Category Archives: Bonsai

Konsep Penjurian Bonsai (2 Habis)

Pahami Aturan untuk Juara

Menang-kalah dalam kontes memang tak bisa dipastikan, tapi semakin dekat dengan konsep penjurian, maka nilai tinggi akan lebih mudah dicapai. Tanpa menghilangkan nilai idealisme seni, bonsai tetap memberikan nilai tinggi. Bahkan dengan melihat aturan tersebut, mampu meningkatkan ketajaman seni dari pebonsai pemula.

Wawang Sawala, Juri Bonsai Indonesia, mengaku kalau masih ada pebonsai yang ikut dalam kontes, tapi tak mengerti apa saja yang dinilai. Sebab, masih banyak yang menilai bonsai sebagai satu karya seni yang hanya dilihat sebagai seni tanpa ada aturan baku.

Padahal bila dilihat ke belakang – di edisi Tabloid Gallery sebelumnya – kontes bonsai penuh dengan tahapan penilaian yang kompleks. Akhirnya yang ada saat kontes adalah peserta protes kenapa miliknya tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.

“Saat dibalik Tanya, apa mereka mengerti apa saja yang dinilai, baru mereka diam. Dan ironisnya, hampir di setiap kontes akan muncul pebonsai yang mengungkapkan kekecewaan yang sama, tanpa tahu sebabnya,” ungkap Wawang. Continue reading Konsep Penjurian Bonsai (2 Habis)

Konsep Penjurian Bonsai (1)

Luruskan Mitos Produk Suka-suka
“Bonsai bukan produk suka-suka, tapi karya seni yang ada di dalam koridor. Itu untuk meluruskan mitos kalau bonsai tak sekedar koleksi bergengsi,” kata Anggota Tim Juri Kontes Bonsai Indonesia, Wawang Sawala.

Draft dan teknik penjurian bonsai penting diketahui, terutama bagi penghobi pemula. Tokoh bonsai dan juga anggota tim juri, Wawang Sawala, akan memandu artikel ini, sejalan juga dengan bagaimana teknik penjurian Ia juga memberikan beberapa tips bagaimana mendapatkan poin tinggi dalam kontes, dengan mendekatkan pada draft yang ada.

Memang tak ada yang bisa menyalahkan bila kita menyebutkan, kalau bonsai sebagai produk suka-suka. Sebab, bonsai yang dibuat merupakan satu bentuk ekspresi yang kita tuangkan dalam bentuk tanaman. Jadi apapun bentuknya, pasti berdasakan selera dari pemilik yang tentu tak bisa disalahkan.
Continue reading Konsep Penjurian Bonsai (1)

Bonsai Mame

Imutnya Bonsai Ukuran Mini
Bonsai memang jadi satu minatur dari pohon besar. Namun ada juga bonsai yang mempunyai ukuran mini atau yang sering disebut mame. Cukup mengherankan, terutama di kalangan awam, tapi bentuknya yang kecil, membuatnya jadi imut dan lucu untuk dimiliki.

Dalam kontes, ukuran tanaman jadi perbedaan kelas penilaian untuk membedakan yang besar dan kecil. Ada empat kategori yang diambil, yaitu extra large dengan ukuran tinggi 101-150 cm, large 61-100 cm, medium 1-60cm, small 16-30 cm, dan kelas mame 0-15 cm.

Continue reading Bonsai Mame

PPBI Sidoarjo, Jatim

Kejar Kualitas dengan Pertemuan Rutin
Bonsai erat kaitannya dengan karya seni. Sementara karya seni adalah satu produk yang terus mengalami perubahan seiring jaman. Di situ, para pebonsai dituntut untuk bisa mengikuti alur dari perubahan yang ada, sehingga pelatihan dan terus belajar wajib dilakukan pecinta bonsai untuk menghasilkan karya hebat.
Atas dasar itu, membuat Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) mengagendakan pertemuan satu bulan sekali membahas tentang segala hal yang berhubungan dengan bonsai. Hasilnya luar biasa, dimana cabang yang saat ini diketuai oleh Husny Bahasuan mulai tahun 2007 ini termasuk dalam komunitas bonsai paling aktif di Indonesia.

“Setiap hari sabtu-minggu kedua, kami agendakan semua anggota untuk bertemu dan membahas tentang problem yang muncul saat pembuatan bonsai,” kata Husny.

“Namun tentu tak mudah untuk mendatangkan anggota yang punya kesibukan sendiri, sehingga dihadirkan juga satu narasumber/pakar sebagai daya tarik,” lanjutnya.
Di situ, setiap pertemuan sumber yang didatangkan selalu baru dan berbeda. Tujuannya, tentu untuk menghadirkan satu produk/pengetahuan baru serta menghindari kejenuhan. Sebab sebagai satu produk seni dan botani, narasumber yang didatangkan bisa dari beragam profesi, mulai dari pakar bonsai, ahli pertanian sampai fotografer.
Contohnya, saat pertemuan bulan Maret ini – pertemuan diisi dengan diklat tentang sistem penjurian dan bagaimana membentuk bonsai dari bakalan. Di situ, anggota bisa berbagi pengalaman untuk membuat bonsai yang masuk dalam kategori juara.
“Ke depan, kami akan undang fotografer sebagai sumber saat pertemuan,” tandas Husny.
Continue reading PPBI Sidoarjo, Jatim

Melihat Konsep Bonsai Setengah Jadi

Aksesori dan Gerakan Cabang Paling Menentukan
Saat diklat Bonsai yang digagas oleh Perkumpulan Pecinta Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Sidoarjo, Jatim. Diperlihatkan satu bonsai setengah jadi dari jenis golo gumantung yang tumbuh di atas batu. Bentuk batang ekstrim, dimana gerakan mempunyai lekuk tajam. Terlihat eksotis, tapi masih perlu banyak perlakuan untuk mendapatkan hasil sempurna, terutama di area percabangan dan batu sebagai aksesorinya.
Wawang Sawala yang jadi pembicara di acara diklat memberikan beberapa saran untuk peserta dengan melihat bakalan yang dicontohkan. Bakalan yang diambil merupakan koleksi milik Ketua PPBI Sidoarjo, Husni Bahasuan. Saat ditampilkan, bakalan ini sengaja diliarkan untuk menumbuhkan batang dan cabang.
Bentuk bonsai yang dicontohkan tumbuh di atas batu karang dengan kondisi yang kekurangan nutrisi atau biasa disebut sengsara. Dari itu, gerakan batang otomatis akan mempunyai lekukan tajam. Namun lekukan ini terhalang oleh dinding batu karang yang ada di bagian belakang tanaman.
Secara alami, kondisi ini menguntungkan, karena lekukan yang mengarah ke belakang akan dikembalikan ke depan. Gerakan ini memang alami dan tak diberikan perlakuan, sehingga pola gerakannya beragam dan tak mengarah pada satu titik saja (slenting). Untuk karakter batang, menurut pemiliknya, memang banyak dilakukan penempelan, agar lebih terlihat mempunyai karakter besar di bagian bawah.
Langkah ini diambil untuk memperkuat visual, karena di beberapa bagian batang terlihat rongga seperti gua dari bagian yang mati. Jadi, selain memperbesar penempelan juga mempertahankan kehidupan tanaman. Cabang yang muncul baru terlihat kuat setelah melewati tinggi dinding batu karang dan itu sangat mendukung konsep yang diusung, dimana akan mencirikan satu tanaman yang tumbuh di atas batu karang, tapi tetap hidup dengan baik.
Setelah dilakukan pemotongan dahan dan daun awal, maka bentuk dan sudut pandang bonsai mulai terlihat. Keunggulan di batang dan percabangan juga lebih menonjol dan berkarakter. Namun kekuranagn yang dimiliki juga terlihat jelas, terutama di bagian percabangan atas dan muka.
Lekukan Harus Harmonis
Meski sebagai produk seni yang mempunyai kreasi luas, pembentukan bonsai tetap harus mengikuti pakem dan aturan tertentu. Salah satunya adalah harmonisasi antara bagian atas dan bawah. Di situ, terlihat kalau batang bawah yang berliku kurang diimbangi dengan lekukan pada cabang.
“Cabang atas harus mengikuti kontur bagian bawah. Bila tidak, akan terlihat janggal,” tandas Wawang yang juga jadi Tokoh Bonsai Nasional ini.
Langkah itu diambil untuk menyempurnakan gerak dasar tanaman yang jadi satu item penting saat kontes. Sebagai orang awam, dipastikan akan lebih mudah untuk menikmatinya. Konsep memang berbeda di setiap kepala para pebonsai dan kali ini memang Wawang sengaja mengeluarkan pendapatnya dari pengalaman membuat bonsai dari tahun 70-an. Di situ, konsep yang mudah dipahami akan lebih menarik, karena tak semua pebonsai dan pecinta bonsai mempunyai jiwa seni sama saat menikmati bonsai.
Beda Batu dan Tanaman Harus Jelas
Dilihat dari depan, ada satu hal yang mengganggu adalah perbedaan antara batang dan batu karang kurang kontras. Kondisi ini terjadi, karena kontur tua di batang akan bewarna kecokelatan. Warna ini sama persis dengan batu karang yang ada di bawah dan belakang tanaman.
“Penting untuk menunjukkan mana tanaman dan mana aksesorisnya,” imbuh Wawang.
Solusi yang ditawarkan olehnya adalah dengan mengurangi volume batu, terutama yang ada di belakangnya. Sebab dengan batu yang sedikit, otomatis tanaman akan lebih terlihat. Sang pemiliknya sendiri memberikan batas dengan membuat celah atau rongga antara tanaman dan batu, sehingga di bagian samping dan sisi belakang tanaman tak menempel pada batu. Namun cara ini masih kurang efektif, sehingga perlu adanya pengurangan batu atau pembesaran batang.
Untuk solusi pembesaran batang sepertinya lebih sulit, karena butuh waktu yang tak sedikit, sehingga pengurangan batu bisa jadi solusi tepat. Kondisi ini juga bisa diaplikasikan di semua jenis bonsai yang tumbuh di batu yang punya warna sama dengan tanaman. Bagaimana pun, tanaman yang utama harus ditonjolkan.
Muka Terlihat Jangan Datar
Selain mempunyai warna yang sama antara batu dan tanaman, bagian muka bonsai terlihat datar/flat. Kondisi ini bisa diakali dengan menumbuhkan cabang baru di bagian muka. Selain bisa mengurangi kesan flat, cabang baru ini juga bisa membentuk dimensi bagus. Cabang yang dimaksud kebetulan sudah dimiliki oleh batang, tapi baru sebatas tunas kecil, sehingga masih perlu waktu lama untuk menumbuhkan dan membuatnya besar. Sebab, besar cabang harus seimbang dengan batang.
Kesimbangan ini memang diperlukan untuk memberikan kesan luas dan jauh saat kita menikmati bonsai. Di situ dengan bagian muka yang datar, maka dimensi yang dimiliki masih terasa kurang, meski di bagian belakang tumbuh cabang yang ikut membantu. Cabang di depan juga bermaksud untuk memudahkan proses finishing.
Pencarian dimensi tak harus dengan menumbuhkan cabang baru di depan atau di belakang, tergantung dari kasus yang ada. Di sini, tentu tak mungkin untuk memperlihatkan ada cabang di belakang, karena tertutup oleh batu, sehingga solusinya memberikan kreasi di bagian muka dengan menumbuhkan cabang baru.
Naik ke bagian atas, terutama untuk menentukan tajuk dan bagian kepala bonsai sudah mempunyai arah yang bagus, dimana gerakan cenderung mengarah menjahui tebing. Ini sangat mencirikan adanya hembusan angina, membuat pohon lebih mengarah ke bagian tertentu. Bonsai dengan konsep satu arah atau slenting sepertinya kurang tepat diberikan, karena gerakan batang dan cabang kurang mendukung. [wo2k]
Aturan untuk Mengasah Jiwa Seni
Memang kadang banyak pemilik bonsai yang mengatakan kalau bonsai merupakan produk suka-suka. Sebab, setiap orang punya pandangan dan prinsip yang berbeda untuk membuat satu bonsai. Pada hasil jadi, tentu akan berbeda juga, karena perlakuan yang tak sama.
Anggapan ini memang tak salah, tapi tidak bisa dibenarkan juga. Menurut Wawang, teknik bonsai tetap mempunyai koridor yang ada batasannya. Itu ibarat seni rupa, tetap ada batasan. Proses suka-suka di sini harus tetap ada di dalamnya. Salah satu contoh yang paling mudah adalah saat proses penjurian.
Bila tak ada batasan dalam bonsai, bagaimana bisa terjadi satu kontes, karena dalam kontes tetap ada standar penilaian. Standar penilaian ini yang dibuat dari aturan yang sudah dibakukan, sehingga tetap ada aturan untuk membuat bonsai. Memang pebonsai bisa disebut sebagai seniman dan seniman akan sangat terganggu bila ada yang menghalangi ide dan kreatifitasnya. Di situ, bila memang  sebagai seniman asli, maka akan mematuhi aturan yang ada.
Pembentukan aturan juga sangat diperlukan bagi penghobi baru yang mulai menggarap bonsai. Sebab, dalam aturan diberikan juga batasan mana yang boleh dan tidak boleh dalam penjurian, sehingga bagi pemula akan lebih mudah untuk mengembangkan jiwa seni bila sudah ada garis besar yang digunakan sebagai pedoman.
“Bagaimana selanjutnya, akan menyesuaikan dari keinginan pemiliknya,” tandas Wawang. [wo2k]

Pesona Bonsai Wahong-Sancang

bonsai wahong

Kekuatan Seni Batang dan Gerakan Natural

Bahan bonsai bisa diambil dari semua tanaman yang berbatang keras dan berumur panjang. Wahong merupakan salah satu bahan bonsai yang mempunyai karakter dan nilai seni kuat pada batang. Banyak kelebihan yang ditawarkan salah satunya dari kekuatan lekukan batang serta alur yang bisa dipahat untuk mencapai hasil sempurna.

Penghobi bonsai pasti sangat setuju bila wahong ditempatkan sebagi satu jenis bonsai yang menempati posisi atas. Sebab dari bentuk dasar tanaman yang mudah ditemui di pesisir pantai dan gunung kapur ini sudah mempunyai struktur bagus. Batang terdapat lekukan alami yang memudahkan pebonsai untuk melanjutkan karya.

Selain itu terdapat perbedaaan wana yang mencolok antara batang hidup dan batang mati yang bisa di kreasikan hingga menjadi satu kesatuan bonsai yang sempurna. Batang yang hidup mempunyai kulit batang yang berwarna putih sementara untuk bagian batang mati akan berwarna merah tua kehitaman

Untuk batang mati kresai tidak hanya berhenti disitu sebab dari kayu yang tidak tumbuh ini masih bisa dilakukan perlakukan. Perlakuakan yang dikerjakan pada batang mati ini dengan metode pahat dan poles untuk membuat bonsai lebih terlihat kokoh dan mempunyai tampilan yang mewah.

Batang yang menjadi kekuatan, wahong juga punya satu keunikan yang tidak bisa di lakukan oleh jenis bonsai lainnya. “Wahong bisa digabungkan atau di stek dengan jenis sancang untuk tampilan dahan dan daun lebih maksimal,” terang Zainal Alim pebonsai asal Pamekasan yang banyak mengkoleksi wahong. Continue reading Pesona Bonsai Wahong-Sancang

Seni Tempel Batang Bonsai

sambungan baru membentuk kontur lebih baikPerbaiki Batang, Cabang Hingga Akar

Soelistio Sidhi berulangkali mengernyitkan dahi saat menggarap bonsai beringin miliknya. Sebab bentuk batang masih belum bisa sesuai dengan keinginan yaitu besar dan berkarakter. Setelah menimbang beberapa saat akhirnya pebonsai asal Sidoarjo ini mendapatkan ide untuk melakukan tempel batang untuk mendapatkan batang yang lebih berkarakter.

Keluhan tentang kondisi batang yang kurang berkarakter sering menjadi dilema bagi pebonsai. Sebab secara visual sudah terlihat janggal bila melihat bonsai namun batang yang dimiliki kurang kekar. Sebab bagaimana pun bonsai selalu mencerminkan pohon tua kokoh dan mampu membuat teduh siapapun menikmatinya.

Teknik tempel ini memang bisa menjadi satu alternatif pengembangan karya seni bonsai untuk memberikan sentuhan baru saat mendapatkan bakalan yang kurang sempurna. Atau bisa juga untuk mengembalikan struktur tanaman yang rusak atau mati. Jadi sebagai satu karya seni teknik ini tidak haram dilakukan dan berlaku untuk gaya apapun. Continue reading Seni Tempel Batang Bonsai