Category Archives: Sansevieria

Teknik Hindari Penyimpangan

Bagi yang Menginginkan Sansevieria Normal

“Kalau punya sansevieria, tak usah diperlakukan terlalu spesial. Semakin dimanja, malah menghambat tampilannya. Biarkan saja ia tumbuh dan membentuk pesona dengan sendirinya,” kata Penggemar Sansevieria di Surabaya, Bimo Setiawan.

Di deretan rak sebuah nurseri, terlihat beragam sansevieria dengan bentuk dan pola yang tak lazim. Ada yang bentuk daun saling meliuk berlawanan, seperti dimiliki sansevieria cylindrica dan giant dengan ragam karakter dalam satu rimpang jadi ciri.
Dua diantara jenis sansevieria ini, rupanya mengalami penyimpangan atau mutasi dalam pertumbuhannya. Tampilan sansevieria ‘cacat’ ini kerap jadi daya tarik kuat, tapi sayang sifatnya tak dapat diturunkan. Artinya, peluang sansevieria mengalami ‘cacat’ tampilan sangat kecil.
Seperti diketahui, keadaan fisiologis tanaman termasuk penyimpangan ini disebabkan oleh banyak faktor, baik diperoleh akibat faktor alam maupun lingkungan. Satu hal yang pasti, terjadinya proses penyimpangan ini tak dapat dibuat secara manual. Sebab, menurut Bimo, siklus ini akan terjadi dengan sendirinya.
“Maka tak heran, jika harga sansevieria cacat bisa mencapai nilai tinggi. Selain dilihat secara estetika, peluangnya juga kecil,” imbuh Bimo.
Alternatif Hindari ‘Cacat’
Namun siapa menyangka, ada beberapa penggemar sansevieria yang justru berminat pada bentuk normal, meski tanamannya berpeluang untuk tumbuh dengan kondisi cacat atau berbeda dengan kondisi normal. Mengingat, sosok cacatnya sempat berhasil jadi tren sansevieria di beberapa daerah Tanah Air. Penyimpangan yang akan terjadi pada sansevieria bisa diketahui ketika tanaman dalam usia remaja atau sekitar 8 bulan.
“Biasanya, penyimpangan ini ditandai dengan tampilan daun yang muncul. Itu berbeda dengan indukannya. Entah itu dari segi bentuk ataupun warna,” ujar Bimo.
Lalu bagaimana, jika tanaman tetap ada dalam kondisi normal? Pada dasarnya, untuk mengubah keadaan fisiologis tanaman tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih, jika proses penyimpangan ini disebabkan oleh faktor alam atau genetik.
Itu berbeda halnya jika dikarenakan faktor lingkungan. Untuk penyimpangan akibat faktor ini masih bisa ditolerir. Meski begitu, tak boleh sembarangan dalam proses mengembalikan tanaman dari yang keadaannya menyimpang ke kondisi normal. Dibutuhkan teknik dan trik khusus dalam penerapannya.
Pertahankan Tampilan Daun
Seperti sansevieria trifasciata milik Bimo yang tumbuh dengan kondisi daun menutup. Mengingat, untuk jenis ini pesona daun yang dipamerkan cenderung melebar dengan ujung meruncing sebagai tanda sansevieria tumbuh dalam keadaan normal. Tetapi, pesona ini tak didapati pada sansevieria milik Bimo. Atau, beberapa dari Anda mungkin juga mengalami hal serupa. Dalam hal ini, faktor lingkungan biasanya jadi penyebab pertumbuhan tanaman terganggu.
Bagi Anda yang gemar dengan tampilan sansevieria cacat, pertumbuhan seperti ini tak jadi soal. Itu beda lagi bagi Anda yang tetap menginginkan sansevieria tampil normal, tentu berharap tanamannya kembali seperti semula bukan?
Sebenarnya, penyimpangan akibat faktor lingkungan ini bisa ditanggulangi, seperti tampilan daun yang tak kunjung melebar. Bimo memiliki trik khusus untuk mencegah sensevierianya tumbuh dengan kelainan, yaitu dengan memanfaatkan styrofoam sebagai penyangga.
Caranya, dengan menyusupkan styrofoam seukuran dengan kondisi daun yang menutup. Tahap ini sebaiknya dilakukan secara hati-hati. Jika tidak, daun yang masih muda akan rentan sekali robek. Sama halnya dengan penggunaan styrofoam yang dipilih sebagai penyangga, lantaran teksturnya yang tak terlalu keras, sehingga sesuai dengan kontur daun. Di sini, styrofoam berfungsi untuk mengatur gerak daun agar tumbuh melebar.
Dalam kurun waktu sekitar 2-3 minggu, bisa dipastikan terjadi perubahan pada bentuk daunnya, dimana secara perlahan struktur daun yang menutup akan dengan sendirinya melebar dan styrofoam boleh diambil. Namun jika tekstur daunnya kurang melebar, penggunaan styrofoam bisa diterapkan lagi. Dengan menambah ukurannya sesuai diameter kelengkungan daun. Biarkan proses ini berlangsung hingga styrofoam lepas dengan sendirinya. [santi]
Faktor Lingkungan Mudah Diatasi
Penyimpangan yang disebabkan oleh faktor lingkungan memiliki kecenderungan mudah untuk diatasi atau kembali seperti keadaan normal. Selain tekstur daun yang bermasalah, perubahan warna karena lingkungan sering juga jadi kendala. Untuk masalah seperti ini, teknik pencahayaan perlu diperhatikan.
Pengaturan cahaya di sini disesuaikan dengan karakter masing-masing tanaman. Mengingat, beragam jenis sansevieria memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya. Namun kebutuhan tanaman akan sinar matahari bersifat mutlak. Artinya, sinar matahari mutlak diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman.
Aspek cahaya yang dibutuhkan adalah intensitas dan lama penyinaran. Namun ada beberapa jenis sansevieria yang tak tahan dengan penyinaran berlebih. Untuk jenis ini, sebaiknya dijadikan tanaman in-door. Sebagai tanaman in-door, sansevieria diletakkan dalam ruangan.
Untuk mencukupi kebutuhan akan cahaya, sinar matahari bisa diganti dengan cahaya lampu. Akan tetapi, tetap sesekali tanaman harus dikeluarkan untuk mencegah terjadinya etiolasi akibat kekurangan cahaya matahari. Sansevieria kekurangan cahaya ditandai dengan kondisi daun yang agak pucat, putih, dan lama kelamaan jaringan tanaman akan melemah.
Sama halnya dengan temperatur suhu – idealnya sansevieria tumbuh pada suhu sedang. Tidak terlalu rendah ataupun tinggi. Sebab, suhu terlalu rendah akan menghambat pertumbuhannya. Sedangkan daerah pegunungan yang bersuhu dingin juga tak cocok untuk sansevieria, khususnya untuk jenis yang berdaun pipih atau membentuk helaian. [santi]

Lidah Jin, Ehgen Bergi, Foscalina

Lebih Indah dan Lebih Mahal

Ketiga jenis sansevieria ini mempunyai kekuatan lebih di warna dan karakter yang membuatnya bernilai mahal. Mau tahu kelebihannya?

Lidah jin mempunyai bentuk batang kuat dan meruncing dengan warna hijau kuat. Ehgen bergi punya bentuk melengkung dan memiliki kanal lebar dengan paduan warna hijau dan coklat. Foscalina punya karakter lebih lembut dengan batang lebar dan memadukan grafis warna coklat dan hijau.
Dilihat dari jenis dan kelas sansevieria memang beragam, tapi jangan melihat kelas sebagai satu kualitas. Namun lebih pada apreasiasi masyarakat untuk mendapatkan dengan harga lebih mahal. Sebab selain dari kelangkaan harga jual sansevieria, juga dilihat dari karakter tanaman.
Saat kita melihat jenis trifasciata, tentu akan berbeda dengan jenis cylindrica. Karakter cylidrica jelas lebih kokoh dibandingkan dengan trifasciata yang berdaun lebar. Di situ, harga pasar ternyata mengarah pada karakter tanaman, membuat batang keras mempunyai harga lebih mahal.
Daun Kuat Lidah Jin
Kondisi ini membuat jenis lidah jin atau sansevieria aethiopica punya harga lebih mahal. Karakter yang kuat dan kekar, membuatnya masuk dalam jajaran tingkat atas tanaman yang dikenal sebagai lidah mertua ini. Di pasaran untuk jumlah daun 5 buah, penjual akan melepas setidaknya Rp 1,2 juta.
Memang nilainya fantastis untuk sebuah sansevieria yang dulunya dikenal sebagai tanaman pagar. Lidah jin sendiri merupakan salah satu sebutan sansevieria di negara tetangga, Malaysia. Sedangkan di Indonesia disebut dengan lidah mertua. Entah karena lidah para mertua di Indonesia terkenal tajam, tapi yang jelas jenis ini banyak menghuni lahan kolektor tanaman hias.
Bentuk daunnya disebut batang, mempunyai warna hijau dengan bintik hijau tua yang merata di semua bagian daun. Ujungnya runcing yang juga jadi ciri khas jenis sansevieria. Daun yang imiliki termasuk dalam jenis panjang, karena meski mempunyai kanal, tapi arah geraknya lurus mendatar, tak melengkung.
Karakter lurus ini, membuat lidah jin membutuhkan pot lebih besar atau lokasi yang lebih luas, karena ujung runcingnya bisa rusak bila diletakkan berdempetan. Celakanya, ujung yang rusak sudah tak akan kembali. Jadi sayang, bila ujung daun cacat hanya karena kesalahan lokasi.
Untuk proses pertumbuhan juga jadi nilai lebih, karena proses perkembangan lidah jin termasuk lama, sehingga proses perbanyakan juga membutuhkan wkatu lebih, akhirnya jadi jarang di pasaran. Di situ jelas, kalau harga akan lebih mahal.
Saat berencana untuk memiliki jenis ini yang harus diperhatikan pertama kali adalah kesehatan tanaman yang ditandai dengan kondisi daun/batang yang bersih mengkilat dan gemuk. Gemuk disini akan terlihat bahwa kerutan yang muncul tak kusam serta mampu mengeluarkan warna dengan cerah.
Sebaiknya memilih yang sudah mempunyai daun lebih dari 3 untuk menandai kalau daun tumbuh memutar/rouset. Jangan lupa, untuk mengingatkan siapa saja untuk tak mendekati daun yang hendak keluar, karena sangat rentan untuk rusak bila terkena sentuhan.
Lengkungan Daun Ehgen Bergi
Jenis satu ini memang cukup banyak dilihat saat pameran atau bursa, tapi paduan warna coklat dan hijau di tepi daun membuatnya berbeda. Jadi, harga jual yang ditawarkan setidaknya Rp 750 ribu untuk satu pot dengan jumlah daun sekitar 8 lembar. Angka yang mahal bila dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya, tapi tetap memiliki keistimewaan sendiri.
“Jenis ini berdaun panjang, tapi melengkung ke bawah,” tandas Penghobi Sansevieria di Sidoarjo Jawa Timur (Jatim), Daeng Yene. Istimewanya arah gerakan daun tak memutar, tapi mendatar, sehingga dari depan daun akan mempunyai muka yang datar dengan daun yang saling bertumpuk. Berbeda dengan tanaman hias lainnya yang bergerak memutar membentuk struktur rouset.
Itu masuk akal bila stau potnya sudah mengocek kantong mahal, karena dari bentuk tanaman sudah mempunyai kelebihan. Warnanya terjadi metamorfosis, dimana saat keluar dari batang warna hijau muda dan makin tua mendekati ujung. Warna tetap jadi satu hal yang sensitif di dunia tanaman hias, sehingga perubahan sedikit apapun akan meningkatkan harga jual dan tentunya popularitas.
Dari list/tepi daun yang muncul juga masih mengandalkan warna, karena dari hijaunya daun akan diikuti dengan gradasi warna coklat. Warna coklat muncul hampir sama dengan warna di bagian daun yang rusak, termasuk struktur bergerigi dan kasar. Tapi jangan khawatir, karena kondisi ini memang normal, bahkan jadi satu kelebihan.
Karakter daun yang bergelombang dan mempunyai kanal besar, membuat jenis ini juga lebih unggul dari yang lain. Cara memilih yang tepat adalah mencari bentuk yang pipih, dimana gerakan daun mengarah ke samping seluruhnya, bukan ke depan dan ke belakang. Biasanya terlihat saat daun sudah berjumlah antara 3-4 lembar. Ini untuk menandakan kemurnian jenis ehgen bergi yang mempunyai gerakan daun tumbuh dalam satu garis lurus.
Foscalina yang Eksotik
Jenis ini memang dari kelas genus kirkii yang mempunyai warna coklat, berdaun lebar, berkanal, dan tepi daun bergelombang. Daun tumbuh memutar dengan bagian tengah yang mempunyai lubang sebagai tempat keluarnya daun baru.
Warna yang muncul terkesan eksotis, karena cenderung gelap, meski hanya memadukan antara warna coklat dan motif bergaris coklat tua. Karakter daun yang muncul tak lagi panjang atau lurus, tapi lebih pipih, melengkung, dan pendek. Ukurannya kecil, dimana untuk 5 daun diametar tak lebih dari 30 cm dan dijual dengan harga Rp 400 ribu.
Harga jenis ini memang lebih bersahabat, karena proses pertumbuhan lebih cepat dari dua jenis di atas, sehingga proses perbanyakan jadi lebih cepat. Namun kesulitannya adalah menghasilkan satu prduk berkualitas yang punya kesehatan dan tentunya bentuk yang sempurna.
Memilih jenis ini tak terlalu sulit, tinggal memperhatikan struktur daun. Pada tanaman yang sehat, daun akan halus dan mengkilat. Jangan lupa juga memperhatikan warna yang muncul, karena warna cerah tentu menandakan tanaman tumbuh normal. Terakhir, tentu melihat dari atas untuk menandai arah gerak daun apakah memutar/rouset atau tidak. [wo2k]

Sisi Lain Sansevieria

Pucuk Hilang, Hambat Pertumbuhan
Liuk gemulai setiap daunnya, menghadirkan pesona sendiri bagi sansevieria. Ketenarannya ibarat permainan sulap yang mampu mengeluarkan sihir. Bagaimana tidak, tanaman yang dulu dicaci, kini kian dicintai. Namun di balik kemolekannya itu, ia penyimpan sisi lain yang patut Anda ketahui.
Tampilan yang muncul pada sansevieria juga memperhitungkan tingkat keunikan. Artinya, keunikan itu sendiri mencakup banyak hal. Selain jenis, ada bagian lain yang patut jadi prioritas. Misalnya, struktur bentuk, pola kombinasi warna pada setiap daunnya, dan masalah kesehatan.
Semuanya itu saling berkaitan satu sama lain dalam membentuk tampilan tanaman, agar tampil maksimal. Bahkan ada beberapa orang yang memberi perlakuan ‘spesial’ pada sansevieria yang dipeliharanya. Banyak cara ‘spesial’ yang diterapkan, agar sansevieria tampil oke. Padahal sansevieria ini bukan jenis tanaman yang rumit dalam perawatan.
“Dibiarkan satu minggu, tanpa dilakukan penyiraman pun, tak masalah bagi sansevieria. Sebenarnya tak perlu perawatan yang khusus,” kata penggemar sansevieria di Malang – Hari Sukoco.
Pucuk Daun, Bagian Rawan
Memang, masih kata Hari, urusan tampilan untuk tanaman satu ini harus dinomer-satukan. Pasalnya, selain dinikmati manfaatnya sebagai anti-polutan, daya tarik sansevieria ada pada pesona daunnya. Namun tahukah Anda? Selain sosok daun yang mempesona, ada bagian sansevieria yang berperan penting dalam pembentukan tampilan secara keseluruhan, yaitu bagian pucuk daun. Dan, mengapa pucuk daun sansevieria ini memiliki peranan penting?
Sebab, ternyata selain akan berhubungan dengan tampilan tanaman, ternyata bagian pucuk ini juga akan mempengaruhi proses pertumbuhan. Mengingat, bagian pucuk daun sansevieria ini kebanyakan memiliki karakteristik acutus atau runcing, sehingga rawan pada bagian ini untuk patah atau putus.
Pengaruhnya pada pertumbuhan akan terlihat, jika pucuk daunnya terputus, yaitu pucuk tidak akan muncul lagi seperti bentuk semula. Itu akan berpengaruh pada tampilan dan nilai jual tanaman. Sebab, tidak dapat membentuk pucuk baru, sehingga banyak yang melakukan alternatif pemangkasan daun.
“Sebenarnya hal itu wajar terjadi pada setiap tanaman. Tapi, cacat seperti ini (pucuk daun terputus) tidak dapat dibenahi,” tandas Hari.
Maka cara yang paling efektif untuk melindungi bagian pucuk tanaman agar tidak putus, yaitu dengan menggunakan pipa plastik kecil atau sedotan dan diletakkan di bagian pucuknya, sehingga tanaman akan aman, meski harus bersenggolan. [santi]
Menjaga Tampilan Daun
Terlepas dari masalah bagian pucuk daun yang rawan patah, beralih ke kesehatan daun kini. Meski bukan tergolong tanaman yang butuh perhatian ekstra, bukan berarti sansevieria ini kebal pada penyakit. Justru tanaman ini, lemah jika berhadapan dengan penyakit.
Jenis penyakit yang banyak menghinggap di sansevieria ini bervariasi, seperti tengu merah dan kutu. Namun bagi Anda yang ‘cinta mati’ dengan sansevieria, tak perlu resah. Sebab, cara untuk mengatasi masalah ini tak serumit yang dibayangkan, yaitu hanya menyemprotkan insektisida dengan frekuensi waktu sekali dalam satu minggu.
Treatment ini dilakukan sebagai pencegahan pada penyakit yang sering menyerang tanaman. Selain berpengaruh pada kesehatan tanaman secara keseluruhan, juga akan berdampak pada tampilan. Tentunya itu akan mengurangi nilai, baik secara estetika ataupun ekonomi.
Bukan hanya penyakit yang terkadang membuat resah. Perlakuan pada tanaman yang tak tepat pun bisa jadi pemicu kesehatan tanaman, seperti terjadinya busuk daun. Itu bisa terjadi, karena proses penyiraman yang berlebihan. Mengingat, tanaman yang tergolong famili agaveceae ini merupakan jenis penyuka media kering, sehingga frekuensi penyiramannya tak harus dilakukan secara berlebihan.
Demikian halnya dengan penempatan sansevieria. Sebab, merupakan jenis tanaman yang ‘bandel’, jadi tak jadi soal untuk proses pertumbuhan di berbagai tempat. Baik diletakkan dalam indoor (dalam ruangan) ataupun outdoor (luar ruangan). Namun perlu diperhatikan di sini adalah ketika tanaman harus diletakkan di luar ruangan, sehingga perlu adanya naungan.
Memang, sansevieria merupakan tanaman yang hidup di segala habitat. Hanya pemberian naungan di sini, fungsi utamanya bukan sebagai kontrol intensitas pencahayaan. Tapi, lebih pada mengurangi frekuensi air hujan yang masuk. Sebaiknya, untuk mengurangi jumlah air hujan yang masuk, cukup menggunakan shading net atau plastik ultraviolet (UV). Alternatif ini dapat diterapkan hanya menggunakan salah satu ataupun keduanya, sehingga akan meminimalisir terjadinya busuk daun akibat berlebihnya kandungan air dalam media tanam.
Serangan busuk daun ini disebabkan oleh bakteri Erwinia Carotovora yang menyerang daun atau akar tanaman, terutama menginfeksi melalui luka yang menganga. Daun atau akar yang terserang terlihat berwarna kecoklat-coklatan dan terasa lunak bila dipegang, berlendir, serta berbau tak enak, dan lama-kelamaan akan berubah seperti bubur.
Penyakit yang menyerang sansevieria umumnya merupakan gangguan yang diakibatkan oleh adanya patogen atau jasad renik yang tak terlihat oleh mata biasa. Cara mengatasi serangan patogen ini adalah dengan memangkas bagian yang terkena serangan dan mengolesinya dengan Na-hipoklorit (Clorox), serta membakar bagian yang terkena serangan.
Otomatis, tampilan tanaman ditentukan dari perlakuan tanaman yang akan berpengaruh pada proses pertumbuhan. Namun itu tak jadi soal, jika ada sebagian tanaman Anda terlanjur terserang hama penyakit. Sebab, pencegahannya tak serumit yang dibayangkan dan kondisi tanaman pasca terserang hama penyakit akan segera pulih seperti sediakala. [santi]

Klasifikasi Sansevieria

Kingdom          : Plantae  (tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta   (berpembuluh)
Superdivisio    : Spermatophyta   (menghasilkan biji)
Divisio              : Magnoliophyta   (berbunga)
Kelas                : Liliopsida   (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas        : Liliidae
Ordo                 : Liliales
Familia             : Agavaceae
Genus               : Sansevieria
Spesies             : Sansevieria trifasciata  Prain.

(sumber plantamor.com)

Sansevieria Mutasi

Cacat Pembawa Berkah
Warnanya memang aneh. Itu bila dibandingkan dengan sansevieria normal. Bila pada jenis sansevieria lourentii normal warnanya hijau dengan garis kuning, mutasi bisa kebalikannya – kuning dengan garis hijau, bahkan keseluruhannya berwarna kuning. Harganya pun fantastis bila dibandingkan dengan sansevieria normal.
Seakan sudah jadi hukum alam, keanehan yang terjadi pada tanaman hias, termasuk sansevieria, membuat jenis mutasi berharga mahal. Namun tak selamanya, alasan itu menyebabkan mutasi berharga mahal. Gengsi karena memiliki jenis ‘hanya’ satu-satunya itu, membuat harga kian melambung.
Pengalaman itu mungkin salah satunya dialami oleh Listyo Bramantyo – Pebisnis Sansevieria di Jogjakarta. Beberapa jenis sansevierianya memiliki cacat sekaligus membuatnya unik,  yaitu munculnya warna kuning dan putih pada beberapa jenis sansevieria giant.
“Beberapa orang sempat menawar koleksi langka ini. Namun hingga saat ini, kita belum berani membuka harga, karena minimnya koleksi, membuat jenis ini untuk dikoleksi sendiri terlebih dulu,” ujar Listyo.
Warna kuning dan putih itu muncul seragam dengan motif horisontal. Namun demikian, warna hijau dan hitam masih jadi latar belakang yang khas dari jenis trivaciata asal Afrika itu. Kecacatan yang berakhir pada keunikan ini, membuat jenis ini belum berbandrol hingga sekarang.
Kenapa Sansevieria Berubah Bentuk?
Cacat pada sansevieria atau tanaman lainnya adalah hal wajar, bahkan itu juga sering terjadi di setiap makluk hidup lain. Hanya keunikan sifat yang nyleneh, membuat hal itu sering dinanti pecinta tanaman hias muncul pada tanaman jagoannya.
Menurut Arie W Kusuma, Dosen Pertanian Agronomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta, perubahan warna dan bentuk tanaman pada dasarnya hal normal. Tak hanya tanaman, dalam penyusunan DNA (penyusun kromosom), tak jarang mahkluk hidup selalu mengalami kecelakaan atau penyusunan yang tak berjalan normal, akhirnya terjadi perubahan sifat.
“Gejala mutasi tak sama antara satu tanaman dengan yang lain. Sebab, biasanya hal ini terjadi akibat gejala genetik,” imbuh Arie. “Dalam sel makluk hidup, biasa tersusun dengan rangkaian DNA yang saling membangun. Normalnya, DNA itu tersusun secara normal dengan struktur yang sesuai,” tambahnya.
Hanya susunan tersebut tak selalu berjalan lancar. Pasalnya, beberapa bagian sering tersusun secara nyleneh. Susunan terbalik atau bagian yang tersusun random adalah beberapa contoh diantaranya. Itu yang akhirnya mengakibatkan kelainan atau istilah kita mutasi. Banyak perubahan yang bermuara dalam mutasi tanaman. Umumnya mulai dari warna, bentuk, penampilan, dan proses tumbuh-kembang (umumnya dalam ukuran normal tanaman tumbuh cepat atau malah tumbuh lambat).
“Perubahan atau mutasi tanaman yang terbentuk, karena rangkaian susunan DNA yang kurang tepat, pada dasarnya sering mengakibatkan dampak buruk sekaligus negatif. Sebab, di saat beberapa tanaman yang bermutasi memiliki estetika lebih, lainnya justru mengalami perpendekan usia atau mati,” ujar Arie.
Jika mengutip pendapat Arie dalam bukunya bertajuk Sansevieria, mutasi pada tanaman biasanya dibagi jadi beberapa kelompok, yaitu mutasi morfologi, letal, kondisional, biokimia, dan mutasi resistensi.
Mutasi morfologi adalah mutasi yang bisa dilihat dengan ciri perubahan pada bentuk, warna dan ukuran daun yang berubah dari induknya. Mutasi ini sering dijumpai pada sansevieria dan tanaman lain. Pada sansevieria mutasi ini ditandai dengan warna daun hijau bergaris kuning berubah jadi kuning polos.
Mutasi letal adalah perubahan yang bersifat negatif, karena ini sering berakibat pada kematian (letal). Itu sering terjadi ketika sansevieria di-stek. Ada juga mutasi kondisional. Itu sering terjadi akibat pengaruh lingkungan (kondisi). Anthurium black beauty misalnya, di daerah dingin, mutasi warna jenis ini akan muncul. Tapi sebaliknya, di daerah panas, mutasi jenis yang sama tak muncul, bahkan sulit.
Ada juga jenis mutasi biokimia. Mutasi ini biasa disebabkan oleh bahan-bahan yang merusak tanaman, sehingga tanaman berakibat negatif, dengan ditandai struktur bagian tertentu jadi kurang menarik, kriting, lemas, berubah warna tua, dan kering adalah contoh yang sering terjadi. Namun hal ini bisa diminimalisir dengan pemberian nutrisi yang baik.
Terakhir adalah mutasi resistensi. Mutasi ini biasanya disebabkan oleh nutrisi atau bahan biokimia yang lain, seperti kolkisin atau irradiasi sinar gama. Mutasi ini bersifat resistan, karena perubahan atau tetap. Jumlah kromoson yang terlibat tersusun secara terbalik, berkurang atau bertambah. Banyak yang sering bertanya, bisakah mutasi dibentuk?
Dan dari keterangan Arie, hal itu sangat mungkin dilakukan, yaitu dengan metode penggunaan bio kimia. Biasanya hal itu dilakukan dengan latar belakang ilmu yang cukup. Sebab, metode ini menggunakan perhitungan dan proses pengukuran bahan yang tepat. [adi]
Pasar Mutasi Tetap Menarik
Meski memiliki populasi sedikit, tapi sansevieria mutasi tak mempunyai pasar yang besar. Selain harga lebih tinggi, produk yang dijual juga terbatas. Jadi bila dibandingkan dengan produk normal, jenis mutasi mengisi sangat kecil. Tapi bila dilihat dari nilai rupiah yang dihasilkan, bisa jadi produk mutasi lebih menguntungkan.
Pebisnis Sansevieria di Surabaya – Budi Wibowo, mengaku kalau saat ini memang untuk jenis mutasi mempunyai banyak peminat. Sebagai ilustrasi, dikatakan kalau dari semua produk mutasi, terutama yang permanen begitu ditawarkan pasti ada pembeli.
“Jadi berapapun barang mutasi, pasti bisa terjual,” tandas Budi.
Sayangnya, populasi jenis mutasi sangat sedikit, bahkan bisa di atas 1:100. Jadi meski menjanjikan, keuntungan besar tetap tak bisa dikejar atau dipastikan. Sebab dari harga mahal, pembelinya dari kalangan tertentu saja. Lagi pula tak semua jenis mutasi mempunyai harga mahal, karena tetap bergantung dari jenisnya.
Contohnya, untuk jenis laurentii normal setidaknya harga jual berkisar di angka Rp 10 ribu. Namun saat jadi mutasi, jenis berdaun lebar ini paling tidak bisa mendatangkan uang hingga Rp 150 ribu. Berlipat hingga 10-20 kali jadi hal wajar, karena memang jadi barang langka.
Contoh lain dari jenis yang mahal adalah giant yang punya harga pasaran sekitar Rp 75 ribu setiap daunnya. Saat warna mengalami mutasi atau variegata jadi putih, jangan kaget bila penjual akan melepas dengan harga Rp 2 juta. Cukup menggiurkan dan tentunya punya prospek usaha besar.
Tapi jangan harap keuntungan besar bisa dicapai dengan mudah, karena baik dari petani, tengkulak maupun pedagang tak akan mudah untuk melepaskannya. Tak kalah penting juga adalah dimana lokasi berjualan, karena antara lokasi outdoor dan indoor jelas berbeda, termasuk di lapangan atau di dalam mall.
Menariknya, pasar sansevieria mutasi juga diungkapkan oleh Hadi – pebisnis yang banyak menjual produk mutasi. Tapi jenis yang dimiliki relatif mempunyai harga terjangkau, sehingga meski mutasi, tapi di tingkat pembeli harga masih bisa dipahami. Salah satunya untuk jenis vutura mutasi yang dijualnya Rp 275 ribu. Angka ini tentu tak terlalu mahal, tapi kelas pasar yang diambil akan lebih besar. Jadi secara kasar, keuntungan sedikit, tapi kuantitas besar. Secara kauntitas pun jumlahnya tak sampai 10% dari produk normal. [wo2k]

Mutasi 3 Spesies Sansevieria

Satu Rimpang, Beragam Karakter

Sanseviera terkenal karena pesonanya yang menawan. Tekstur daunnya kaku dan meliuk bak gerakan ular. Kombinasi warnanya nyeleneh. Pesonanya tak berhenti sampai disitu. Coba lihat juga bagian pucuk daun pada beberapa jenis sanseviera dengan beragam keunikannya.

Beberapa jenis sanseviera terlahir dengan membawa karakter dan keunikan yang berbeda. Seperti sanseviera koleksi warga Malang – Hari Sukoco yang tengah mengalami mutasi warna. Melihat sosok uniknya, banyak yang mengira beragam jenis sansiviera ini ditanam dalam satu pot. Mengingat, karakter yang ditampilkan bervariasi. Ternyata usut punya usut, jenis sansiviera ini masih satu rimpang. Artinya, masih dalam satu indukan.

 

Foto : hahniisteakertwister

Konon, kata Hari, sanseviera mutasi warna ini merupakan hasil silangan 3 spesies berbeda. Ia menyebut jenis pagoda, green mould, dan satu sansiviera yang merupakan jenis mutasi. Hasil silangan inilah yang melahirkan sosoknya seperti saat ini. Bila dilihat teliti, ciri ketiga jenis ini cukup menunjukkan karakternya. Hanya, varian karakter ini tak berpadu. Masing-masing seakan berlomba memamerkan karakternya.

Itu terlihat di satu sisi tanaman yang mencolok dengan karakter pagodanya. Misalnya, warna hijau dipadu kuning yang mewakili karakter pagoda. Sedangkan di sisi lain, dominasi pesona warna kuning sebagai ciri paduan green mould dan pagoda, makin mempercantik tampilannya. Uniknya, muncul kuncup dengan membawa karakter beda dari kedua kakaknya. Dominasi warna silver, membuatnya terlihat elegan.

Keunikan ini juga berpadu manis dengan pola beragam di masing-masing daun dalam satu rimpang. Tak heran, banyak yang menawar sanseviera ini dengan harga tinggi, yaitu berkisar Rp 100 ke atas untuk sansevieria mutasi ukuran kecil (diameter 10 cm).  Namun sayangnya, Hari hanya menjadikannya sebagai koleksi. Continue reading Mutasi 3 Spesies Sansevieria

Cylindrica, Trifasciata, dan Hahnii

Sansevieria Pencetak Uang
Di tingkat bursa, hanya ada tiga besar sansevieria yang paling banyak diminati, yaitu cylindrica, trifasciata, dan hahnii.

Meski mempunyai banyak jenis, keluarga agavaceae ini ternyata mempunyai tingkat penjualan yang beragam. Jenis, kelangkaan, dan usia sangat mempengaruhi harga jual pada konsumen. Cylindrica, trifasciata, dan hahnii adalah jenis sansevieria yang dinilai paling menguntungkan di tingkat bursa. Sebab, sebagian besar pengunjung akan membeli dari jenis ini.Memang, alasannya masih mengandalkan harga jual yang murah dan tentunya pertumbuhan yang cepat, sehingga konsumen bisa membawa dengan harga yang relatif murah. Kondisi ini tentu cukup menggembirakan bagi pedagang. Sebab, meski dinilai mempunyai keuntungan yang tak terlalu besar, tapi dari kuantitas yang cukup tinggi tetap saja jenis ini jadi buruan. Apalagi di Jatim, sudah terdapat sentra penanaman sansevieria, yaitu di Kabupaten Lumajang.

Meningkatnya pamor sansevieria sendiri dimulai pada akhir tahun 2007, saat tren anthurium mulai berkurang. Kebetulan komunitas sansevieria juga gencar melakukan sosialisasi, membuat tanaman sukulen ini mulai banyak diminati pembeli. Sebab, selain harga yang lebih murah, perawatannya juga tak terlalu rumit.Syamsul Arifin dari Multi Agro Perdana Sidoarjo Jatim mengatakan, permintaan sansevieria masuk tahun 2008 cukup bagus. Apalagi untuk harga yang ada di bawah Rp 100 ribu per potnya. Sebab, bagaimanapun harga tetap jadi satu pertimbangan utama dalam membeli tanaman hias.

Di situ, memang ada beberapa jenis yang cukup digemari dan tentuya punya harga terjangkau, yaitu untuk jenis cylindrica dan trifasciata serta hahnii. Jenis tersebut dipastikan akan laris dibeli setiap ada gelaran bursa tanaman hias. Daya tarik lain dari sansenvieria selain sebagai tanaman hias juga punya khasiat herbal.Sebagai petani dan pedagang, tentu harus memilih produk yang punya daya serap pasar paling besar. Di situ, tentu perputaran uang akan jadi hal yang penting, sehingga pilihan tepat adalah mencari produk yang laris meski margin keuntungan lebih sedikit.“Biar sedikit, tapi kalau yang dibeli banyak akhirnya sama saja untungnya,” tandas Syamsul. “Sehingga saya lebih senang mengambil dan membudidayakan sansevieria yang punya harga jual terjangkau. Dengan harga terjangkau, pembeli yang datang juga makin banyak,” lanjutnya.

Janji Keuntungan Besar

Secara ekonomis, menjual produk sansevieria murah memang untung, tapi ia punya pasar yang jauh menguntungkan. Bila dihitung kita mengambil dari petani di Lumajang Rp 20 ribu per potnya, dengan membawa satu buah pick up, maka setidaknya bisa membawa hingga 3 ratus tanaman. Maka, biaya yang dikeluarkan untuk belanja Rp 6 juta. Bila berangkat dari Surabaya, maka untuk biaya transportasi termasuk bensin dan penyusutan kendaraan Rp 400 ribu. Artinya, biaya produksi jadi Rp 6,4 juta.Asumsi penjualannya melalui pameran, maka biaya produksi ditambah dengan sewa stan setidaknya Rp 1 juta untuk satu kali pameran, sehingga total biaya jadi Rp 7,4 juta. Di pasaran, untuk jenis trifasciata terutama pedang jono berkisar Rp 70 ribu per potnya. Bila dikurangi dengan biaya pot dan media tanam Rp 10 ribu, berarti harga jual sebesar Rp 60 ribu.

Sebut saja, dalam satu hari kita bisa menjual 15 pot berarti dalam satu even 10 hari uang yang didapat sebesar Rp 60 ribu dikalikan 150. Artinya, angka penjualan mencapai Rp 9 juta dalam satu kali pameran. Bila dikurangi dengan biaya produksi sebesar Rp 7,4 juta berarti sudah ada margin Rp 1,6 juta. Jumlah itu belum dikurangi dengan biaya pameran seperti gaji pegawai dan konsumsi.Dengan keuntungan Rp 1,6 juta, ternyata masih ada barang yang tersisa berjumlah 150 tanaman. Bila dijual dengan harga sama, maka masih ada simpanan uang dari sisa tanaman sebanyak Rp 9 juta. Namun tentu hitungan itu tak termasuk tanaman yang mati dan harga pasaran yang naik-turun.  
“Resiko tetap ada, apalagi sansevieria rentan terkena penyakit dan kerusakan fisik. Di tingkat bursa, harga bisa tinggi bila struktur tanaman bagus dan tak ada cacat. Kondisi ini tentu menyulitkan, karena mulai dari saat panen dan transportasi sangat rawan terkena kerusakan fisik,” ujar Syamsul. [wo2k]

 

Batang Kuat Cylindrica

Jenis ini memang punya kekuatan di bagian batang yang juga sebagai daun. Bentuknya membulat dan makin runcing menuju ke atas. Jenis ini punya proses pertumbuhan yang cepat, tapi butuh ruang yang luas. Sebab, arah pergerakan tanaman ini menuju ke samping.Dengan ujung yang runcing, tentu harus ada lokasi yang luas. Sebab bila ujung tumpul, maka harga jual akan jauh berkurang. Jenis ini termasuk yang cukup laris di pasaran, dimana harga jual untuk usia sekitar 1 tahun bisa mencapai Rp 80 ribu lebih. Apalagi bila sang penjual melengkapi dengan pot keramik dan media tanam yang bagus, harga bisa Rp 100 ribu.

Daun Lebar Trifasciata

Jenis ini mungkin termasuk sansevieria yang paling popular. Sebab, dengan daun yang lebar dan tumbuh memanjang ke atas, paling mudah untuk dikenali. Selain itu, jenis ini banyak ditanam di taman kota dan lokasi yang berpolosi tinggi. Namun tentu untuk jenis yang murah, karena banyak juga jenis trifasciata yang punya harga mahal. Salah satunya adalah jenis pedang jono yang punya warna hijau tua dengan sedikit garis hijau muda yang muncul. Jenis ini termasuk salah satu sansevieria yang digemari. Di tingkat bursa, harga jualnya mahal, dimana untuk ukuran 50 cm mencapai Rp 80 ribu. Bahkan bisa lebih, bila warna pemukaan daun mengalami mutasi/perubahan warna.

Hahnii Yang Imut

Hahni sendiri merupakan kerabat dari trifasciata yang punya struktur kecil dan mempunyai arah gerak yang melingkar. Bila dilihat sepintas, jenis ini mirip dengan bunga mawar yang tumbuh rapat dan melingkar. Warna yang paling disukai adalah kuning dengan strip hijau.Harga jual untuk jenis ini cukup murah, dimana berkisar antara Rp 20-Rp 25 ribu setiap potnya. Dengan dimensi yang kecil, dimana lingkar tanaman tak lebih dari 20 cm, membuat jenis ini banyak dicari orang kantoran. Fungsinya, sebagai penyerap radiasi dan polutan di dekat komputer. [wo2k]

Bolpho Pyllom

*Sansevieria Langka Berharga Rp 30 Juta

Sansevieria atau biasa disebut lidah mertua ini bagi penggemar tanaman hias masih diminati. Wajar, karena bentuknya yang sensual dan khas. Belum lagi khasiatnya yang baik untuk kesehatan, yaitu sebagai penyerap antioksidan.

cimg0662.jpg

Sansevieria adalah tanaman hias yang cukup populer dan sering digunakan sebagai tanaman hias di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari. Tanaman ini berkembangbiak melalui umbi lapis. Sebagai tanaman gurun, sansevieria memiliki bentuk yang terbilang minimalis. Tanpa banyak variasi, tanpa batang, dengan daun berstruktur keras. Karena bentuk yang tak biasa inilah, hati kolektor biasanya mulai kesengsem dengan tanaman yang sering digunakan anak kecil untuk mainan ‘pedang-pedangan’ ini.

Bentuknya yang unik, serta khasiatnya yang baik untuk menyerap radikal bebas, sansevieria juga dikenal memiliki serat yang kuat. Beberapa negara sudah mengembangkan industri tekstilnya dengan berbahan dasar tanaman ini. Selain sebagai bahan dasar produk tekstil, di Amerika, sansevieria akrab dengan tentara. Serat sansevieria yang kuat sering dimanfaatkan oleh tentara untuk menarik tank yang terjebak di lautan pasir.

“Menurut literatur yang pernah saya baca, tanaman ini sering dirangkai dan menjadi tali. Rangkaian sansevieria ini konon sangat kuat, bahkan bila dibandingkan dengan tali tambang sekalipun,” kata Syaichul Anam, Kolektor yang juga pemilik Gallery Black Gold Sansevieria Collection di Sidoarjo, Jatim. Continue reading Bolpho Pyllom