Category Archives: Tanaman Hias

Keindahan Bunga Lampion di Bandung

Kombinasi Seru Merah dan Putih

Saat mekar, permukaan bunga tidak menghadap ke atas, tapi menunduk dan menggantung, membuatnya layak mendapatkan gelar bunga lampion.

Namanya jelas mengingatkan kita dengan pesta malam hari yang dihiasi oleh lampu yang menggantung dan terbungkus kertas. Kesan yang sama juga muncul saat melihat pertama kali bunga lampion yang tumbuh menggantung dan mempunyai bakal bunga berbentuk bulat ini.
Pemberian nama bunga sesuai dengan karakter memang banyak dilakukan, seperti bunga terompet yang bentuknya mirip dengan alat musik tiup. Kemudian ada juga bunga matahari yang mempunyai struktur besar dan berwarna kuning laiknya matahari. Ada juga bunga bangkai yang didasarkan punya bau busuk saat kelopak mekar.

Dari sini, akhirnya karakter bunga yang berwarna merah dan putih ini disebut sebagai bunga lampion. Lihat saja dari penempatan pot yang harus digantung, sudah menandakan bahwa bunga yang muncul akan menghadap ke bawah, sehingga posisi bunga akan terlihat menggantung bak lampion yang dipasang menggantung di teras rumah. Continue reading Keindahan Bunga Lampion di Bandung

Advertisements

Puring Anting Raja dan Kelabang

Unik di Bentuk Daun
Julukan daun sejuta warna, memang layak dipegang oleh puring. Sebab, tanaman yang berbatang keras ini punya kombinasi warna yang beragam, mulai dari hijau, merah, hitam, kuning jadi kombinasi semua warna yang ada. Selain warna, bentuk daun juga jadi daya tarik sendiri bagi tanaman yang sebelumnya dikenal sebagai bunga kuburan ini.
Puring termasuk dalam keluarga Euphorbiaceae yang mempunyai struktur berbatang keras, berdaun tebal, dan mempunyai warna beragam antara daun tua dan muda. Bentuknya mudah dijumpai, dengan ciri khas dari batang yang berwarna coklat dan warna yang tak merata di permukaan daun.

Puring sendiri memang di Indonesia banyak dimanfaatkan untuk tanaman pagar maupun penghias kuburan. Tapi itu dulu, sekarang puring sudah naik kelas jadi tanaman hias yang mempunyai kapasitas cukup besar masuk di jajaran tanaman mahal. Terlebih, warna yang jadi simbol tanaman hias sudah dimiliki dan muncul di permukaan daunnya.

Selain warna, karakter daun puring juga menyimpan keindahan yang pantas dilirik, terutama dari luas permukaan daun. Selain itu, gerakan daun juga memberikan satu gambaran yang cukup menakjubkan, seperti jenis puring apel yang mempunyai gerakan daun membulat. Kemudian puring kura-kura yang mempunyai struktur daun berlekuk mirip tempurung kura-kura.
Kali ini Tabloid Gallery akan memberikan alternatif jenis puring yang mempunyai gerakan daun menarik dan ekstrim, dimana bentuk daun mempunyai bagian lain yang menggantung dan di ujung gantungan muncul permukaan daun baru dengan bentuk membulat. Ada dua jenis spesies puring yang mempunyai karakter serupa – tapi tak sama – yaitu puring anting raja dan puring kelabang.

Puring Anting Raja
Nama anting raja diambil, karena struktur tanamannya mempunyai daun yang terputus dan mengeluarkan juntaian dengan ujung yang membentuk daun. Sepintas, memang mirip dengan anting yang menggantung di telinga. Sedang nama raja diambil berdasarkan munculnya karakter warna yang sangat beragam. Continue reading Puring Anting Raja dan Kelabang

Kaktus Ekor Tupai

Dataran Tinggi dan Rendah Tak Masalah

Ekor binatang lincah bernama tupai, rupanya jadi inspirasi nama untuk jenis tanaman kaktus. Tampilannya yang menjuntai bak ekor berpadu cantik dengan duri halus serupa bulu tupai. Tanaman gurun pasir ini cukup dapat dimiliki hanya dengan merogoh kocek sebanyak Rp 25 ribu. Cukup murah bukan?

Pesona kaktus tak hanya dikenal sebagai tanaman gurun. Predikat tanaman hias jadi alternatif interior hunian. Tampil dengan corak warna, pola, dan bentuk beragam inilah yang jadi sutu daya tarik. Bahkan tanaman yang seluruh bagiannya ditumbuhi duri ini, merupakan jenis tanaman yang familiar alias mudah dijumpai.
Hampir di setiap daerah, baik di Tanah Air ataupun mancanegara, tanaman ini selalu meramaikan dunia tanaman hias. Tak heran, jika tanaman kaktus ini memiliki jenis beragam, seperti kaktus ekor tupai ini.
Pesona si Tupai
Masing-masing tanaman kaktus memiliki keunikan berbeda, dimana setiap keunikan ini mampu menarik perhatian dan membangkitkan hasrat untuk memiliki. Ada yang unik di bagian corak warna, bentuk ataupun pola duri yang mendominasi. Bagaimana jika ketiga kategori unik ini saling berkolaborasi? Pastinya, pesonanya makin berkarakter. Seperti yang dimiliki kaktus ekor tupai ini.
Warna hijau sebagai latarnya berpadu cantik dengan tekstur duri yang menempel di bagian batang. Beralih ke bagian daun yang membentuk pola unik, serupa kulit kerang. Hanya daun kaktus tak sama dengan daun tanaman kebanyakan, yaitu teksturnya lebih tebal dengan warna hijau lebih muda dari batang, tapi tak ditumbuhi duri.
Hanya kelebihan daun tebalnya ini tak diimbangi dengan daya kuat. Sebab, struktur daun kaktus ekor tupai ini cenderung rentan patah atau lepas dari batang dan ini sering terjadi di daun tua. Berbeda halnya dengan struktur batang kaktus yang tergolong keras. Selain itu, batang kaktus merupakan bagian yang paling mudah mengalami pertumbuhan maksimal. Bukan tak mungkin, pertumbuhan batangnya bisa mencapai 1 meter.
“Batangnya tumbuh dengan pola menjuntai ke bawah. Itu sebabnya, kaktus ini dijuluki ekor tupai, karena memang bentuknya mirip,” kata Pebisnis Tanaman Hias di Kediri Jawa Timur (Jatim), Hari Sukoco.
Masih ada pesona bunga yang tumbuh di pucuk ujung batangnya. Tumbuhnya bunga kecil dengan kombinasi warna merah cerah dan muda, menjadikan tanaman ini terlihat lebih manis dan berpadu hijau batang yang segar. Namun butuh waktu lama untuk menunggu munculnya daun ini, yaitu antara 5-6 bulan.
Sedangkan untuk bunga yang sudah muncul, bisa bertahan hingga 1-2 bulan. Munculnya bunga pada kaktus ekor tupai ini tak mengenal musim, bergantung pada pertumbuhannya, dimana pertumbuhannya didasarkan pada perawatan sehari-hari.
Media Stabil
Sifatnya universal, karena proses adaptasi dan perawatan yang mudah untuk kaktus. Tumbuh di dataran rendah oke, di dataran tinggi pun tak masalah. Mengingat, kaktus merupakan jenis tanaman gurun, tentu media yang digunakan harus kering atau tidak terlalu lembab.
Perawatannya mudah diterapkan. Media tanamnya menggunakan pasir malang dan pupuk kandang, dengan perbandingan 1:1. Sifat media yang porous (berongga) sebagai alternatif untuk memperlancar drainase ataupun aerasi. Tentunya, akan berdampak pada pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Penyiraman jangan dilakukan sesering mungkin dan jangan biarkan bagian akar tergenang air. Sebab, kelembaban tinggi akan menyebabkan tanaman tumbuh tidak optimal. Kerusakan bagian akar tanaman mudah berpeluang terjadi. Kemudian kebusukan akan merembet ke bagian batang tanaman.
Jika hal ini sampai terjadi, besar kemungkinan tanaman akan mati, sehingga untuk menghindari hal ini, penempatan kaktus harus diperhatikan, yaitu menempatkan di tempat yang kering dengan tingkat kelembaban rendah. Pasalnya, pada media dengan kelembaban tinggi, mikro-organisme akan mudah muncul. Tentunya, akan mengganggu pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.

“Sebenarnya, kaktus bukan jenis tanaman yang rumit dalam hal perawatan. Memperhatikan media dan unsur yang dibutuhkan tanaman saja, sudah cukup,” imbuh Hari.

Tanaman Universal
Karena perawatan mudah dan termasuk salah satu jenis tanaman yang mudah dijumpai di berbagai daerah, membuat kaktus dapat tempat sendiri. Di balik pesonanya yang menawan, harganya relatif terjangkau, sehingga tanaman ini patut dipilih. Harganya bervariasi, antara 5-50 ribu.
Itu bergantung pada jenis dan tampilan yang ditampilkan. Semakin unik tampilannya, tentu akan makin mahal harga yang ditawarkan. Kecantikannya dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mempermanis huniannya. Bahkan tak sedikit juga yang menggunakan kaktus untuk alternatif bingkisan ataupun kado, baik untuk rekan, saudara ataupun keluarga, sehingga bukan tak mungkin pesona kaktus berpeluang dijadikan prospek usaha yang menjanjikan. [santi]
Sejarah Kaktus
Bila merujuk pada sejarah, kaktus telah tumbuh sekitar 100 juta tahun lalu. Dulu, kaktus punya bentuk tubuh tinggi. Lalu sekitar 60 juta tahun kemudian, kaktus dinyatakan punah. Itu terjadi akibat letusan gunung berapi yang ikut menenggelamkan Benua Amerika yang notabene tempatnya bertumbuh.
Usai kegiatan vulkanik gunung berapi itu berhenti, kaktus kembali tumbuh. Namun kaktus generasi ‘anyar’ ini tumbuh dengan bentuk yang lebih pendek dari moyangnya tadi. Kaktus bentuk pendek itulah yang sering kita jumpai di masa kini. Umumnya, kaktus datang dari dataran tandus, seperti Amerika Selatan dan Meksiko.
Daerah-daerah itu punya curah hujan rendah, dengan frekuensi yang tak tentu. Perubahan suhu yang ada pun sangat ekstrem. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kaktus itu berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, Kanada Utara sampai ke Kepulauan Galapagos, di Pasifik dan Kepulauan tropis di India Timur dan Karibia.
Wilayah hidup kaktus amat beragam, dari daerah pantai yang mengarah ke laut, hutan belantara sampai ke gunung berbalut es macam Pegunungan Andes. Jadi, bukan hal aneh bila bertemu kaktus di ketinggian 3000 – 4000 m dpl. Dari kenyataan tadi, bisa dibilang kaktus termasuk tanaman yang mampu bertahan di segala medan. Kaktus mudah melakukan penyesuaian dan bentuk-bentuk adaptasi di tubuhnya. [santi]

Klasifikasi Kaktus Ekor Tupai
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Sub Kingdom : Tracheobionta (Berpembuluh)
Super divisio : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (Berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (Berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas : Hamamelidae
Ordo : Carysphyllales
Familia : Cactaceae (Suku kaktus-kaktusan)
Genus : Opuntia
Spesies : Opuntia Linguiformis Griffiths (plantamor.com)

Rosela Merah

Sehat dengan Budidaya Sendiri

Tanaman ini memiliki warna menarik. Konon, buahnya berkhasiat sembuhkan penyakit. Sebut saja, penyakit langganan ketika usia senja, seperti diabetes dan hipertensi.

Sehat itu mahal. Sadar atau tidak, aneka polutan dan radikal bebas yang hidup dengan kita setiap hari, gaya hidup asal-asalan, dan kemudahan hidup yang dijamin teknologi, membuat sehat itu jadi hal langka. Namun jangan khawatir – karena sebagai penyeimbang – kini masyarakat mulai menerapkan hidup sehat, seperti minum jamu. Herbal yang dikemas jadi minuman terbukti secara pengalaman mampu mengurangi resiko ancaman penyakit.
Tak hanya di Indonesia, di Jepang masyarakatnya juga mengemas herbal jadi minuman segar, yaitu kebiasaan minum teh. Rasanya pahit dan warna teh hijaunya segar, seakan memberi nunsa sendiri bagi perlindungan diri terhadap penyakit. Tak selamanya teh yang menyehatkan itu berwarna hijau, karena minuman yang biasa disajikan dengan hangat atau dingin ini ada juga yang berwarna merah. Konon, ia memiliki peran herbal.
Teh merah. Begitu orang biasa menyebut teh yang sebenarnya bukan berasal dari daun teh ini. Pertama kali diperkenalkan di Indonesia tanaman ini sempat heboh. Dan percaya atau tidak, tanaman ini sudah lama dikenal dunia, maka jangan heran jika rosela merah memiliki banyak nama di beberapa negara.
Jamaican sorrel adalah sebutan yang diberikan oleh masyarakan India, oseille rouge disebut orang Perancis, quimbombo chino di Spanyol, karkade di Afrika Utara, dan bisap di Senegal. Di Indonesia, rosela merah tak hanya dikenal sebagai bahan herbal, tapi juga bahan pembuat makanan dan minuman. Beberapa orang sudah mengolah tanaman ini sebagai manisan dan beberapa lagi mengolahnya jadi sirup siap minum.
Ia berdaun dan bisa memiliki tinggi hingga 2 meter (batang). Buahnya mirip dengan bentuk kuncup bunga dan berwarna merah, sehingga ia dijuluki rosela merah. Uniknya, buah yang digunakan sebagai ekstrak dan olahan datang dari kulitnya. Sedangkan isinya, selain ditanam kembali, tak bisa jadi bahan makanan atau minuman. Budidayanya mudah dan perawatannya tak begitu sulit, membuat tanaman ini cepat berkembang, tak terkecuali di Indonesia.

“Pada dasarnya, menanam rosela merah mudah, seperti kita menanam pohon.

Hanya perlu diperhatikan, hasil yang maksimal dan mencegah kerontokan sampai kematian, sebaiknya tanah yang digunakan tak terlalu asam,” kata Petani Rosela Merah di Banjarbaru Kalimantan Selatan (Kalsel), Badrun. “Banyak dan mudahnya penanaman, membuatnya tak sulit mencari kebun dan hasil olahan tanaman ini,” lanjutnya.
Budidaya Rosela Merah Sendiri
Tak hanya khasiatnya yang bermanfaat bagi tubuh, bentuknya yang unik dalam balutan warna merah segar, membuat siapa saja tak bosan melihat tanaman berbuah ini, sehingga tak jarang rosella merah sengaja ditaruh di beberapa bagian depan rumah yang fungsinya sebagai tanaman hias.
Menurut Badrun, pada dasarnya memulai menanam tanaman ini tidaklah membutuhkan persiapan khusus. Hanya persiapan biasa yang dilakukan sesuai dengan dimana tujuan kita akan menanam tanaman ini.
I. Menanam di Pot
Warna buah merah merona di tengah tumbuh daun yang hijau dan terlihat segar jika terawat dengan baik, membuat tanaman ini kian cantik untuk dijadikan tanaman hias. Tak hanya di luar ruangan, dalam ruangan pun tanaman ini siap memperindah suasana lingkungan sekitar.
Menurut Badrun, beberapa tahapan yang harus dipersiapkan, yaitu pemilihan pot, penyiraman, penggunaan media tanam, dan pemupukan, terutama jika Anda ingin tanaman rajin berbuah. Lebar pot biasanya menyesuaikan dan sesuai dengan selera. Hanya seperti tanaman hias lain, bagian kedalaman guna tumbuh-kembang akar perlu diperhatikan. Pot yang digunakan umumnya menyesuaikan panjang akar.
Penyiraman dilakukan seperlunya. Dalam hal ini penyiraman dilakukan untuk menjaga kelembaban dan menghindari dehidrasi media tanam, sehingga pendistribusian nutrisi seluruh bagian tanaman dilakukan dengan baik dan lancar. Laiknya sebuah tanaman hias, pemupukan sesering mungkin harus dilakukan. Selain menjamin nutrisi makanan tanaman, kebutuhan unsur tertentu membuat beberapa bagian akan terlihat tumbuh dengan maksimal.
Buah misalnya, bagian ini biasanya bisa dirangsang dengan penggunaan pupuk dengan kandungan Kaliun dan Pospor tinggi, disamping kandungan Nitrogen yang tetap ada, meski jumlahnya kecil. Jika Anda kesusahan menanam sejak kecil tanaman ini – sebagai alternative – Anda bisa mencarinya di beberapa nurseri setempat. Mudahnya penanaman, membuat tanaman ini mudah dijumpai dengan harga bervariasi. Umumnya, dalam satu pohon rosela merah dijual dengan harga sekitar Rp 30 ribu.
II. Menanam di Kebun
Selain bisa membeli bibit yang sudah remaja (sudah jadi pohon), Anda pun bisa mempersiapkan bibitan sendiri. Bagaimana cara mempersiapkannya, berikut uraian Badrun yang sudah malang-melintang menanam tanaman ini di tanah asam Kalsel.
“Setelah buah masak, di dalamnya sering ada biji. Jika sudah tua, bagian ini akan berwarna kecoklatan (jika masih muda berwarna hijau). Perbedaan warna ini yang pada akhirnya menentukan siap-tidaknya biji untuk ditanam. Sebab jika masih muda, bibit akan susah berkembang,” ungkap Badrun.
Setelah lahan dipersiapkan, dibuatlah lubang-lubang untuk tempat menanam. Untuk menjamin pembagian nutrisi yang baik dan seimbang, usahakan untuk memberi jarak sekitar 1 meter di bagian kanan, kiri, depan, dan belakang tanaman. Jarak ini adalah jarak ideal untuk menanam rosela merah.
Umumnya, dalam satu lubang cukup ditanami tanaman 2-3. Hal ini bisa berakibat pada masalah percabangan yang sedikit. Untuk menurunkan kadar keasaman tanah, biasanya digunakan kapur secukupnya dengan media tanah dan pupuk kandang sesuai dengan kebutuhan. Setelah berusia 2-3 bulan, tanaman mulai berbunga dan panen berlangsung saat berumur 5-6 bulan.
Panen rosela merah dilakukan secara bertahap, mulai dari bunga yang sudah tua selama dua minggu. Lebih jauh, Badrun menambahkan, rosela merah bisa ditanam di musim kemarau, asalkan pengairannya lancer. Misalnya, di sawah. Berdasar pengalamannya, rosela merah yang ditanam di pekarangan di musim kemarau, bunganya tak bagus dan batangnya kecil, meski dialiri air. Tanaman ini juga tak mau tumbuh, jika suhu lingkungan melebihi dari 230C. [adi]

Teratai

Kedamaian dari Bunga Air

Teratai yang dikenal juga sebagai bunga air memang menawarkan banyak keindahan. Selain dari aneka warna yang dimilikinya, air yang digunakan sebagai media hidupnya punya fungsi sebagai penenang jiwa. Jadi cocok diletakkan di teras rumah, baik dalam kolam atau pot besar.

Bunga teratai mempunyai beberapa nama, diantaranya padma, seroia, terate, tarate, dan taratai besar. Sedangkan nama latin tumbuhan air ini berasal dari familia Nymphaeaceae yang mempunyai spsies berbeda, tergantung dari warna bunga. Namun secara keseluruhan fisiologis, tanaman air ini tak jauh berbeda.
Bunganya mempunyai aroma harum. Tumbuh luruh di permukaan air dengan daun yang melebar sejajar dengan air. Panjang tangkai tergantung dari kedalaman air, mulai dari 10 – 200 cm berbentuk bulat panjang. Diametar bunga tergantung dari jenis, mulai 10 cm –20 cm. Benangsari yang berwarna kuning akan terlihat memenuhi bagian kelopak yang mempunyai warna beragam, mulai dari ungu, merah, dan putih.
Bila sebelumnya kita banyak berbicara tentang tanaman dalam pot dengan media pakis, maka kali ini tanaman air akan memberikan satu pilihan baru yang menarik. Sebab, selain dari segi estetika yang bagus antara warna bunga dan daun lebar, teratai juga mampu memberikan aura positif bagi pemiliknya.
Unsur air yang diletakkan di depan rumah secara kesehatan akan menyerap debu, sehingga tak masuk ke dalam rumah. Dari bentuk bunga akan memberikan satu nuansa baru untuk menambah dekorasi taman, terutama saat tanaman berbunga warna yang keluar cukup menarik, apalagi bila dipadu dari warna yang berbeda.
Pedagang Bunga Teratai di Cihideung Bandung, Dedi, mengatakan tanaman teratai mudah dirawat. Apalagi di daerah yang mempunyai suhu panas seperti kota besar, bunga akan lebih cepat mekar. Itu disebabkan oleh karakter bunga teratai yang suka dengan suhu hangat, meski menggunakan air sebagai media.
“Yang penting tanah subur dan air bersih, teratai pasti tumbuh subur,” tandas Dedi.
Terpenting adalah tempat menanam teratai – dimana ada dua pilihan, yaitu dalam kolam maupun pot. Untuk dalam pot, Dedi menyarankan untuk menggunakan pot mangkok minimal mempunyai diamater 50 cm. Ini dilakukan untuk memberikan ruang gerak bagi akar dan daun teratai yang punya diameter besar.
Menghasilkan Bunga
Untuk menghasilkan bunga, setidaknya ada 2-3 daun yang tumbuh. Nah, bila satu daun setidaknya 10 cm, maka luas pot berdiameter 50 cm sudah cukup ideal untuk pertumbuhan. Namun untuk jenis teratai yang mempunyai karakter daun lebar, tentu pot juga harus menyesuaikan. Meski secara alami tanaman akan menyesuaikan dengan ukuran pot, tetap sebaiknya memberikan tempat lebih besar.
Media yang digunakan didominasi oleh tanah atau lumpur yang biasanya kita lihat di sawah. Berikan sedikit pasir dan letakkan langsung di bawah pot dan masukkan air hingga penuh. Tunggu sampai air jernih, baru masukkan teratai yang baru dibeli ke dalamnya. Jangan lupa untuk memberikan pupuk NPK sesuai dengan takaran. Lebih mudah bila menggunakan bentuk butiran, seperti pupuk mutiara.
Untuk pergantian air untungnya tak perlu diganti, hanya ditambah bila permukaan sudah kering. Air yang digunakan jangan mengandung klorin, seperti air ledeng. Lebih baik menggunakan air sumur. Akan lebih baik bila lokasi pot teratai ada di tempat terbuka yang terkena sinar matahari langsung. Khusus di lokasi ini pemilik harus melakukan penyiraman dengan menyemprotkan air di bagian tanaman saat siang hari.
“Di siang hari, air pasti akan hangat dan harus didinginkan pake semprotan air. Bila suhu terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan, bahkan bisa membuat teratai mati,” ujar Dedi.
Untuk penempatan dalam kolam akan lebih mudah, terutama untuk kolam yang mempunyai sirkulasi air cukup baik. Penempatan teratai bisa di semua bagian kolam, asalkan diberikan proporsi yang sesuai. Pemberian ikan cukup dianjurkan, karena akan menambah keindahan kolam maupun pot. Alternatif bisa menggunakan jenis guppy atau jenis ikan kecil lainnya.
Perbanyakan Mudah
Perbanyakan teratai sangat mudah, yaitu bisa dengan biji dari bunga, daun, dan anakan. Di bunga teratainya – akan berbunga setiap 3-4 hari, dari pagi sampai sore hari. Setelah layu, mahkota bunga mulai rontok dan menyisakan dasar bunga yang jadi bakal buah. Bentuknya unik, seperti piramida terbalik dengan biji yang muncul antara 5-30 biji. Begitu kering, biji bisa diambil dan disemai.
Pada perbanyakan anakan, caranya sama dengan tanaman lainnya, dimana bila indukan sudah mengeluarkan tunas baru, maka bagian ini akan dipotong. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam pot baru untuk tumbuh dengan sendiri. Perbanyakan dengan daun caranya mudah, yaitu ambil daun yang sudah dewasa, potong tangkai dengan menyisakan 3-4 cm.
Selanjutnya, potong melingkar di permukaan daun dengan pusat di ujung tangkai daun diametar sekitar 5 cm. Di tengah daun yang juga ujung tangkai akan terlihat satu benjolan yang nantinya akan tumbuh. Setelah itu masukkan dalam media tanam yang basah, dimana bagian tangkai masuk ke dalam tanah.
Tetap Butuh Pupuk
Untuk perawatan memang membutuhkan langkah sendiri, karena media yang digunakan adalah air dan tanah. Di situ, kebutuhan unsur NPK tetap diperlukan sesuai dengan fungsinya. Namun cara pemberian jelas berbeda. Untuk vitamin seperti hanya B1 bisa diaplikasikan, terutama untuk lokasi di dalam pot yang tak terjadi pertukaran air. Dosisnya menyesuaikan dengan takaran, hanya volume yang dimasukkan berbeda di setiap pot.
“Untuk ukuran pot 50 cm bisa diisi 200-300 ml. Di situ makin besar pot, volume harus diperbanyak,” tandas Dedi.
Khusus pemberian NPK dengan serbuk bisa dilakukan dan untuk menghindari overdosis sebaiknya dilarutkan dulu seperti pemberian vitamin, termasuk volume yang diberikan. Lebih mudah memang menggunakan slow release, dimana untuk satu pot satu sendok makan sudah cukup untuk kebutuhan 2-3 minggu. [wo2k]
Ragam Warna Teratai
Warna jadi kekuatan utama tanaman ini, selain bentuk kelopak yang sangat eksotis. Dari situ, pemilik bisa menggabungkan 3-4 warna dalam satu pot atau kolam yang akan memunculkan warna berbeda dalam satu lokasi. Berikut beberapa jenis warna teratai dan karakternya:
Teratai Biru
Diyakini berasal dari Kalimantan yang juga disebut sebagai seroja biru dengan nama latin Nymphaea stellata. Bunganya berwarna biru muda, struktur kecil, dengan kelopak berbentuk bintang. Bagian daun oval sampai bundar dan tepinya berombak, bergerigi dengan warna keunguan di belakang daun.
Teratai Putih Jawa
Jenis ini paling populer, dimana kelopak berwarna putih dengan paduan benangsari yang memberikan gradasi kuning. Dengan nama latin Nymphaea pubescens punya bentuk kelopak menyerupai bintang. Warna daun berwarna hijau, sementara bagian bawah keunguan. Dari namanya, jelas teratai jenis ini berkembang awalnya di pulau Jawa
Teratai Putih Hutan
Bentuk bunga menyerupai bintang dengan tepi daun bergerigi. Mahkota bunga berwarna putih, benangsari dan kelopak berwarna kuning. Berbunga di malam hari dengan nama latin Nymphaea nouchali atau tanjung putih.
Teratai Silangan
Jenis yang diambil dari persilangan warna bunga, yaitu warna bunga gradasi merah muda ke ungu, dengan benang sari orange kemerahan. Beberapa janis lainnya chromatella, bunga berwarna kuning, bentuk bunga mirip mangkuk. [wo2k]

Klasifikasi
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas : Magnoliidae
Ordo : Nymphaeales
Familia : Nymphaeaceae
Genus : Nymphaea
Spesies : Nymphaea nouchali Brum F, Nymphaea alba L. (teratai putih), Nymphaea lotus (teratai kecil), Nymphaea rubra (teratai merah). plantamor.com

Nepenthes

Agar Tak Terancam Punah
Sungguh sial nasib tanaman ini. Sudah tak bisa tumbuh di sembarang tempat, eksplorasi hutan besar-besaran, dan penjarahan tanaman jenis ini oleh masyarakat – karena permintaan yang tinggi – membuatnya terancam punah. Nephentes atau kantong semar. Begitu tanaman ini biasa disebut orang. Jika dilihat dari bentuknya, mungkin kita paham mengapa jenis ini disebut sebagai kantong semar. Dari ujung daun, keluar bagian yang menyerupai kantong beserta tutupnya. Sedangkan nama semar, mungkin bentuk kantongnya yang membulat seakan mengingatkan kita pada sosok pewayangan fenomenal, Semar. Tak hanya lucunya kantong yang keluar di ujung daun, warna-warni yang keluar juga membuat tanaman ini kian populer di kalangan pecinta tanaman hias unik. Selain hijau dan merah, warna gelap tak jarang keluar dari kantong yang ukurannya bervariasi antara sebesar ujung kelingking sampai sebesar botol minuman soda ukuran 1,5 liter. Selain bentuk kantong dan warna, tanaman ini juga memiliki keindahan lain, membuat tanaman ini patut jadi incaran untuk dikoleksi. Sebut saja duri yang muncul secara bermotif di beberapa bagian kantong. Beberapa bagian bahkan ada di langit-langit tutup kantong, sehingga tak ubahnya kita melihat sebuah sosok binatang buas bertaring. Namun dari beberapa keistimewaan tanaman ini – satu hal yang pasti – legenda tanaman ini yang terkenal pemakan daging, mungkin yang membuat nama kantong semar sangat fenomenal. Sayangnya, keunikan dan eksotik kantong semar mesti terbayar dengan rusaknya habitat asli di alam.

“Permintaan yang tinggi akan tanaman ini, membuat masyarakat sekitar berbondong menjarah tanaman ini dari hutan, tanpa berpikir dampak yang diakibatkan. Hasilnya, jumlah kantong semar di hutan menurun drastis dan rusaknya habitat di alam,” kata Petani Nepenthes di Banjarbaru Kalimantan Selatan (Kalsel), Sumarno.

Meski begitu, menurut Sumarno, kini masyarakat kian sadar – dengan mulai menanam tanaman ini dan membudidaya, agar jumlahnya tetap terjaga. Terbukti, di beberapa tempat nepenthes sangat mudah ditemui, seperti di Bogor dan Malang. Bahkan jauh lebih menguntungkan, menanam sendiri kantong semar rupanya memiliki banyak keistimewaan. Dari segi harga dan kualitas tanaman, cara ini dianggap lebih menjanjikan. Kenapa Kantong Semar Mati Setelah Dibawa Pulang? Ada beberapa trik yang sering digunakan jika Anda ingin membawa pulang salah satu jenis tanaman endemik ini. Mulai dari pembelian macam tanaman sampai perawatan adalah beberapa hal yang patut dicermati. Jika tidak, pertanyaan – “Mengapa kantong semar saya mati setelah dibawa ke rumah.” – akan senantiasa mengganggu Anda. Sumarno mengatakan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh penggemar nephentes untuk memindahkan habitat aslinya di hutan ke rumah, yaitu jenis nephentes, proses perawatan, dan media tanam yang cocok untuk tanaman ini. “Jika hal itu dilakukan, dimana pun Anda berada, tanaman ini akan hidup dan keluar kantong seperti di habitat aslinya di hutan tropis,” imbuh Sumarno. Pemilihan tanaman sering tak diperhitungkan bagi siapa saja yang ingin membawa pulang tanaman ini. Terlebih jika ada tanaman dengan harga yang lebih murah. Di pulau Kalimantan misalnya. Di beberapa pasar tradisionalnya, nephentes sering dijual dengan harga super mura, yaitu antara Rp 5 – Rp 10 ribu. Dan lebihnya lagi, biasanya barang yang ditawarkan pun sering beragam dengan warna-warni dan jenis yang klasik dan langka. Tapi jangan salah, harga yang murah rupanya tak bisa menjamin keindahan tanaman begitu sudah keluar pulau. Sebab, selain ada petugas yang siap menyita barang Anda, kondisi alam yang berbeda dan didukung adaptasi yang kurang baik dari hasil mencabut di hutan, membuat tanaman tak akan hidup lebih lama. “Biasanya tak sedikit pedagang di pulau Kalimantan yang mengambil langsung nephentes dari hutan, tanpa didahului proses budidaya. Itu sangat berpengaruh, karena proses adaptasi tanaman yang tak dibudidaya sangat sulit, bahkan sering mengalami kegagalan pertumbuhan alias mati ketika dibawa ke luar pulau Kalimantan,” ungkap Sumarno.

Selain itu, jika Anda mengambil dan membawa pulang nephentes dari hutan Kalimantan, bisa jadi Anda akan terjerat dalam hukum perlindungan tanaman langka. Sebagaimana disebutkan dalam peraturan pemerintah No.7 tahun 1999, dimana kantong semar atau nephentes masuk dalam daftar tanaman langka yang dilindungi.

Setelah mendapat nephenthes yang sudah cukup bisa diadaptasi alias nephentes budidaya, baru Anda boleh berpikir proses perawatan. Pada dasarnya, perawatan yang diperlukan sangat mudah. Kita hanya harus bisa mengetahui karakteristik tanaman ini, sebagaimana tempat awal dia tinggal. “Biasanya, tanaman ini senang dengan kelembaban tinggi. Selain itu, nephentes juga tidak suka dehidrasi, sehingga pentingnya menjaga media tanam tetap basah adalah kunci utama,” ujar Sumarno. Bagaimana untuk mendapatkan hal tersebut? Menurut pengalaman Sumarno, penambahan media lumut (sebagaimana habitat aslinya) adalah cara tepat. Lumut yang terpelihara dengan baik umumnya mampu membuat lingkungan jadi lembab. Dan, hal itu yang paling disukai nephentes. Lumut biasanya digunakan sebagai medita tanam pelengkap yang biasanya ditumpuk di bagian atas setelah tanah. Uniknya, keberadaan lumut sangat berpengaruh pada nepenthes. Itu yang akhirnya sering dijadikan indikasi media tanam baik atau kurang – bahkan buruk – terutama untuk nephentes. “Biasanya untuk membuat tanaman tetap hidup, indikasinya lumut yang digunakan tersebut media tanamnya harus selalu hijau (masih hidup). Caranya, dengan sering menyiramnya,” terang Sumarno. Jika lumut sudah mati atau berwarna coklat, untuk menyelamatkan nephentes sebaiknya lumut segera diganti. Seperti CD orisinil dan bajakan, tak jarang pautan harga antara nephentes yang diambil dari hutan dan hasil budidaya sangat berbeda jauh. Bayangkan, untuk mereka yang mengambil dari hutan harga antara Rp 5 – Rp 10 ribu. Sedangkan setelah dibudidaya, tanaman ini minimal dihargai Rp 50 ribu. [adi]

Rafflesiana dan Bicalcarrata

Nepenthes yang Mudah Dipelihara
Kantongnya bisa membunuh serangga, bahkan tikus. Orang biasa menyebutnya nepenthes atau kantong semar. Saat ini di Tanah Air, ia mudah dijumpai di pulau Kalimantan, Papua, Bogor, dan Malang. Namun dari sekian banyak jenis nepenthes, hanya beberapa jenis yang mudah dan familiar di-budidaya di Indonesia. Mau tahu?
Bentuknya unik, karena daunnya menggantung dan memiliki kantong. Untuk itulah, tanaman ini biasa disebut sebagai tanaman kantong semar. Ia juga terkenal sebagai tanaman karnivora (karena memakan serangga), tapi keindahan tanaman ini membuat sifat sangarnya kian hilang berubah jadi senang.
Nephentes atau kantong semar merupakan satu diantara banyak tanaman yang hanya bisa tumbuh dan berkembang di daerah habitatnya. Di Indonesia sendiri, habitat asli nepenthes adalah di pulau Kalimantan dan Papua. Maka tak jarang, tanaman ini biasa disebut dengan sebutan epidemik atau tempat hidupnya hanya di satu daerah.
Kolektor dan Pembudidaya Nepenthes di Bogor, Abdul Kadir, mengatakan kalau faktor cuaca, alam, suhu, kelembaban, dan keasaman tanah jadi faktor mengapa tanaman ini susah berkembang di daerah lain. Namun bukan tanpa celah, bila kita men-setting lingkungan sesuai dengan keadaan habitatnya, maka tanaman ini pun bisa hidup dengan normal dan baik.
“Kantong semar kini juga kian memasyarakat, karena tanaman ini mulai bisa beradaptasi pada lingkungan apapun. Biasanya tanaman ini hanya bisa tumbuh di daerah asal (Kalimantan dan hutan hujan lain, red). Tapi, karena kebiasaan pecinta tanaman ini membawa ke daerah lain seperti Bogor, membuat tanaman ini beradaptasi dengan baik, bahkan dalam hal pertumbuhan di lingkungan yang berbeda,” ujar Abdul.
Maka jangan heran, kini kantong semar banyak dijumpai di beberapa daerah. Bahkan di daerah dataran rendah, seperti Jakarta dan Semarang. Banyaknya varian yang mudah beradaptasi, sepertinya tak cukup bagi kantong semar untuk siap meroket. Aneka warna dan bentuk yang unik, disebut-sebut faktor di balik popularitas kantong semar.
Banyaknya varian nepenthes, membuatnya kian diminati. Terlebih untuk saat ini, tanaman hias bak kebutuhan yang selalu dicari orang. Tak hanya bentuk kantong, tanaman yang biasa ditemukan di beberapa sudut hutan hujan ini sekarang sudah bermain warna. Beberapa jenis warna mulai dari yang gelap hingga cerah, seakan jadi formula sendiri bagi tanaman ini untuk menghipnotis setiap orang.
Beberapa jenis kantong semar di Indonesia yang kini namanya mulai disebut-sebut pecinta nepenthes dan tentunya mudah di-budidaya, antara lain jenis mirabilis, bicalcarata, rafflesiana, dan masih banyak lagi.
“Dengan warna mencolok dan bentuk kantong unik, beberapa jenis tersebut dari catatan kami dalam tiga bulan terakhir, kini kian dicari orang untuk dikoleksi,” imbuh Abdul.
Rafflesiana si Kantong Terompet
Jenis satu ini memiki bentuk serba besar. Tak hanya kantong dan daunnya, batang yang merambat sampai ke atas bisa sampai belasan meter, tergantung dari media rambatnya. Bahkan jika dibiarkan merambat, jenis ini tak ubahnya pohon besar dengan ranting yang banyak. Jenis ini memiliki aneka variasi warna. Tak hanya hijau, pada jenis ini juga sering dijumpai warna merah dan putih.
“Jenis ini biasanya namanya dibedakan jadi dua, yaitu refflesiana merah dan rafflesiana putih,” tandas Abdul.
Umumnya, saat usia kecil dan remaja, warna merah atau putih pada kantong belum terlihat dominan. Hanya warna hiau yang biasa menghias seluruh bagian kantong tanaman. Setelah beberapa bulan, biasanya bintik-bintik mulai muncul dan semakin tua usia kantong, maka makin dominan warna aslinya. Memiliki kantong berukuran agak besar (bila dibandingkan dengan ukuran kantong semar rata-rata), membuat tanaman ini memiliki identitas sendiri.
Tak hanya dari segi ukuran, kantong yang menggantung ini pun, kian tua bentuknya semakin unik. Jika dilihat sekilas, kantong dalam jenis ini menyerupai bentuk terompet, sehingga banyak orang biasa menjulukinya dengan sebutan kantong semar terompet. Keistimewaan jenis ini juga ada pada giliran tumbuh kantongnya. Semakin tinggi letak kantong, biasanya makin bagus bentuknya. Umumnya, kantong bawah akan cepat tua dan kering.
Bicalcarrata, Kantongnya Bertaring
Tipe satu ini lebih terlihat seram. Sebab, jenis ini bak drakula dengan taring yang keluar dari tutup kantong. Tak ubahnya hewan buas, sekilas tanaman ini tak ubahnya ular beracun yang siap mematok. Daunnya berwarna hijau dengan kombinasi dan gradasi warna merah dan gelap. Sekilas, jenis ini tak jauh beda dengan jenis kantong semar lain.
Jika di alam bebas, jenis ini biasa merambat dan mengisi setiap sudut yang ia lewati.
Bentuk kantongnya agak bulat simetris dan sebesar telur ayam, sehingga meski dilihat sekilas, tanaman ini mudah dikenali. Warna gelap dan tuanya sering ada di seluruh bagian kantong.
Meski begitu, hal paling mencolok pada jenis ini adalah taring yang muncul dari kantongnya. Besarnya taring, membuat kita bisa langusng melihatnya, meski hanya sekilas. Bak gigi hewan buas, ada dua buah taring yang menempel pada tutup atas kantong. Jika dibanding dengan ukuran kantongnya, bagian ini terlihat cukup panjang (sekitar 1 cm dan tinggi kantong + 5 cm).
Taring yang keluar juga terlihat di luar kantong alias menghias di beberapa bagian depan kantong. Sekilas, satuan taring ini mengingatkan kita pada gergaji yang memiliki banyak duri. Di balik itu, jenis bicalcarata masih memiliki warna eksotik. Biasanya, warna tersebut akan muncul jika kita membersihkan dan merawat kantong jenis ini dengan benar.
Selain itu, juga ada beberapa jenis nephentes lain yang memiliki keunikan pada warna dan bentuk. Sebut saja hotlips, ampularia, dan eutachya. Selain warna-warna cerah sebagai ciri, aneka bentuk yang berbeda satu dengan lain, membuat tanaman ini kian bervariasi. [hyo]
Mengenal Asal Muasal Nepenthes
Genus nepenthes (kantong semar, bahasa Inggris: tropical pitcher plant), termasuk dalam familia monotypic. Ia terdiri dari 80-100 spesies, baik yang alami maupun hibrida. Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis dunia lama. Kini meliputi negara Indonesia (55 spesies, 85%), Tiongkok bagian selatan, Malaysia, Filiphina, Madagaskar, Seychelles, Australia, Kaledonia Baru, India, dan Sri Lanka.
Habitat dengan spesies terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatera. Tapi sekitar 90% jenisnya atau variasi jenis paling banyak di dunia ada di pulau Kalimantan. Pertumbuhan tanaman ini bisa mencapai tinggi 15-20 m dengan cara memanjat tanaman lainnya.
Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam. [ary]