Category Archives: Komunitas

Komunitas Anthurium Indonesia

Saatnya Anthurium Lokal Jelajahi Dunia
“Ahli taxonomi luar negeri saja ngeri melihat anthurium Indonesia yang harganya menggila. Bagaimana tidak, harga anthurium Indonesia tertinggi dari harga anthurium di dunia,” kata Ketua Komunitas Anthurium Indonesia (KAI) Pusat – Bona Ventura Sulistiana.
Masih ingat peristiwa tahun lalu, bagaimana harga gelombang cinta merosot tajam? Banyak pertanyaan muncul, apakah ini strategi permainan pasar atau memang eksistensi anthurium sudah tergoyahkan? Satu hal yang pasti, pergerakan anthurium perlahan mengalami degradasi atau kemerosotan.
Joko Arifin misalnya – Pebisnis Anthurium di Madura ini mengaku, kalau penjualan anthuriumnya tak selancar tahun lalu. Bahkan ia memendam kecewa, karena anthurium yang ia beli tahun lalu dengan harga tinggi, sekarang terpaksa dijual murah.
“Daripada modal tak balik. Jadi, saya jual murah saja dan untung yang didapat pun tak seberapa,” tandas Joko.
Pada dasarnya, fenomena ini wajar terjadi di dunia tanaman hias. Mungkin inilah yang dinamakan siklus. Artinya, bukan hal baru terjadi dinamisme perputaran tanaman yang tengah diminati masyarakat. Itulah yang terjadi pada kasus anthurium yang dikenal fenomenal dan tak hanya melibatkan segelintir orang. Sebab, di sini juga melibatkan keterkaitan peran petani, pedagang, pebisnis, penghobi, dan kolektor.
Kesimpulannya bahwa permasalahan ini berpusat pada tidak stabilnya harga anthurium secara global. Bahkan terkesan dibuat tak masuk akal dengan bandrol harga selangit. Ini yang membuat sebagian orang mengambil kesimpulan kalau bisnis anthurium bersifat semu. Masalah ini yang kemudian dijadikan tema pembahasan KAI belum lama ini di Surabaya bersamaan dengan pengukuhan pengurus KAI Jatim.
Koreksi Harga
KAI yang merupakan wadah penaung segala sesuatu yang berkaitan dengan anthurium menanggapi cermat permasalahan ini. Bahkan, kata Bona, KAI sudah menggelar pertemuan dengan petani anthurtium di Karangpandan, Jawa Tengah (Jateng). Dari hasil pertemuan itu, seperti dijabarkan dalam pengukuhan pengurus KAI Jatim, diperoleh kesepakatan untuk menentukan standarisasi harga anthurium.
Hanya kesepakatan itu masih ditujukan untuk standar harga gelombang cinta. Koreksi harga anthurium ini, selain untuk meminimalis tingkat kecemburuan sosial,  juga untuk mengambil alih pasar dunia. Artinya, Indonesia harus siap dengan gaung  pasar ekspor.
“Jadi, Indonesia tak hanya jago kandang. Tapi juga dapat membuktikan kualitas anthurium lokal untuk siap pamer,” imbuh Bona.
Untuk merealisasikan hal ini, tentu bukan perkara mudah. Sebab, terlebih dulu yang harus dilakukan adalah dengan menyesuaikan situasi global. Di sinilah, suatu organisasi mengambil peran penting untuk jadi barometer perkembangan anthurium. Bahkan jika anthurium Indonesia bisa menembus pasar dunia akan jadi pemasukan sendiri bagi devisa negara.
Bicara tentang pasar, tentu tak hanya melihat faktor kuantitas. Kualitas juga jadi prioritas untuk mempengaruhi pasar. Terlebih untuk dunia tanaman yang lebih mengandalkan kualitas tampilan, seperti anthurium yang elok karena karakter daunnya.
Berdasar pengamatan beberapa ahli taxonomi dunia, setiap negara memiliki jenis tanaman anthurium dengan karakter berbeda. Seperti halnya Indonesia, merupakan salah satu negara yang mampu memproduksi anthurium spesies kualitas, dimana anthurium yang tumbuh di Indonesia memiliki karakter eksotik dibanding anthurium negara lain. Tak dikhawatirkan, masih kata Bona, kualitas anthurium lokal akan lebih siap bersaing di pasar global.
Menangkap pasar yang berkaitan dengan beragam even tanaman hias belakangan ini,  merupakan suatu bentuk yang bisa memotivasi masyarakat. Seperti halnya berbagai even yang digelar di berbagai kota. Di Jawa Timur (Jatim) sendiri, untuk mendukung perkembangan anthurium, KAI mempunyai program jangka pendek, yaitu dengan membentuk pengkaderan juri untuk ajang kontes anthurium.
“Dengan itu, diharapkan kualitas anthurium bisa lebih terseleksi,” kata Ketua KAI Jatim – Djalu. [santi]
Masanya End User
Siklus dalam dunia tanaman bak perputaran mata rantai. Petani, pebisnis, penghobi, dan kolektor saling melakukan sinergi untuk menjaga eksistensi tanaman. Tak heran, jika satu mata rantai terputus akan mempengaruhi lainnya, sehingga perputaran siklusnya akan terputus dan tentu akan merugikan berbagai pihak yang berhubungan.
Seperti pada tahun 2006-2007, banyak orang terlibat dalam siklus pergerakan anthurium. Itu semata karena faktor ekonomi. Fenomena itu tak hanya terjadi pada level pebisnis. Tapi semua yang terkait dalam perputaran anthurium, baik dari petani hingga kolektor. Siklus ini berulang secara berkelanjutan hingga berujung pada satu titik kejenuhan pada masyarakat.
Parahnya, pada masa ini dibarengi dengan masuknya penghobi baru yang memandang anthurium sebagai aternatif profit oriented. Bukannya untung yang mereka dapat, melihat kondisi masyarakat yang mengalami suatu titik jenuh dan hal ini masih terasa hingga kini.
Hanya di tahun 2008 ini, mulai banyak end user atau orang yang ‘mencintai’ tanaman untuk dinikmati. Artinya, dalam hal ini peran end user tak hanya sekedar urusan keuntungan yang jadi orientasinya. Tapi lebih pada proses ‘mencintai’ tanaman dengan segala performance dan manfaatnya, sehingga pencitraan anthurium di sini akan terbangun.
“Tak ada lagi permainan harga. Sebab, standarisasi harga untuk suatu jenis anthurium dinilai secara rasional. Itu disesuaikan dengan kualitas yang dimiliki tanaman,” ujar Ketua IV Pengembangan&Pemberdayaan SDM KAI – Sulistiyo.
Artinya, standarisasi harga untuk jenis anthurium ini ibarat melihat sebuah karya seni. Semakin elok dipandang, tentu sepadan dengan harganya, sehingga tak hanya sebagai alternatif aset bisnis. [santi]
Tips Kontrol Harga Anthurium
KAI sebagai komunitas yang menaungi pelaku anthurium, baik dari petani hingga kolektor, memberikan tips khusus untuk mengontrol harga anthurium di pasaran. Bagi Anda yang tertarik untuk bergelut dengan anthurum, tak ada salahnya menyimak tips berikut:
1.    Pastikan harga yang jadi patokan untuk anthurium disesuaikan dengan faktor rasional. Artinya, jika produknya memiliki kualitas sebanding dengan harga yang dikeluarkan, maka hal ini wajar.
2.    Cek produk anthurium yang keluar di pasaran, dimana sebelum terjadi transaksi, pastikan untuk mengetahui informasi kondisi pasar. Agar tidak terjadi kesalah-pahaman, informasi bisa diperoleh dari KAI cabang di masing-masing daerah atau media massa.
3.    Teknik perawatan dan budidaya. Jika ingin menjadikan anthurium sebagai prospek usaha, tak ada salahnya menggali banyak informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan anthurium.
4.    Mengetahui pasar. Artinya, pengetahuan tentang kondisi pasar perlu diperhatikan. Sebab, itu berguna untuk mengukur sasaran pasar. [santi]

Aspeni Keluarkan Direktori Tanaman Hias

Penuhi Permintaan Petani dan Eksportir
Penghobi tanaman hias sering bingung, kemana mereka akan menjual koleksinya. Begitu juga dengan para buyer dari luar negeri yang sering keliru dan bertanya kemana mereka mencari tanaman hias. Dari situ, jelas para pebisnis dan penghobi bingung, karena tak ada daftar khusus mengenai kebutuhan yang mereka cari.
Direktori adalah satu solusi tepat yang memberikan semua kebutuhan tentang tanaman hias, baik untuk menjual maupun membeli yang segera dirilis oleh Asosiasi Pengusaha dan Petani Flora Indonesia (Aspeni) Jatim. Di situ, akan diberikan tentang daftar pedagang tanaman hias yang dipisahkan berdasarkan jenis dan lokasi.
Sekretaris Aspeni Jatim dan Ketua Tim Direktori – Ir Dwie Retna Suryaningsih, mengaku sejak dulu Jatim cukup menonjol sebagai sumber budidaya tanaman hias. Para pelaku industri yang ada di dalamnya, baik pengusaha, pedagang maupun petaninya, dinilai mempunyai kualitas dan kuantitas memadai. Bahkan nilai estetika dan seni juga banyak hadir pada produk yang ditawarkan.
“Kita bahkan sudah mampu melakukan ekspor dan itu membuktikan kualitas tanaman tak kalah dengan produksi negara lain,” imbuh Retna.
Hanya dalam realisasinya di lapangan, ternyata banyak kebingungan yang muncul dari berbagai organisasi flora saat pembeli dari luar negeri datang. Sebab, tak ada daftar khusus yang memuat keberadaan produk tanaman hias bisa dibeli. Akibatnya, banyak pesanan tak bisa dipenuhi, terutama dari jumlah yang diinginkan.
“Kami akhirnya sepakat untuk menerbitkan direktori sebagai panduan. Buku ini bisa jadi yang pertama di Indonesia, selain yang sudah dikeluarkan oleh Dinas Pertanian pusat, tapi sifatnya masih sangat umum,” ujar Retna. “Keputusan ini dilakukan dari beberapa pertemuan yang cukup a lot, terutama untuk menentukan klasifikasi tanaman dan pelaku di dalamnya,” lanjutnya.
Direktori yang tebalnya direncanakan sekitar 100 halaman ini akan menggunakan kertas ukuran A5. Komposisinya diisi 50% database tanaman hias, termasuk nama, alamat, dan spesialisasi dari grower atau petani. Sementara 25% diisi oleh pedagang, 10% dari pengusaha sarana dan produksi. Sisanya terdiri dari jasa-jasa lain terkait.
“Jumlah itu belum pasti, karena data yang masuk masih harus diverifikasi. Untuk format buku akan mengambil contoh seperti halnya buku telepon, sehingga mempermudah pencarian. Iklan juga akan masuk di dalamnya. Untuk terbitan pertama akan dicetak sekitar 500 buah,” kata Retna.
Distribusi akan diberikan gratis, karena biaya oprasional dan cetak diambilkan dari iklan dan donasi penggemar flora. Untuk lokasinya, direktori ini akan ada di lokasi-lokasi yang dibutuhkan, seperti perpustakaan, dinas-dinas, komunitas tanaman hias, dan para pengusaha. Target jangka pendek yang diinginkan adalah pembentukan jaringan dari pelaku tanaman hias.
Sebab, saat ini sebagian besar pedagang dan petani tanaman hias berasal dari sektor UKM (Usaha Kecil Menengah) yang kesulitan mengembangkan pasar, sehingga dari buku ini diharapkan bisa jadi satu panduan untuk melakukan pengembangan usaha.
Toga Sirait, Ketua Gabungan Pedagang Tanaman Hias Kayoon Surabaya, menyambut positif dengan keluarnya direktori tentang tanaman hias. Sebab, saat ini pendataan dari Dinas Pertanian masih menitik-beratkan pada pertanian tanaman pangan. Sedangkan di sektor florikultura masih sedikit.
“Kapasitas kami sudah termasuk dalam UKM yang berpotensi dan mampu ekspor. Munculnya direktori ini akan mempermudah pengusaha untuk melakukan strategi bisnis dan mapping,” ungkap Toga. [wo2k]

Aglaonema Indonesia Jogjakarta

Kejar Target, Hadapi Persaingan Barang Impor
Posisi tanaman hias di masyarakat selalu naik-turun. Untuk itulah, pentingnya suatu wadah untuk melestarikan keberadaannya. Sebut saja, komunitas Aglaonema Indonesia (AI) di Jogjakarta. Salah satu kinerjanya adalah mempertahankan posisi aglaonema lokal di tengah gempuran pasar aglaonema impor.
Aglaonema dub anjamanee, bangkok, siam aurora, legacy, dan lady valentine adalah produk Thailand yang dikenal dan banyak dicari pecinta tanaman dengan nama lokal Sri Rejeki ini. Harganya relatif – antara Rp 200 ribu sampai jutaan rupiah, dengan warna dan bentuk fantastis, membuatnya laris-manis bak kacang goreng. Perawatannya pun tak sulit, karena memiliki ketahanan bagus.
Fenomena aglaonema di pasar Tanah Air juga sedikit banyak disebabkan oleh banyaknya produk baru keluaran negeri Gajah Putih. Dalam hitungan beberapa minggu, jika kita rajin impor aglaonema Thailand, pasti ada saja barang baru. Dalam hal produktivitas pun, produk Thailand biasanya cepat diperbanyak, sehingga selalu memenuhi pesanan. Jika dicatat secara acak dan random, dalam sebulan tak kurang ada 5 jenis aglaonema baru asal Thailand. Itu tercatat dalam salah satu situs on line hobi tanaman hias.
“Pada dasarnya, jika dibandingkan dengan karakteristik pola bertani masyarakat di Thailand, rata-rata masyarakat kita jauh tertinggal. Sebab, di Thailand metode pertanian modern, seperti kultur jaringan jadi santapan sehari-hari,” kata Ketua AI Jogjakarta – Arie W Purwanto. “Minimnya media informasi dan masih kuatnya budaya bertani kita yang mempertahankan budaya bertani tradisional, membuat produk kita ketinggalan,” lanjutnya.
Memang tak semua petani Indonesia tertinggal, karena beberapa tokoh di Indonesia sudah memiliki nama melambung sebagai kreator silangan sekaligus petani modern yang sudah banyak dikenal. Sebut saja, nama Gregorius Garnadi Hambali dan Edi Sandra adalah tokoh petani aglaonema modern.
“Melalui komunitas AI ini menyadarkan tentang pentingnya sosialisasi teknik pertanian modern yang efektif dan efisien pada masyarakat, terutama bagi pecinta aglaonema. Sebab, hal sekecil apapun, langkah ini akan mendorong dunia pertanian aglaonema kita, paling tidak satu langkah ke depan,” ujar Arie.
Seminar Hingga Open House
Untuk mencapai, menyeimbangkan produksi aglaonema Tanah Air, dan memberdayakan masyarakat, kebutuhan akan pengetahuan dan informasi sangat dibutuhkan. Maka, seperti komunitas hobi tanaman hias lain, AI juga menyediakan jasa konseling melalui seminar dan open house di Jogjakarta.
“Struktur anggota AI di Jogjakarta memang tak memiliki catatan resmi anggota yang sering kita ajak seminar. Hanya dalam hal pendidikan formal, orang-orang kita biasanya memilih beberapa lokasi yang didiami banyak praktisi tanaman hias, khususnya aglaonema,” ungkap Arie.
Di setiap seminar, beberapa pengetahuan dan topik mengenai pertanian modern sering diberikan. Tujuannya, agar informasi itu segera diaplikasikan ke masyarakat petani lain. Metode seperti kulutur jaringan, pembudidayaan aglaonema dengan media alternatif, dan penanganan beberapa masalah, seperti hama dan penyakit pada tanaman ini adalah contoh topik yang sering dibahas.
“Tak hanya dalam lingkup rumah tangga dan komunitas tertentu, kegiatan kita juga sering diadakan di kalangan akademisi, seperti kampus dan sekolah. Tak hanya siswa dan mahasiswa, masyarakat sekitar pun sering diajak mengikuti acara yang diadakan tidak tentu ini. Bisa satu bulan atau beberapa bulan sekali, tergantung topik dan kesempatan yang ada,” terang wanita yang juga penulis aneka buku tanaman hias ini.
Keinginan yang tulus ingin memberdayakan dan menciptakan masyarakat petani modern, terutama aglaonema, adalah tujuan AI Jogjakarta, sehingga tak hanya sebagai wadah, AI juga jadi media yang menyalurkan sumber informasi paling efektif.
“Meski begitu, kita masih harus banyak belajar ke tokoh tanaman hias. Dan setelah kita dapat, secepat mungkin bahan itu kita sosialisasikan ke masyarakat,” imbuh Arie. [adi]

Paimo (Paguyuban Ilat Morotuo)

Komunitas Sansevieria Tertua di Indonesia
Nama Paimo, mungkin masih asing di telinga kita. Sekalipun Anda penggemar berat sansevieria Tanah Air. Mungkin istilah Jogjakarta Sansevieria Community (JSC) malah lebih ngetren di telinga, meski itu baru digunakan untuk komunitas tersebut.  

“Paimo didirikan sekitar 4 tahun yang lalu, berawal dari teman-teman pecinta sansevieria di Jogjakarta. Intensitas pertemuan yang sering, akhirnya memunculkan gagasan untuk membuat paguyuban yang mewadahi mereka pecinta sansevieria,” kata Ketua Paimo – Drs Seta Gunawan.

Meski baru 4 tahun, paguyuban yang kepanjangannya Paguyuban Ilat Morotuwo (perkumpulan lidah mertua – nama lain dari sansevieria, red) ini terbilang tertua di Indonesia. Sebab, di beberapa daerah, meski sudah banyak bermunculan pecinta sansevieria, tapi belum ada wadah untuk menaunginya.

Banyak kisah menarik yang dialami oleh anggota penggagas Paimo pertama. Sebagai tanaman yang biasa ditanam di pagar, orang sering memandang sebelah mata sansevieria. Tak jarang, pecinta tanaman ini sering jadi olok-olokan, karena melakukan kegiatan yang sepintas tak bermanfaat.

“Dari cerita beberapa rekan dan pengalaman saya, hal itu sering kita alami. Awalnya risih, tapi lama-lama jadi terbiasa. Setidaknya hingga masyarakat sadar akan kecantikan tanaman ini dan akhirnya banyak dicari orang serta sering dikonteskan,” ujar Seta.

Lucunya, tak jarang mereka yang awalnya mengolok-olok, kini jadi pelanggan Seta dan anggota Paimo. Bahkan tak jarang, mereka akhirnya bergabung dengan paguyuban ini, bahkan meninggalkan kecintaan pada tanaman tertentu sebelum mencintai sansevieria. Meski awalnya kegiatan Paimo hanya sebatas kumpul-kumpul antar rekan pecinta sansevieria tertentu, dalam perjalannya perkumpulan ini mulai membuka diri, terutama bagi mereka yang ingin tahu segala sesuatu tentang tanaman ‘pedang-pedangan’ ini.

“Pada dasarnya paguyuban kita tak pernah aktif mencari anggota. Kita hanya menyediakan pusat informasi bagi masyarakat yang ingin tahu sansevieria. Bagaimana cara budidayanya, bagaimana memperoleh, dan membedakan tanaman ini dengan yang lain,” ungkap Seta.

Selain memberi kesempatan open house bagi pecinta sansevieria di Jogjakarta, paguyuban ini tak ragu untuk terjun menjemput bola. Kegiatan seminar pelatihan dan kontes pun sempat dilator-belakangi oleh paguyuban unik ini. Pola Paimo dalam seminar adalah berbagi ilmu dengan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini umumnya juga bertujuan untuk mensosialisasikan sansevieria ke masyarakat awam, sehingga pencintanya pun diharapkan bertambah.  

Siap Go Nasional dan jadi Pelopor

Ada cerita unik di balik nama Paimo yang disepakati oleh beberapa pendirinya. Sebagai masyarakat Jawa, nama itu mudah dikenal, tapi begitu teman dari luar daerah ingin bergabung dan membuka cabang di tempatnya (terlebih di luar pulau yang tak kenal bahasa Jawa), istilah Paimo sering jadi kendala.

Sebagai paguyuban yang terlebih dulu hadir, Paimo berdiri jadi pelopor gerakan pecinta sansevieria di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan di pulau Jawa, keberadaan Paimo dapat apresiasi besar dari masyarakat, dengan selalu mengikut-sertakan mereka dalam kegiatan yang berhubungan dengan sansevieria. Namun rupanya nama Paimo jadi kendala mereka untuk go nasional.

“Pada dasarnya, nama bukan masalah, karena kita masih menggunakan nama Paimo sebagai identitas paguyuban. Hanya nama ini akan digeser di belakang nama Jogjakarta Sansevieria Community,” ujar Seta. “Nama sansevieria community bisa dipakai sebagai perwakilan cabang di daerah lain. Misalnya, bila di Surabaya jadi Surabaya Sansevieria Community, di Jakarta jadi Jakarta Sansevieria Community, dan sebagainya,” lanjutnya.

Dengan itu, diharapkan pecinta sansevieria dari daerah lain bisa bergabung dengan Paimo, terutama bagi mereka yang ingin memajukan tanaman ini di Indonesia. [hyo]

Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia

Pertahankan Nephentes dari Kepunahan
Terkenal dengan sosoknya seperti monster, tanaman ini dikenal sebagai karnivora pemakan serangga. Untuk itulah selain mengagumi bentuknya, tak jarang orang penasaran dengan sifatnya. Namanya kantong semar. Ia pernah masuk dalam kurikulum studi kita saat duduk di bangku sekolah.

Saat itu, mungkin tak sedikit guru yang mengatakan tanaman ini hanya bisa tumbuh dan berkembang di daerah asalnya. Suhu, kelembaban, dan media tanam tertentu, membuat tanaman ini susah berkembang di daerah lain. Inilah  yang pada akhirnya membuat nephentes tergolong satu diantara beberapa tanaman endhemik (tumbuh sesuai dengan habitat aslinya).

Abdul Kadir, Anggota Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI) di Bogor, mengatakan di Kalimantan tanaman ini mudah berkembang. Jangankan menunggu beberapa tahun, dalam hitungan bulan tanaman ini bak rumput yang tumbuh subur. Jauh keluar di Kalimantan, tanaman ini ternyata juga banyak ditemui di Bogor. Bahkan habitat yang sesuai, membuat banyak pecinta nepenthes menjadikan tanaman ini sebagai maskot kota seribu angkot ini. Namun kendalanya, sebagaimana tanaman yang bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh, nephentes terkadang memiliki sifat pilih-pilih.

“Untuk itulah, biasanya pembeli akan diberi pengertian bagaimana cara merawat dan habitat yang sesuai untuk tanaman ini,” imbuh Abdul.

Bentuk Komunitas

Karena unik dan mungkin tergolong langka, maka beberapa pecinta kantong semar di Indonesia membentuk KTKI pada tahun 2006 lalu. KTKI sengaja dipusatkan di Bogor, karena banyak pakar dan praktisi bidang pertanian, juga suhu yang cocok bagi pertumbuhan nepenthes. Saat ini anggota KTKI sudah mencapai ribuan orang di seluruh Indonesia dan diketuai oleh Apriza Suska.

Biasanya mereka memanfaatkan momen pameran tanaman hias untuk bertemu dengan sesama anggota nepenthes. Namun yang jadi agenda rutin KTKI adalah ketika ada acara ke Kalimantan. Kebanyakan dari anggotanya berusaha menyempatkan datang langsung ke Kalimantan, karena pulau ini habitat asli nepenthes. Acara ini biasa mereka agendakan minimal setahun sekali.

“Fungsi dari wadah ini, selain menyatukan persepsi diharapkan informasi dapat berjalan baik. Sebagai pecinta, kita mempunyai tanggung jawab yang besar. Tak hanya untuk koleksi, sebisa mungkin kegiatan ini bisa menyelamatkan kepunahan jenis tanaman ini,” ujar Abdul.

Mulai Kembangkan Tanaman Segala Daerah   

Di Bogor, kantong semar sudah bisa berkembang dengan baik. Bahkan diantaranya memiliki warna yang berkualitas, meski dibandingkan dengan jenis di habitatnya. Beberapa jenis, seperti three colour, warna yang muncul sangat tegas dan bisa serempak. Itu sedikit berbeda dengan warna tanaman ini di habitat aslinya di Kalimantan.

Ratih, Kolektor Nephentes di Ciawi Bogor, mengatakan hingga saat ini di Bogor ada sekitar 10 lebih jenis kantong semar. Diantaranya, jenis ampularia merah, si daun terompet rafflesiana, mirabili, dan adriani. Semuanya itu diusahakan bisa jadi tanaman segala kondisi.

“Selain itu, ada koleksi langka yang unik, yaitu jenis bicalcarrata. Jenis ini sangat unik, karena selain warna dan daun yang tak biasa, kantong pada jenis ini memiliki bulu seperti taring,” kata Ratih.

Namun hingga saat ini, lingkungan di Bogor tak sepenuhnya bisa mirip dengan Kalimantan, sehingga meski sudah sekitar beberapa tahun ia memelihara tanaman ini, belum sekali pun ia melihat bunga pada tanaman ini terlihat ‘lucu’. Ke depan, banyaknya ahli di bidang nephentes di Bogor, diharapkan bisa menghasilkan varian berkualitas dan bisa tahan hidup dimana saja, sehingga tanaman ini bisa melepaskan sifat endemiknya dan terbebas dari kepunahan. [hyo] 

Komunitas Sansevieria Surabaya

Satukan Beragam Profesi Lewat Lidah Mertua

Geliat beberapa komunitas tanaman hias yang sudah tumbuh dan menghasilkan banyak kegiatan positif, ternyata menarik minat penggemar sansevieria untuk membentuk wadah yang sama. Di beberapa kota memang sudah muncul komunitas sansevieria, salah satunya di Jogjakarta yang namanya Paimo Paguyuban Ilat Morotuo (lidah mertua). Dari kondisi itu, akhirnya muncul Komunitas Sansevieria (Komsa) Surabaya yang resmi berdiri pada 2 Desember 2007 lalu.

Ketua Komsa, S Effendi, mengatakan pembentukan komunitas ini berawal dari kerinduan penggemar sansevieria untuk berkumpul dan berdiskusi. Sebab, sebelumnya penggemar tanaman gurun ini hanya berkumpul bila ada even seperti pameran. Padahal banyak hal yang bisa diutarakan, terutama tentang tren tanaman ini.

“Terbentuknya kami memang untuk menyatukan semua kepentingan melalui hobi tanaman,” tandas Effendi. “Dari konsep itu, diharapkan bisa merangkul semua kepentingan dan profesi dalam satu wadah hobi, sehingga selain kepentingan tanaman, ke depan juga akan memperbanyak jaringan, terutama dalam segi bisnis,” lanjutnya.

Meski disatukan melalui tanaman, tapi dalam mengambil tema, Komsa sendiri lebih mengutamakan pada persahabatan dan persaudaraan. Bahkan tagline yang diambil adalah ‘Bersama sansevieria kita ciptakan persaudaraan serta lingkungan yang sehat dan indah’.

Slogan itu memang cocok, apalagi dengan isu global warming dan polusi yang makin berat, terutama di Surabaya.

Awal terbentuknya Komsa memang sangat panjang, apalagi pada tahun 2007 lalu tanaman hias sedang di puncak, terutama anthurium. Di situ para penggemar dan penghobi berat sansevieria mulai saling bekomunikasi dan mulai membicarakan pembentukan satu komunitas. Sebab, dengan adanya satu lembaga tersendiri akan meningkatkan image dari tanaman yang dinaunginya.

“Bahkan bukan tak mungkin sansevieria akan naik dan jadi tren pada 2008 ini. Sebab, selain dari keindahan bentuk fisiologis tanaman, lidah mertua juga punya khasiat kesehatan yang besar, yaitu kemampuan untuk menyerap polusi dari asap rokok,” ujar Effendi.

Selain itu, bagi orang kantoran yang berkutat di depan monitor komputer, tanaman sukulen ini juga bisa membantu untuk mengurangi efek radiasi. Bahkan untuk beberapa jenis, bisa dikonsumsi sebagai obat. Dari kelebihan itu yang paling utama adalah kemudahan dalam merawat tanaman sansevieria.

Dari potensi pengembangan yang ada, ternyata menyimpan banyak masalah, terutama tentang konsep ke depan Komsa. Saat ini pengurus Komsa sedang mengembangkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Pilihan ini dilakukan setelah melihat AD/ART yang dimiliki oleh komunitas sansevieria pusat belum memenuhi aspirasi di Surabaya dan Jatim.

Di situ jadi salah satu alasan, kenapa tak mengambil nama Masyarakat Sansevieria Indonesia (MSI) yang sudah terbentuk di Jakarta, karena ada beberapa hal yang dirasa masih kurang. Terget jangka pendek yang sedang dikejar adalah konsolidasi ke dalam untuk merampungkan struktur organisasi, termasuk juga AD/ART.

Selain itu, untuk pengembangan kemampuan dan menjaring penghobi baru tahun ini sudah diagendakan untuk menggelar pameran dua kali dalam satu tahun. Selanjutnya untuk even pameran setidaknya tiga bulan sekali bisa terlaksana. Sebab, target yang diinginkan memang satu kegiatan konkrit, seperti kontes dan pameran. Dari intern sendiri akan diagendakan pelatihan antar anggota, setidaknya satu bulan, satu kali untuk memperdalam ilmu sansevieria. [wo2k]