat, dan daun cepat layu. Bila mendapati kondisi ini, segera lihat bagian akar untuk memastikan ada tidaknya busuk akar. Bila terlihat bagian ini berwarna cokelat dan berbau busuk, segera lakukan pengobatan.
Alat yang dipersiapkan adalah pisau tajam, gunting, ember, fungisida, vitamin B1 serta aliran air yang bersih. Langkah pertama, lihat bagian akar untuk memastikan bagian yang busuk – apakah bawah atau samping. Semprot perlahan dengan aliran air untuk menghilangkan sisa media tanam di akar.
Selanjutnya, potong bagian yang busuk dengan menggunakan gunting atau pisau dan hanya menyisakan bagian sehat. Kadang sang pemilik sering sayang untuk memotong, bila kebusukan akar sudah parah dan menyerang sebagian besar akar. Namun hilangkan pikiran itu, karena bila tak dipotong – busuk akar akan lebih besar. Sebab, mampu menyebar ke bagian yang sehat.
“Busuk akar harus hilang, meski sebagian besar akar hilang, termasuk tangkai daun, sehingga separah apapun kondisi akar, tetap harus dibuang di bagian yang busuk,” kata Pebisnis Anthurium di Surabaya, Heru Trisaksono.
Setelah yakin semua bagian yang busuk sudah hilang, maka berikan bakterisida. Larutkan bakterisida dalam ember sesuai dosis. Selanjutnya, masukkan akar tersebut dan rendam beberapa saat. Dengan cara ini, semua bagian yang terkena potongan akan terlidungi dari bakteri.
Terakhir adalah mempersiapkan media tanam baru yang harus porous. Sebab, media yang menyimpan air bisa memicu terjadinya bususk akar. Jadi, drainase air di dalam media tanam harus bagus. Alternatif campuran yang bisa diambil adalah dengan akar pakis, sekam baker, dan kotoran kambing/kompos. Komposisinya lebih didominasi oleh pakis hingga 75%, sementara sekam dan kotoran kambing mengisi tak lebih dari 25%.
Masukkan dalam media yang sebelumnya sudah disemprot dengan vitamin B1 untuk mengurangi stres tanaman. Media jangan ditekan, tapi ditepuk perlahan, agar media tak padat. Siram dengan mengalirkan air secara langsung di media tanam hingga air yang keluar dari bawah pot jadi jernih.
Bila perlu, daun yang sudah busuk di atas bisa dipotong, tapi bila hanya menguning atau kering sebagian, sebaiknya biarkan untuk membantu proses fotosintesis. Ke depan, anthurium pasti akan lambat tumbuh, karena memperbaiki akar terlebih dulu, baru kemudian mengeluarkan daun. [wo2k]